
Dua jam kemudian.
Julya dan bayi laki-laki'nya sudah di pindahkan ke kamar rawat dan sekarang tinggal menunggu kelahiran anak Novi-Neon.
Sama seperti saat Julya akan melahirkan, Novi juga meringis kesakitan. Hanya beda-nya jika Julya tadi dibantu dengan cairan induksi, kalau Novi tidak, karena tanpa dibantu cairan induksi, jalan lahir anak Novi, bisa di katakan terbuka dengan sangat cepat.
"Aaakh... Sayang, sepertinya ada kepala dibawah sana." Ucap Novi saat merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana.
"Benarkah?" Neon pun berjalan untuk melihat selang*kangan Novi.
Mata Neon membulat saat ia melihat ada gumpalan berambut di rumah Mbak Nikmat.
"Aku panggil dokter dulu." Ucap Neon.
Neon pun berlari menuju pintu dan membuka pintu ruangan. Dari pintu, Neon pun berteriak memanggil tenaga kesehatan yang ada di pos.
Tak lama bidan dan dokter pun datang ke ruangan itu.
"Dok, kepalanya sudah keluar." Ucap Neon panik.
Dokter tak merespon dan malah berjalan mendekati ranjang Novi lalu memeriksa Mbak Nikmat Novi.
"Benar-benar anak baik." Lirih dokter saat melihat kepala anak Neon-Novi memang sudah berada di pintu.
__ADS_1
"Sus, siapkan inkubator." Perintah dokter. Berhubung anak Neon-Novi lahir muda, oleh karena itu, harus di masukkan ke dalam inkubator terlebih dahulu.
Suster pun mengerjakan apa yang dokter perintahkan.
Sedangkan dokter, ia pun mulai mengarahkan Novi untuk mengejan.
Lima menit kemudian.
Oweeeek... Oweeeek... Suara tangis bayi laki-laki itu pun menggelegar memenuhi ruangan. Suara tangis bayi Neon-Novi lebih besar dari suara tangis bayi March-Julya.
Sama seperti yang dokter lakukan pada bayi Julya, bayi Novi pun langsung dokter letakkan di atas dada Novi.
Dan setelah lima belas menit, baru lah bayi itu di bersihkan, di beri vitamin, di timbang dan diukur. Sedangkan Novi di bawa keruang observasi.
Dua jam kemudian.
Novi dan bayi-nya juga sudah di bawa ke kamar rawat, atas permintaan Nenek Julya yang meminta agar Novi dan bayi-nya di masukkan dalam kamar rawat yang sama dengan Julya, maka disini lah Novi dan bayi-nya sekarang, dalam kamar rawat yang sama dengan Julya.
"Nenek bahagia sekali. Setelah memiliki dua cucu mantu laki-laki, sekarang Nenek mendapat dua cucu laki-laki sekaligus." Ucap Nenek Julya sambil memandang dua box bayi.
"Apa kalian sudah punya nama untuk anak kalian?" Tanya Nenek Julya.
Sontak kedua pasang orangtua itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Raiden Maharaja Alfian." Jawab March bangga.
"Maharaja?" Tanya Nenek Julya karena nama Ayah Julya adalah Maharaja.
"Iya, itukan nama Kakek-nya, walaupun Rai tidak pernah melihat Kakek-nya setidaknya ia bisa merasakan kehadiran Kakeknya dari nama yang kami sematkan." Jawab Julya. Karena nama Maharaja adalah usulan dari Julya.
"Nenek suka. Nenek harap, Rai bisa memiliki sikap tegas seperti Kakek-nya." Ucap Nenek Julya.
Nenek Julya tidak tahu saja kalau sebelum bertemu dengan anak-nya, yakni Ibunda Julya, menantu laki-laki'nya itu seperti apa.
"Kalau kalian, siapa anak kalian." Kini Nenek Julya bertanya pada Neon dan Novi.
"Satria Adhiyaksa Neondra." Jawab Neon bangga.
"Nama yang bagus. Nenek suka." Balas Nenek Julya.
"Semoga saja anak-anak kalian menjadi anak yang bisa patuh kepada orangtua, bisa menjadi kebanggaan keluarga dan menjadi anak-anak yang bijaksana." Doa Nenek Julya untuk Rai dan Satria.
Baru saja Nenek mendoakan Rai dan Satria, dua bayi laki-laki itu pun menangis.
Sepertinya dari tangisan mereka, seolah mengatakan pada Nenek Buyut mereka agar Nenek Buyut juga berdoa agar mereka tidak menjadi laki-laki seperti Kakek Rai dan Ayah Satria. Seorang Bastard.
TAMAT.
__ADS_1
*** Terimakasih untuk kakak-kakak, bunda-bunda yang setia membaca novel perdana aku ini. Akan ada cerita kelanjutan tentang Raiden dan Satria tapi setelah novel Bukan Sekedar Obsesi selesai. Terimakasih. 🙏🙏🙏 ***