
Neon dan Novi pun telah sah menjadi pasangan suami istri secara agama. Tinggal besok mereka melegalkan pernikahan mereka secara negara.
Setelah berbincang-bincang sebentar, keluarga Neon pun pulang dan sekarang hanya tinggal Nenek Julya, March, Julya, Neon dan Novi yang ada di teras rumah pemuka agama.
"March, aku minta cuti seminggu. Aku ingin berbulan madu dengan istri ku." Ucap Neon.
"Enak saja kau!! Kau saja melarang ku berbulan madu, sekarang malah kau yang mau berbulan madu! Tidak bisa!" Tolak March mentah-mentah.
"Kan beda March. Sebelum menikah kau kan sudah berbulan madu terlebih dahulu, bahkan persiapan pernikahan mu saja aku yang mengurus."
"Kalau aku memberikan mu cuti, lalu aku bagaimana? Siapa yang akan membantu ku di kantor? Pokoknya kalau aku bilang tidak bisa, yah tidak bisa!"
"Berikan saja lah March! Apa kau tidak kasihan dengan Neon. Selama ini dia sudah banyak membantu mu mengurus ini-itu, masa seminggu saja kau tidak mau memberikan Neon cuti!" Omel Julya .
"Tapi....."
Julya langsung memberi pelototan tajam pada March agar March tidak membantah kata-katanya.
"Baiklah.. baiklah!! Pergilah kau berbulan madu. Tapi dengan syarat, kau harus mengaktifkan ponsel mu 24 jam." Ucap March.
"Baiklah, aku mengerti." Balas Neon.
"Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu." Pamit March pada Neon dan Novi.
"Ayo Nek, kita pulang." Ajak March pada Nenek Julya.
"Kok pulang sih? Kan kita mau ke Padang." Ucap Julya mengingatkan.
March menghela nafasnya kasar karena ternyata Julya masih mengingatnya.
__ADS_1
"Untuk apa kalian ke Padang?" Tanya Nenek Julya.
"Julya ingin makan sate Padang katanya Nek." Jawab March.
"Disini kan banyak penjual sate Padang. Kenapa harus ke Padang?"
"Julya ingin makan di bawah langit Padang, Nek." Jawab Julya.
Nenek Julya mengernyitkan keningnya.
"Apa kau sedang mengidam?" Tanya Nenek Julya sambil memicingkan matanya.
Mata March, Julya, Neon dan Novi membulat kaget mendengar dugaan Nenek Julya.
March, Neon dan Novi pun kompak menoleh ke arah Julya.
"Cih.." Neon berdecih.
"Nikahnya memang baru kemaren, tapi tanam sahamnya sudah dari kemaren-kemaren." Lirih Neon pelan namun masih bisa didengar oleh orang-orang yang ada di dekatnya.
Tak ingin menerka-nerka, March pun menarik tangan Julya.
"Ayo kita periksa." Kata March.
Nenek Julya dan Novi yang penasaran hendak mengikuti March dan Julya dari belakang. Namun baru Novi melangkah satu langkah, Neon langsung menarik tangan Novi.
"Kita tidak usah ikut mereka. Kita selesaikan dulu urusan dengan ibu tirimu." Ucap Neon.
"Tapi Tuan.."
__ADS_1
"Novi.. aku suami mu sekarang! Jangan panggil aku dengan panggilan seperti itu."
"Maaf. Jadi aku harus memanggil apa?"
"Panggil aku 'Sayang'."
Novi menggigit bibir bawahnya, ia malu memanggil Neon dengan panggilan seperti itu.
"Oh.. shiit!!!" Umpat Neon saat melihat Novi menggigit bibir bawahnya.
"Kita selesaikan urusan kita yang tertunda yang semalam dulu, baru kita urus masalah dengan ibu tiri mu!" Ucap Neon sambil menarik tangan Novi menuju mobilnya.
"Urusan kita yang tertunda? Apa?" Tanya Novi polos.
"Nanti kau juga tahu sayang." Balas Neon sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Blush. Wajah Novi memerah seketika karena tahu apa yang suaminya maksud.
Novi pun pasrah mengikuti Neon menuju mobil.
Sesampainya di dalam mobil, Neon membuka pintu untuk Novi terlebih dahulu, setelah Novi masuk dan memastikan istrinya itu memakai sabuk pengaman, barulah Neon masuk kedalam mobil lalu menyalakan mesin mobilnya.
Neon melirik ke arah Novi sesaat, melihat istrinya masih menggigit bibirnya, Neon langsung menarik tengkuk Novi terlebih dahulu dan melu*mat bibir Novi sesaat sebelum ia menjalankan mobilnya.
"Jangan menggigit bibir mu selama aku menyetir, itu sangat berbahaya! Kau paham?!" Ucap Neon memberi peringatan.
Meski tidak tahu alasan Neon melarangnya, Novi tetap menganggukkan kepalanya.
Bersambung...
__ADS_1