Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 86 Berangkat Bersama


__ADS_3

Irise berjalan masuk ke rumah dan menuju ke kamarnya. Dia kemudian berganti baju lalu duduk sebentar di tempat tidur dan bersandar ke dinding untuk meluruskan punggungnya yang sedikit kaku.


“Itu bajunya Edwin... berarti dia sudah pulang tadi dan sekarang keluar lagi.”celetuknya saat melihat seragam Edwin yang tergantung di gantungan baju yang ada di dekat lemari.


“Jadi dia sudah pulang dan keluar lagi...”gumamnya lalu tersenyum kecil.


Setelah merasa lelahnya hilang Irise keluar dari kamar. Dia duduk di ruang Tengah sekedar untuk menonton tayangan berita di televisi.


“srak...”Bibi masuk ke ruangan dan menyapu di dekat Irise.


“Bi... di mana tuan Edwin?”tanya Irise sambil menyilangkan kaki dan meminum secangkir teh dari meja.


“Tuan tadi pulang sebentar lalu keluar lagi, nona...”balas sang bibi.


“Dia bilang tidak keluar ke mana ?”tanya Irise lagi.


“Tidak nona... tuan tidak bilang ke mana dia pergi...”balas sang bibi.


Irise mengangguk dan tersenyum saja. Setelah selesai membersihkan ruangan itu sang bibi kembali ke belakang.


Sharp Eye duduk di samping Noah dan menatapnya.


“Kau ingin melihat sebuah tayangan tidak ?”tanya Sharp Eye pada Noah.


“Maksud mu tayangan tentang Edwin saat ini... ?”balas Noah menoleh ke samping kanan menatap elang itu.


Sharp Eye mengangguk membalas Noah. Sedangkan Noah tersenyum lebar dengan mata yang berkilat penasaran.


Sharp Eye kemudian menampilkan sebuah tayangan dan mereka berdua melihatnya bersama.

__ADS_1


Di sebuah sofa Edwin bangun dari tidurnya. Dia menatap ke sekeliling dan rumah itu masih tampak gosong seperti sebelumnya. Dia kemudian menatap jam dinding yang menunjukkan waktu sudah hampir malam.


Edwin duduk lalu mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan menghubungi nomor Lilia.


“Tuut....tuut...tuut...” suara panggilan telepon yang tidak tersambung.


“Hah... kemana Lilia... sama sekali tak ada kabar darinya. bahkan ponselnya tidak aktif sekarang.”gumam Edwin mengakhiri panggilannya.


Lelaki itu kemudian berdiri dan kembali menatap kesakitan sebelum melangkah kan kakinya.


“Apa saat ini dia sedang bersama dengan David... ? seharusnya dia bilang padaku jika sedang bersamanya jadi aku tidak perlu menunggu seperti ini...”ucap Edwin menebak.


Edwin melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah Lilia, namun dia malah berbalik dan menuju ke kamar Lilia.


“Aku malas pulang. Aku menginap di sini saja hari ini...”gumamnya duduk di tempat tidur nenek sambil menaruh tas yang dia bawa ke meja.


“Ck ck ck... malam ini kau kesepian seorang diri di sana... dan Ternyata kau lebih memilih sendirian daripada tidur dengan Irise...”ucap Noah saat melihat tayangan dan tersenyum lebar.


Sharp Eye pun segera mematikan tayangan tadi.


Malam hari, Irise merasa mengantuk setelah duduk lama di depan televisi menyaksikan berita terbaru. Dia pun masuk ke kamar untuk tidur.


Pagi hari di rumah Lilia. Gadis itu pulang ke rumah setelah dia keluar dari hotel meninggalkan David yang masih tidur pulas di kamar hotel.


Lilia memarkir mobilnya di depan rumah dan melihat mobil Edwin yang terparkir di sana.


“Edwin... jadi semalam dia menginap di sini...”gumam Lilia turun dari mobil menatap mobil Edwin.


Dia pun segera masuk ke rumah dan menuju ke kamarnya. Di sana dia melihat Edwin yang masih tertidur.

__ADS_1


Lilia duduk di samping lelaki itu kemudian mencium keningnya untuk membangunkannya.


“Lilia... kau sudah pulang ? Aku menunggu semalaman di sini...”ucap Edwin membuka mata kemudian duduk.


“Ahh... aku... aku...”Lilia merasa bersalah tak bisa menjelaskan apa yang terjadi semalam pada kekasihnya itu.


Edwin bergeser mendekat dan mencium aroma baju Lilia yang tercium aroma parfum lain yang kuat di sana. Untuk membuktikan kecurigaannya dia pun membuka baju Lilia.


“Jadi semalam kau tidak pulang kau memang bersama dengan lelaki tua itu ??”tanya Edwin saat melihat banyak kiss mark di dada Lilia.


Gadis itu segera menutup bajunya dan memegangnya dengan erat agar Edwin tak melihatnya kembali.


“Sayang....aku melakukan semua ini untukmu agar semua rencana kita berjalan lancar.”jelas Lilia pada Edwin sambil merangkul bahunya dari samping.


Edwin sebenarnya merasa kesal wanitanya telah tidur bersama lelaki tua itu, tapi tak ada cara lain selain itu. Dia pun hanya menatap Lilia dan tak bisa berkata-kata.


Waktu terus berjalan dan saatnya mereka untuk berangkat kerja. Lilia berdiri dan mengajak Edwin untuk mandi bersama.


Di dalam kamar mandi, Edwin sama sekali tak bernafsu pada gadis itu dan segera menyelesaikan mandinya dengan cepat. sementara Lilia hanya diam saja tidak bisa berbuat apa-apa pada sikap dingin Edwin padanya.


“Ayo kita berangkat...”ucap Lilia mengajak Edwin segera bergegas setelah selesai sarapan pagi.


Lilia dan Edwin berangkat bersama menuju ke kantor menaiki mobil mereka masing-masing.


Sesampainya di kantor mereka bertemu dengan Irise yang barusan turun dari mobil setelah memarkir mobilnya.


Irise melihat dua mobil yang barusan parkir adalah milik Edwin dan Lilia.


“Oh... kebetulan sekali aku bertemu dengan mereka. Jadi sebaiknya aku temui dan sapa mereka berdua dulu.”gumam Noah berdiri di depan tempat parkir menunggu dua orang itu keluar dari sana.

__ADS_1


Sementara itu di tempat parkir Edwin dan Lilia turun dari mobil. Mereka keluar dari tempat parkir dan berhenti saat melihat Irise yang berdiri di sana.


BERSAMBUNG...


__ADS_2