
Kini March dan Julya sudah sampai di apartemen mereka.
Sesampainya di apartemen, March langsung menyusun bahan makanan yang tadi mereka beli di kulkas dan lemari tempat penyimpanan bahan makanan. Tapi sebelumnya ia menyisakan beberapa pentol bakso, udang dan sawi untuk di jadikan bahan membuat mie instan keinginan Julya.
Setelah selesai menyusun, March pun mulai memotong-motong bawang, bakso dan sawi.
"Sini aku bantu." Ucap Julya. Dia merasa tak enak melihat suaminya sibuk di dapur sedangkan dirinya hanya duduk-duduk di sofa ruang tengah.
"Astaga!! Kok kamu jalan sih!!" Omel March lalu menggendong Julya ala bridal style.
"Kan sudah ku bilang, kau duduk saja!" Lanjut March mengomel.
March pun mendudukkan Julya di kursi ruang makan.
"Kau duduk tenang disini, biar aku yang memasakkan untuk kalian. Untuk mu dan untuk anak ku." Ucap March.
"Awas kalau sampai kau berjalan lagi ke dapur!!" Ancam March.
Julya memanyunkan bibirnya karena larangan March, meski kesal tapi Julya juga senang karena suaminya itu sangat posesif padanya. Hal yang tak pernah Agus lakukan saat Agus menjadi suaminya. Agus hanya menyuruh-nya kerja, kerja dan kerja karena banyak-nya job yang Agus ambil untuk dirinya.
__ADS_1
Setelah pulang bekerja pun, Agus tak pernah menservis Julya dengan sekedar membuatkan teh untuk dirinya, malah dirinya lah yang membuatkan teh untuk Agus.
Rasa cinta Julya untuk Agus dulu membuat Julya mau melakukan apapun yang Agus perintahkan tanpa mengeluh. Bodoh memang, tapi begitulah cara kerja cinta, membuat orang jenius sekalipun berubah menjadi bodoh seketika.
Tapi itu dulu. Dirumah tangganya yang sekarang, dirinya bukan hanya mencintai namun juga dicintai, dirinya di perlakukan seperti seorang ratu oleh March, meski awalnya pernikahan mereka hanyalah simbiosis mutualisme.
*****
Tak sampai sepuluh menit mie instan permintaan Julya pun siap di hidangkan. March sengaja membuat dua porsi, manatau saja Julya ingin tambah.
"Selamat menikmati Nyonya Alfian." Ucap March sambil meletakkan mangkok yang berisi mie instan dengan toping bakso, udang dan sawi di hadapan Julya.
"Terimakasih Tuan Alfian." Balas Julya.
"Heemmmm.. dari aromanya saja sudah enak." Ucap Julya.
"Makan lah, pasti anak ku didalam sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan Daddy-nya." Ucap March.
Julya pun mulai mengambil sendok dan garpu lalu menyendokkan mie dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sedangkan March, ia hanya melihat Julya makan.
__ADS_1
"Kau tidak makan?" Tanya Julya karena March tidak memakan mie yang ada di hadapannya.
"Melihat mu makan saja aku sudah kenyang." Balas March. Ia tak mau mengatakan kalau mie yang ada di hadapannya adalah cadangan untuk Julya manatau Julya ingin tambah. Kalau sampai dia mengatakan itu, yakinlah pasti Julya akan tersinggung dan ujung-ujungnya perdebatan pun terjadi.
"Hish!! Makan lah, nanti keburu mengembang." Ucap Julya.
Mau tak mau March pun mulai menyendokkan mie itu kedalam mulutnya sedikit-sedikit dan perlahan. Sengaja ia begitu agar mie yang ada di mangkok Julya habis duluan.
Tak lama mie di mangkok Julya pun habis, benar dugaan March setelah mie yang di mangkoknya habis, Julya terus menatap mie yang ada di mangkok March.
March yang menyadari hal itu pun menoleh ke arah Julya.
"Kau masih mau?" Tanya March pura-pura tidak peka.
Julya menggelengkan kepalanya pelan seolah tidak iklhas menggelengkan kepalanya.
Tahu Julya berbohong, March pun menyendokkan mie itu lalu memberikannya pada Julya.
"Buka mulutmu, makan lah." Ucap March.
__ADS_1
Tidak perlu ditanya lagi bagaimana respon Julya, pastinya Julya langsung membuka mulutnya lebar dan menerima suapan dari March. March pun menyuap Julya sampai mie yang ada di mangkoknya habis.
Bersambung...