
Setelah hampir lima belas menit mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh ditambah lagi kondisi jalanan yang lenggang, kini mobil yang Neon kendarai sudah sampai di hotel tempat mereka menginap semalam. Hotel yang juga tempat Novi bekerja.
Cepat-cepat Neon membuka sabuk pengaman untuk dirinya dan untuk Novi.
"Ayo turun." Ucap Neon. Dan mereka pun turun dari dalam mobil.
Neon langsung menarik tangan Novi dan berjalan memasuki gedung hotel dengan langkah yang panjang.
"Tuan.. eh.. Sayang, pelan-pelan, kaki ku sakit kalau jalannya cepat-cepat begini." Keluh Novi.
Novi tidak tahu saja sekarang hasrat Neon sudah di ubun-ubun. Sepanjang perjalanan Neon berusaha semaksimal mungkin menahan hasrat untuk tidak menerkam Novi di dalam mobil. Meski Novi sudah menuruti apa yang Neon katakan untuk tidak menggigit bibir bawahnya, tapi mendengar deru nafas Novi saja mampu membuat Mas Perkasa meronta-ronta di bawah sana.
Mendengar keluhan Novi, bukannya memperkecil langkah kakinya, Neon malah menggendong Novi ala bridal style.
"Iiikh... Sayang turunin!!! Malu, dilihatin orang!" Protes Novi.
"Aku gak peduli!!" Balas Neon. Neon pun meneruskan langkah kakinya sambil menggendong Novi menuju lift yang akan membawanya kelantai dimana unit kamarnya berada.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu lift, barulah Neon menurunkan Novi.
Ting. Pintu lift terbuka.
Neon dan Novi pun masuk kedalam lift.
Ting. Pintu lift kembali terbuka begitu sudah sampai di lantai tiga.
Orang-orang yang ada di dalam lift pun keluar dan kini hanya menyisakan Neon dan Novi yang akan menuju lantai lima.
Setelah orang-orang keluar dan pintu lift kembali tertutup, Neon menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya kasar. Dan itu ia lakukan berulang-ulang kali untuk mengontrol hasratnya yang makin tak bisa terkontrol.
Neon pun kembali menggendong tubuh Novi dan keluar dari dalam lift. Dengan langkah panjang dan tergesa-gesa, Neon berjalan menyusuri lorong menuju unit kamarnya.
"Buka-kan pintunya!" Perintah Neon pada Novi saat mereka sudah sampai didepan pintu unit kamar mereka.
Novi pun mengambil kunci dari tangan Neon yang sudah Neon keluarkan dari dalam saku celananya sebelum mereka keluar dari dalam lift tadi.
__ADS_1
Ceklek. Pintu pun terbuka.
Buru-buru Neon masuk kedalam unit kamarnya lalu menutup pintu kamar, tak perlu mengunci pintu karena pintu otomatis terkunci sendiri jika pintu sudah tertutup rapat.
Setelah pintu tertutup, Neon pun berjalan menuju ruang tidur lalu merebahkan Novi diatas ranjang dengan sangat perlahan.
Tanpa banyak bicara, Neon langsung menindih tubuh Novi dan mendaratkan bibirnya ke bibir Novi lalu melu*mat bibir wanita yang ada dibawahnya yang kini sudah sah menjadi istrinya itu dengan sangat lembut.
Awalnya Novi tidak membalas lu*matan yang diberikan Neon, namun lama kelamaan Novi pun menikmati lu*matan itu dan membalasnya. Kini lu*matan lembut itu berubah menjadi lu*matan kasar dan penuh gairah, bukan hanya bibir, lidah mereka pun juga sudah saling membelit.
Tangan Neon juga tak tinggal diam, jari jemari terampilnya itu dengan lincah membuka kemeja kerja yang semalam Novi pakai. Maklum Novi tidak membawa pakaian ganti dan mereka tidak ingat untuk membeli pakaian ganti untuk mereka.
Bahkan saat pengucapan janji suci tadi saja, Novi meminjam kebaya istri sang pemuka agama sedangkan Neon memakai setelan jas yang kemaren ia pakai saat pernikahan March dan Julya.
Kini semua kancing yang ada di kemeja sudah terlepas, Neon pun menarik kemeja itu agar terlepas dari tubuh Novi dan membuangnya kesembarang arah. Kini bagian atas Novi hanya tersisa penutup dua gundukan daging saja.
Dengan bibir yang masih bertautan dan lidah yang saling membelit, tangan Neon pun menjalar kepunggung Novi untuk melepas pengait penutup dua gundukan daging.
__ADS_1
Cletak. Pengait pun terbuka. Dengan sekali tarikan Neon langsung menarik dan membuang penutup dua gundukan daging ke sembarang arah. Kini dua gundukan daging yang berukuran sangat pas di telapak tangan Neon terpampang nyata tanpa penghalang apapun.
Bersambung...