Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 104 Surat Diagnosa Palsu


__ADS_3

Sore hari sepulang kerja, Irise tidak pulang ke rumah. Dia sengaja mampir sebentar ke rumah ayahnya untuk melihat kondisi Lilia saat ini.


“ckiiit... !”Irise berarti di depan rumah David. Ia pun turun dari mobil dengan tenang dan berjalan masuk ke rumah dengan santai.


Di dalam rumah dia tidak menemukan ayahnya. Sambil menunggu ayahnya, ia pun duduk di ruang keluarga.


Seorang pelayan melewati Irise dan berhenti untuk menyapanya.


“Nona... sudah lama tidak kelihatan di sini...”ucap seorang pelayan wanita sambil tersenyum ramah pada Irise.


“Iya bi... baru senggang kali ini. Di mana ayah... aku tidak melihatnya.”balas Irise menanyakan keberadaan ayahnya, barangkali saja pelayan itu tahu.


“Tuan David keluar satu jam yang lalu.”balas sang bibi menjelaskan.


Irise mengangguk sambil melempar senyum kecil pada pelayan tadi.


Pelayan itu yang memang ada pekerjaan yang harus dia selesaikan segera menuju ke ruang belakang.


“tap... tap... tap...” suara langkah kaki Lilia berjalan keluar dari toilet menuju ke ruang keluarga.


“Oh... lemasnya aku...”gumam Lilia setelah muntah berkali-kali hingga perutnya terasa perih dan tenggorokannya pahit.


Gadis itu berjalan sambil memegang perutnya yang terasa kaku. Dia pun terus berjalan hingga menuju ke ruang keluarga. Di sana dia berhenti saat melihat Irise duduk di sofa.


“Irise.... kau sudah lama duduk di sini ?”ucap Lilia berhenti di samping Irise.


“Tidak... aku baru lima menit duduk di sini.”jawab Irise sambil menatap wajah Lilia dan mengamatinya.


Dalam hati gadis itu tersenyum lebar karena melihat Lilia tampak pucat dan lemas.


“Mungkin Lilia habis muntah... entah berapa kali sudah dia muntah ?”batin Irise.


“Tunggu saja dulu... ayah mu bilang dia hanya akan keluar sebentar.”balas Lilia menanggapi.


Baru saja dia merasa sudah baikan dan tak ingin muntah lagi, ternyata kali ini dia sudah ingin muntah lagi.

__ADS_1


“huek... maaf Irise...”Lilia segera berjalan kembali masuk ke kamar mandi.


Di kamar mandi dia kembali muntah hingga mulutnya terasa masam dan perutnya nyeri.


Irise yang tadinya duduk segera berdiri dan ikut masuk ke toilet. Dia melihat Relia berada di depan wastafel sedang membersihkan mulutnya.


“Lilia... kau kenapa ?”tanya Irise menghampiri.


“Aku barusan muntah lagi. Aku tidak tahu kenapa ini salah makan atau kenapa...”balas Lilia sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


“Bagaimana jika aku mengantar mu ke dokter sekarang ?”ucap Irise berpura-pura perhatian dan menawarkan bantuan.


“Emm... mungkin ini hanya masuk angin atau salah makan saja jadi menurutku tak perlu ke dokter.”jawab Lilia menolak tawaran Irise.


Noah yang tak ingin usahanya sia-sia kembali mendesak gadis itu agar masuk dalam perangkapnya.


“Lilia... kau calon Nyonya rumah ini. Maka kau layak mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak dan fasilitas lainnya.”ucap Irise kembali membujuknya.


Lilia diam dan memikirkan apa yang diucapkan oleh Irise barusan. menurutnya memang benar apa yang diucapkan oleh Irise jika sebagai seorang nyonya rumah sudah seharusnya dia mendapatkan fasilitas mewah dan fasilitas sejenis lainnya.


“Tentu saja aku tahu. Bagaimana jika aku mengantarmu ke dokter sekarang ?”ucap Irise sambil tersenyum menawarkan kembali.


Kali ini Lilia mengangguk dan setuju.


“Baik jika begitu sekarang ikut aku.”ucap Irise menepuk bahu Lilia dengan pelan kemudian berjalan keluar dari toilet.


Lilia berjalan di belakang Iris dan mengikutinya keluar dari rumah lalu masuk ke mobil.


“broom... !”Irise melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit di mana dokter Bian praktek saat ini.


Mereka tiba di rumah sakit. Irise turun duluan lalu membukakan pintu untuk Lilia dan berjalan menggandeng nya masuk ke rumah sakit, agar gadis itu merasa dirinya semakin perhatian padanya.


“tok... tok... tok...”Irise tiba di sebuah ruangan dan mengetuk pintunya.


“kriek...”dokter Bian membuka pintu dan melihat Irise bersama seorang gadis berdiri di sana.

__ADS_1


“Oh nona Irise... silahkan masuk...”ucap dokter itu menyapa lalu mempersilahkan duduk.


Irise dan Lilia masuk kemudian duduk di kursi di depan sang dokter.


“Ada masalah apa nona apa ada yang bisa ku bantu ?”tanya dokter Bian.


“Ini dokter pasien nya.”ucap Irise sambil menatap dokter Bian.


“Lilia bilang saja pada dokter apa keluhan mu saat ini.”ucapnya lagi sambil menatap Lilia.


Lilia menganggap kemudian menatap dokter dan memberikan penjelasan padanya apa yang diakan saat ini.


“Nona sebaiknya kita menjalani tes dulu.”ucap Dokter Bian setelah menerima penjelasan panjang lebar dari Lilia.


Dokter Bian yang sudah tahu jika Lilia adalah gadis yang dimaksud beberapa waktu yang lalu oleh Irise segera mengajaknya ke ruang periksa dan mulai melakukan pemeriksaan. Dia mengambil sampel darahnya untuk hasil yang lebih akurat.


“Baiklah Nona bisa tunggu dulu di luar aku akan beritahukan hasilnya sebentar lagi.”ucap dokter Bian pada Lilia yang masih berbaring di tempat tidur.


“Baik dokter...”jawab Lilia duduk kemudian keluar dari ruang periksa dan kembali menunggu di depan duduk di sebelah Irise.


Empat puluh menit kemudian dokter Bian keluar dari ruang periksa dan membawa hasil tes nya.


Dokter Bian kembali duduk di kursinya kemudian menyerahkan selembar kertas pada Lilia.


“Nona ini hasil tesnya silahkan di lihat dulu.”terangnya.


Lilia menerima surat dari dokter Bian membacanya. Betapa terkejutnya dia saat membaca hasil tes itu.


“Apa... aku hamil... ?”ucap Lilia kaget dan tak menyangka saja jika dirinya akan hamil.


“Apa... kau hamil ? Aku senang sekali... maka aku akan segera mempunyai saudara setelah ini.”pekik Irise berpura-pura tersenyum lebar dan terlihat gembira di depan Lilia.


Lilia pun hanya tersenyum kecil dalam hati dia pun merasa bingung Sebenarnya dia saat ini sedang mengandung anaknya siapa.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2