Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
# 35


__ADS_3

Seperti biasa, Julya yang awalnya meronta, lama kelamaan malah menikmati ciuman panas yang di berikan March.


Merasakan Julya sudah menikmati permainan, March pun melepaskan tautan bibir mereka.


"Aku tidak tahan lagi baby." Ucap March dengan suara berat dan mata sendunya.


March pun langsung menarik tangan Julya ke arah ranjang. March pun duduk di tepi ranjang lalu menarik Julya hingga dalam posisi berlutut.


"Ayo baby, tenangkan dia!" Perintah March.


Meski agak sedikit ragu, tapi Julya melakukan apa yang March perintahkan padanya.


Dan malam itu, March dan Julya bergantian memberi kepuasan dengan cara yang berbeda.


Mereka tidak tahu kalau di depan pintu kamar Julya ada Nenek Julya yang sedang mencuri dengar apa yang terjadi di dalam kamar sang cucu.


Tau apa yang sedang Julya dan March lakukan di dalam sana, bukannya marah, Nenek Julya malah tersenyum tipis.


"Aku rasa sebentar lagi aku akan menimang cicit." Gumam Nenek Julya.


Tak ingin mengganggu Julya dan March, Nenek Julya memilih untuk kembali ke dalam kamarnya.


Setengah jam kemudian.


March dan Julya sudah selesai dengan aktifitas saling memuaskan mereka.


"Apa aku boleh tidur disini?!" Tanya March sambil memakai kembali tiga lapis sangkar 'adik kecilnya'.

__ADS_1


"Jangan buat yang lebih aneh lagi March. Tidurlah di kamar tamu." Jawab Julya sambil memakai kembali segitiga berendanya.


"Oke baik lah. Aku juga tidak mau ambil resiko. Tidur di ranjang yang sama dengan mu, sangat berisiko tinggi." Balas March.


March mendekati Julya.


Cup. Kecupan singkat March berikan di kening Julya.


"Terimakasih sudah menenangkan 'adik kecil' ku." Ucap March.


"Tidur lah." Ucap March lagi.


March pun berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamar Julya.


Selepas March keluar dari kamarnya, Julya pun langsung mengunci pintu kamarnya lalu kembali merebahkan tubuhnya kasar di atas ranjang.


"Kenapa aku mudah sekali hanyut dalam rang*sangan yang ia berikan? Tapi aku juga tidak bisa berbohong, sentuhannya benar-benar memabukkan ku." Lirih Julya sambil membayangkan cara March memberikan kepuasan padanya.


"Oh.. aku ingin merasakan lebih dari yang tadi." Lirih Julya lagi.


"Astaga Julya... Apa yang ada di pikiran mu sekarang!! Singkirkan pikiran mesum mu itu!! Ingat, kau tidak boleh lagi bercinta dengannya sebelum kalian sah menikah." Ucap Julya saat ia sadar kalau yang baru saja ia pikirkan salah. Julya pun mendudukkan dirinya.


Tak sengaja matanya melihat dinding kamar yang menjadi korban March melepaskan benihnya.


"Astaga." Julya pun berdiri dari tempat duduknya lalu mengambil tissue dan membersihkan benih March yang menempel di dinding.


Sedangkan di kamar tamu, ada March yang juga sedang senyam-senyum sendiri karena mengingat cara Julya memberikan kepuasan padanya meski tanpa bercinta.

__ADS_1


"Mulutnya saja bisa membuat aku sepuas ini. Apalagi...." March langsung membayangkan mereka bercinta.


"Aku harus cepat-cepat menikahi Julya. Aku tak bisa lagi menahannya lebih lama. Besok aku akan membawa Julya pulang dan kami akan langsung menikah di catatan sipil." Lirih March.


*****


Keesokan paginya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Julya dan sang Nenek sudah bangun dari jam lima subuh, untuk memasak jualan di warung makannya. Sedangkan March masih terlelap dalam mimpinya.


"Eugh.." lenguh March sambil merentangkan kedua tangannya. Perlahan matanya pun mengerjap.


"Jam berapa ini?" Lirih March dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


March pun meraba meja kecil disamping ranjangnya untuk mengambil ponselnya.


"Sudah jam tujuh lewat ternyata." Lirih March lagi.


March pun meletakkan kembali ponselnya lalu mengubah posisinya menjadi duduk lalu mengumpulkan kesadarannya.


Setelah kurang lebih lima belas menit mengumpulkan kesadarannya, March pun menurunkan kakinya ke lantai lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamar tamu itu.


Yang pertama ia cari setelah di luar kamar siapa lagi kalau bukan Julya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2