
Sore harinya Irise membuka matanya setelah merasa kan udara dingin yang berhembus di telinganya.
“Oh... aku tertidur dan sudah sore rupanya...”gumamnya saat membuka mata dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 16.00.
Irise kemudian duduk dan melipat selimut yang menutupi tubuhnya saat ini.
“Pasti ibu yang menyelimuti tubuhku...”gumamnya sambil menatap nggak sekitar mencari keberadaan ibunya.
Irise berdiri dan mencari ibunya ke kamar dan ternyata memang ada di sana. Wanita itu sedang duduk di depan cermin menyisir rambut nya yang sebagian sudah berwarna putih.
“Ibu... kenapa tidak membangunkan aku ?”ucap Irise masuk ke kamar dan berdiri di samping ibunya.
“Ibu tahu kau lelah jadi ibu biarkan saja kau tidur.”jawab wanita itu menoleh ke samping menatap Irise sambil tersenyum kecil.
Irise mengambil sisir yang dipegang ibunya dan menyisir rambut ibunya.
“Ibu... setelah ini aku mau pulang.”ucap gadis itu berpamitan pada ibunya.
“Kau tidak menginap di sini saja... ?”balas ibunya yang merasa kesepian tinggal seorang diri di rumah.
“Tidak ibu... ada ya harus kulakukan di rumah mungkin di akhir pekan aku akan menemani ibu sini.”jawab Irise sambil menggendong meskipun berat Sebenarnya dia meninggalkan ibunya seorang diri di rumah itu.
Selesai menyisir rambut ibunya Irise keluar dari rumah dan masuk ke mobilnya.
“Ibu aku pulang dulu... jaga diri ibu baik-baik...”ucap nya di dalam mobil sambil melambaikan tangan pada ibunya.
Irise menutup kaca jendelanya selain ibunya masuk ke rumah Jadi apa melajukan mobilnya menuju ke rumah.
Sesampainya di rumah dia langsung masuk ke kamar mandi dan berendam di bathub dengan air hangat.
Di luar rumah Edwin memarkir mobilnya setelah pulang dari kantor. Dia melihat mobilnya Irise masih terparkir di sana.
“Jadi dia masih tertidur pulas sampai sore...?”celetuk Edwin tersenyum lebar karena merasa obat yang diberikannya memang sangat ampuh.
Edwin masuk ke rumah dan menuju ke kamarnya. Di sana tampak kosong.
__ADS_1
“Kemana Irise pergi...”gumamnya saat melihat istrinya tak ada di kamar.
Edwin keluar kamar dan melewati kamar mandi lalu Berhenti sejenak saat melihat suara shower yang menyala.
“Irise... apa kau ada di dalam ?”tanya Edwin menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
“Ya aku baru saja mandi ada apa... ?”jawabnya singkat.
“Tidak sayang... aku kira kau ke mana karena seharian ini aku tidak melihatmu di kantor.”balas Edwin pura-pura perhatian.
“Ya... aku hanya ingin beristirahat sebentar di rumah karena sedang tidak mood pergi ke kantor.”jawab wanita itu asal.
Edwin pun kembali masuk ke kamar dan berganti baju sudah tak ada yang dibicarakan.
Keesokan harinya Irise berangkat ke kantor dengan kondisi badan yang lebih bugar dari sebelumnya.
Dia di tempat duduknya dan melihat ayah dan yang lainnya sudah berada di sana duluan.
“Irise... kau kemana kemarin tidak terlihat di kantor ?”tanya David saat melihat Irise yang barusan duduk.
Sementara Edwin dari kejauhan mendengar suara Irise hanya menoleh ke belakang dan menatapnya sebentar lalu kembali menatap setumpuk berkas dokumen yang di mejanya.
Sore harinya disaat semua pulang Irise sengaja mengulur waktunya untuk pulang lebih akhir daripada mereka semua.
“Kenapa kau tidak segera pulang ?”tanya Sharp Eye pada Noah.
“Kau akan tahu setelah ini...”jawab Noah singkat.
Dia pun kemudian berdiri dan menuju ke jendela. Dia membuka sedikit tirai jendela dan melihat ke arah luar.
“Ternyata lelaki pulang bersama Lilia...”gumam Noah saat melihat Lilia masuk ke mobil bersama David.
Noah menutup kembali tirai jendela dan segera keluar dari kantor. Dia masuk ke mobil dan mengikuti mobil David dari kejauhan.
Tak beberapa lama kemudian mobil David berhenti di depan sebuah mall.
__ADS_1
“Mau ke mana mereka berdua ?”batin Noah saat melihat dua orang itu turun dari mobil kemudian masuk salah satu tokoh perhiasan.
Noah masih duduk di dalam mobil dan melihat dari kejauhan dengan jendela kaca yang masih tertutup rapat.
Di toko perhiasan David dan Lilia berdiri di depan etalase perhiasan.
“Kau suka cincin yang mana... aku akan membelikannya untukmu.”ucap David menatap Lilia sambil tersenyum lebar.
“Aah... apakah tidak apa aku memilih perhiasan ?”jawab Lilia terlihat malu-malu sambil tersenyum kecil.
“Tak apa... ayo pilih lah...”balas David bersikeras.
Lilia pun tak malu-malu lagi dan memilih sebuah cincin dengan model terbaru yang berharga mahal di antara cincin lainnya.
“Kau yakin memilih yang itu ?”tanya David.
Lilia mengangguk dan menyerahkan cincin itu pada pelayan toko.
“Tolong aku terburu-buru. Aku mau membayarnya sekarang.”ucap David pada pelayan toko.
Pelayan toko kemudian segera mengambil EDC dan David segera menghasilkan kartun yang untuk membayar cincin tadi.
Mereka berdua pun keluar dari toko perhiasan dengan tersenyum dan mengobrol ringan.
“Terima kasih tuan...”ucap Lilia tersenyum lebar saat David merangkul dirinya dan mengajaknya masuk ke mobil.
“Kau jangan panggil aku seperti itu... mulai dari sekarang biasakan untuk memanggilku dengan sebutan sayang saat kita bersama.”ucap David saat sudah masuk ke mobil.
Lilia hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
“Ternyata gadis itu mulai mengeruk uang David. Aku harus bertindak cepat kalau begitu.”gumam Noah saat melihat mobil David sudah pergi dari mall.
Noah pun melajukan mobilnya dan berhenti tak jauh dari mall itu di suatu rumah makan sekedar untuk memesan minuman sambil mengawasi David dan Lilia.
BERSAMBUNG....
__ADS_1