Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
# 40


__ADS_3

"Ini kamar mu sementara. Karena setelah kita menikah, kau akan pindah ke kamar ku diatas." Ucap March sambil menunjukkan kamar Julya.


"Kamar yang pernah kita pakai melewati malam panas kita." Bisik March di telinga Julya dengan suara yang menggoda.


Blush. Wajah Julya memerah seketika. Walaupun setelah malam itu mereka masih melakukannya lagi, tapi karena tragedi malam itu lah kini Julya harus terikat dengan March.


"Ish. Kau ini!! Apa isi kepala mu hanya tentang urusan ranjang saja!" Dumel Julya.


"Memang. Kan dari awal aku sudah bilang, kalau aku menikahi mu untuk kesejahteraan ranjang ku dan untuk memperoleh keturunan dari mu." Balas March tanpa dosa.


Nyes. Mendengar itu entah kenapa hati Julya sakit. Yah, meskipun apa yang March katakan benar adanya, tapi apa harus March menekankan hal itu lagi pada Julya.


"Awas kau! Aku mau istirahat dulu!" Ucap Julya sambil mendorong tubuh March yang berdiri di depannya.


Julya pun mengambil kopernya yang masih March pegang, lalu berjalan mendekati pintu kamar.


Ceklek. Julya membuka pintu kamar, lalu masuk ke dalam.


BRAAAK. Dengan kasar Julya menutup pintu kamar lalu mengunci pintu kamarnya itu.


"Kenapa dia?" March terheran-heran.

__ADS_1


"Dasar wanita aneh. Kadang baik, kadang jutek, kadang menggemaskan, tapi tetap saja dia sangat menggairahkan." Gumam March.


"Betulkan Mister Peni?" Tanya March pada 'adik kecilnya' itu.


March pun pergi dari depan kamar Julya menuju kamarnya. Ia ingin membersihkan tubuhnya karena dari pagi, ia belum mandi.


*****


Setelah hampir setengah jam melakukan berbagai ritual di dalam kamar mandi, March pun keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Ia berjalan menuju ruang ganti lalu memakai pakaian rumahannya. Celana boxer dan kaos lekbong adalah pakaian andalannya di rumah.


Setelah berpakaian, March pun keluar dari dalam ruang ganti. Ia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Neon.


"Halo March." Jawab Neon diseberang telepon.


"Bagaimana? Apa kau sudah mengurus yang ku minta?" Tanya March tanpa basa-basi.


"Cih. Apa tidak bisa kau sedikit berbasa-basi?" Gerutu Neon.


"Aku tidak suka basa-basi! Yang aku butuhkan sekarang hanya jawaban mu atas apa yang ku minta pada mu!"

__ADS_1


"Iya.. iya..!! Aku sudah mengurusnya. Kau akan menikah hari Sabtu ini. Aku juga sudah menghubungi wedding organizer untuk resepsinya." Jawab Neon.


"Bagus! Kau memang paling bisa diandalkan Neon." Puji March.


"Kalau begitu, sekalian kau urus tiket bulan madu ku." Perintah March.


"Kalau itu aku tidak bisa! Jadwal mu padat March! Sudah banyak meeting yang ku undur hanya untuk urusan pribadi mu! Jadi aku tidak bisa mengundur jadwal mu lagi, bisa-bisa klien pada kabur gara-gara kau yang suka mengulur waktu!" Omel Neon.


"Haish!! Kau cerewet sekali! Baik lah!!" Balas March. March yang kesal karena di larang bulan madu pun langsung mengakhiri panggilan teleponnya.


"Sial, tidak bisa bulan madu!!" Dumel March.


"Tapi biarlah, toh saat bulan madu pun kami tidak akan keluar kamar. Jadi, mau bulan madu atau tidak akan sama saja!" Gumam March lagi.


March pun meletakkan ponselnya kembali diatas nakas, ia pun naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya.


"Aku tidak sabar menunggu hari Sabtu." Lirih March.


"Apa aku pinjam saja mesin waktunya Doraemon yah?" Gumam March lagi. Sungguh gumaman yang bodoh.


"Haish!! Seandainya saja Doraemon itu nyata!" Lirih March setelah sadar kalau sosok Doraemon tidak lah nyata.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2