
Satu hari setelahnya Dion mendapatkan surat dari manajer Aksa yang ditaruh oleh lelaki itu di mejanya.
Beberapa staf lainnya yang datang lebih duluan melihat sebuah surat tergeletak di meja Dion. Mereka penasaran kenapa manajer Aksa meletakkan sebuah surat di sana.
Terlihat para staf yang sudah melihat surat tadi berbisik-bisik, dan ada yang langsung membahasnya.
“Surat dari manajer Aksa... apa mungkin Dion melakukan suatu suatu masalah di perusahaan ini ?”tanya seorang staff pada staf lainnya yang ada di sana.
“Masalah... lalu kira-kira apa masalah yang di buat Dion ?” tanya staf lain yang menjawab pembicaraan mereka.
“Aku juga tidak tahu masalah apa... mungkin saja dia mengambil sesuatu atau melakukan hal lainnya yang bisa menurunkan performa perusahaan ini.
Percakapan para staff itu terpaksa harus berakhir saat mereka melihat Dion datang berjalan masuk ke ruangan mereka.
“Ssts.... diam dulu Dion datang, tidak enak jika dia sampai mendengarnya nanti.”ucap staff lain mengingatkan dan menyela teman mereka yang sedang bergosip.
Namun meskipun ada staf yang memperingatkan mereka, beberapa staf lainnya di sana masih membicarakan Dion meskipun dengan suara pelan.
Dion berjalan masuk menuju ke tempat duduknya. dia heran kenapa banyak staf di sana yang menatapnya dengan tatapan aneh.
“Apa cuma perasaanku saja...aku merasa seolah mereka sedang membicarakan ku sekarang.”batin Dion mencoba menatap beberapa staf yang ada di sana dan mereka menunjukkan reaksi yang aneh saat Dion menatap mereka karena mereka langsung diam seketika dan tampak salah tingkah.
Dia pun mencoba menepis apa yang dirasakannya saat itu dan mencoba untuk cuek. Dia pun segera duduk di kursinya.
Tatapannya terhenti saat dia meletakkan tasnya ke meja. Di sana ada sebuah amplop putih.
“Apa ini....”Dion mengambil amplop putih dengan gemetar karena dia berpikir jika amplop itu ada hubungannya dengan hal yang sudah dilakukan sebelumnya.
__ADS_1
“Apa ini adalah....”batinnya mencoba menguatkan hatinya saat mengeluarkan isi amplopnya.
Dion duduk di kursinya sambil membaca surat yang dipegang di tangannya. Wajahnya pucat dan keringat dingin mulai keluar saat membaca surat teguran yang menyatakan jika dirinya akan dipindahkan tugas ke bagian lain.
“Huft...”Dion hanya bisa menghela nafas panjang setelah membacanya. Diapun cara memasukkan surat tadi ke amplop.
Tanpa menunggu lama dia pun segera membereskan barang-barangnya di sana.
“Dion kau mau kemana membawa semua barang mau pergi dari sini ?”tanya salah satu staf saat melihat Dion membawa kardus berisikan barang-barangnya.
“Mulai hari ini aku pindah ke bagian lain...”jawab Dion singkat dan berhenti sebentar kemudian kembali berjalan membawa semua barangnya keluar dari ruangan itu.
Sedangkan staf yang lain hanya bisa menatap kepergian Dion saja. Dan setelah lelaki itu keluar dari ruangan para tapi ada di sana kembali bergosip membicarakan Dion.
Vivian hanya tersenyum saja saat Dion berada di depan pintu dan menetap ke arahnya.
Dia membahas proyek Four Seasons yang merupakan anak perusahaan dari Consumer Goods.
“Jadi seperti ini rencana kita untuk meningkatkan harga saham Four Seasons.”ucap Vivian mengakhiri tayangan slide-nya menjelaskan beberapa poin penting pada tim nya.
“plok... plok... plok...”terdengar suara tepuk tangan dari luar pintu meeting setelah Vivian selesai memberikan paparan.
Manajer Aksa berjalan dari luar ruangan masuk ke ruang meeting sambil bertepuk tangan. Para staf lain yang ada di sana sontak langsung menoleh ke belakang menatap lelaki tadi.
“Bagus sekali kerjamu Vivian...”ucap Manager Aksa berjalan mendekati Vivian. Lelaki itu mengagumi pola pikir dan kinerja gadis itu.
“Terima kasih manajer Aksa...”ucap Vivian sedikit tersipu dengan pujian lelaki itu di depan para tim nya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian meeting berakhir. Semua staf yang ada di sana keluar ruangan. Sedangkan Vivian membereskan semua peralatan untuk paparan.
“Biar aku membantumu... kau bereskan yang di sana saja.”ucap Manajer Aksa yang masih berada di ruangan itu dan menawarkan bantuan pada Vivian.
Vivian merasa tak seharusnya dia mendapatkan bantuan dari atasannya dan merasa tak enak pada lelaki itu.
“Manajer Aksa... terima kasih atas tawaran bantuannya tapi aku bisa melakukannya sendiri.”balas Vivian menolak bantuannya dengan halus agar tidak menyinggung perasaannya.
“Sudahlah... tak apa...”balas Manajer Dion yang keras kepala dan bersikeras untuk membantunya.
Karena tak bisa menolak lagi Vivian pun membiarkan lelaki itu membantunya. Mereka berdua membereskan ruangan.
Tiga puluh menit setengahnya mereka berdua keluar dari ruang meeting setelah selesai mengemasi semua perlengkapan yang di pakai meeting.
“tap... tap... tap...”suara langkah kaki manajer Aksa yang berjalan mengikuti Vivian dan berjalan di sampingnya.
Manajer Aksa melihat Vivian yang membawa setumpuk dokumen lagi-lagi menawarkan bantuan untuk membawakan berkasnya.
“Vivian...biar ku bantu kau membawa dokumen itu.”ucap lelaki itu.
“Oh... tidak perlu manajer Aksa sungguh...”balas Vivian menolak tawarannya karena merasa sungkan.
Tapi manajer Aksa tak mendengarkan jawaban Vivian. Dia pun langsung mengambil setumpuk berkas dokumen dari tangan gadis itu.
“Tunggu manajer Aksa...”balasnya berusaha mengambil berkas nya kembali namun lelaki itu memegangnya erat dan menjauhkan berkas itu dari dirinya agar dia tak bisa mengambilnya kembali.
Vivian pun mengobrol ringan dengan manajer Aksa selama berjalan di lorong menuju ke ruang kerjanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...