
FLASHBACK ON.
Tiga bulan setelah kejadian pemukulan yang di lakukan Rai terhadap Chasen, akhirnya Chasen berhasil menaklukan hati Mishea.
Sejak pemukulan itu, Chasen tak lagi menaruh kamera tersembunyi di apartemen Twin Mi, karena sang Ayah, Tuan Metowa mengancam Chasen jika ketahuan sekali lagi berbuat seperti itu, dirinya akan lepas tangan membela Chasen.
Singkat cerita, Chasen dan Mishea pun berpacaran.
Dua minggu berpacaran dengan Mishea, Chasen yang sudah tidak sabar untuk mencicipi tubuh Mishea langsung menyusun rencana untuk bisa membawa Mishea ke atas ranjang.
Waktu itu malam minggu, Chasen mengundang Mishea ke apartemennya untuk dinner romantis.
Mishea yang tidak punya pikiran buruk pada Chasen pun menerima ajakan Chasen untuk datang ke apartemen Chasen. Mishea datang sendiri ke apartemen Chasen tanpa Mishella karena hari itu Mishella punya acara lain dengan teman-temannya.
Tapi siapa sangka hari itu adalah hari yang sangat nahas bagi Mishea. Karena Chasen memasukkan obat perangsang berdosis tinggi ke dalam minuman Mishea.
Tak sampai satu menit setelah Mishea meminum minuman yang sudah di masukkan obat perangsang, obat perangsang itu pun bekerja dalam tubuh Mishea.
Mishea pun terlihat menggeliat-geliat karena merasa sesuatu yang sangat tidak nyaman dalam tubuhnya.
Melihat Mishea yang sudah menggeliat, Chasen pun tersenyum licik. Tapi ia tidak langsung merealisasikan imajinasinya pada tubuh Mishea. Ia masih harus berakting seolah-olah khawatir dengan Mishea.
"Wajah mu merah sekali. Kau baik-baik saja kan?" Tanya Chasen.
"Entahlah, tiba-tiba saja tubuh ku merasa aneh. Ada sesuatu yang tidak bisa ku jelaskan yang ku rasakan saat ini." Jawab Mishea.
Chasen pun memapah Mishea untuk pindah tempat duduk dari meja makan ke sofa ruang tengah.
"Berbaringlah. Mungkin kau alergi wine." Ucap Chasen sambil membantu Mishea berbaring.
"Tidak, tidak. Aku biasa minum wine tapi tidak pernah merasakan hal seperti ini." Balas Mishea.
"Bisa saja hari ini tubuh mu sedang tidak bersahabat dengan wine." Balas Chasen.
"Tunggu disini, biar aku ambilkan air mineral dan es batu." Kata Chasen lagi.
Mishea hanya merespon dengan anggukan kepala dan Chasen pun beranjak dari hadapan Mishea menuju dapur.
Di dapur, Chasen tak henti-hentinya tersenyum licik kala mengingat wajah Mishea yang merah dan sangat bergairah.
Lima menit di dapur, Chasen pun kembali ke ruang tengah dengan membawa satu botol air mineral dan satu bowl es batu.
"Ayo di minum dulu." Ucap Chasen sambil membantu Mishea duduk setelah itu dirinya pun duduk di samping Mishea.
Chasen pun membuka tutup botol air mineral kemasan lalu memberikannya pada Mishea.
__ADS_1
Dengan tangan yang gemetaran Mishea pun mengambil botol air mineral dari tangan Chasen lalu menenggak air mineral sampai habis setengah setelah itu Mishea pun mengembalikannya pada Chasen.
Namun karena tangan yang gemetaran, belum sempat Chasen menerima botol air mineral yang di berikan Mishea, Mishea sudah menumpahkannya di celana Chasen.
Apa Chasen marah? Jelas tidak. Karena itu adalah salah satu bagian dari triknya. Membuat Mishea menumpahkan air mineral ke celana-nya lalu Chasen pun berpura-pura spontan membuka celananya hingga menyisakan boxer. Dan perlu di ketahui, saat ini Chasen tidak memakai segitiga pelindung pisang tanduknya.
"Maaf.. maaf.." ucap Mishea merasa bersalah karena sudah menumpahkan air mineral ke celana Chasen.
Chasen tidak menjawab dan malah berdiri dari duduknya lalu membuka celana-nya hingga memperlihatkan boxernya dan pisang tanduk yang sudah mengeluarkan tanduknya.
Melihat tanduk yang menjulang dari balik boxer Chasen, Mishea menelan salivanya kasar. Dan karena sedang dalam pengaruh obat pera*ngsang, gairah Mishea pun makin menggebu-gebu.
Lagi dan lagi, Chasen tersenyum licik melihat ekspresi Mishea saat melihat pisang tanduk yang sudah mengeluarkan tanduknya itu.
Merasakan gejolak yang aneh dalam tubuhnya, Mishea cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
"Wajah mu semakin memerah. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Chasen sambil memegang kening Mishea.
Mendapat sentuhan dari Chasen, hasrat Mishea semakin bergejolak. Padahal yang disentuh hanya keningnya.
"Ada apa dengan tubuh ku? Kenapa tiba-tiba aku seperti ini? Kenapa aku seperti terkena sengatan listrik saat Chasen menyentuhku?" Gumam Mishea dalam hati.
"Ini tidak benar!! Aku harus segera pergi dari sini!" Gumamnya lagi dalam hati.
"Aku tidak pa-pa Chas." Balas Mishea sambil melepaskan tangan Chasen dari keningnya lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Aku pulang dulu. Mungkin aku kelelahan makanya tubuh ku merespon buruk wine yang masuk ke tubuhku."
Chasen mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya kesal karena reaksi Mishea tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Tak mau rencananya rusak hanya karena reaksi Mishea yang di luar ekspektasi, Chasen pun langsung menarik tangan Mishea dan mendudukkan Mishea dengan kasar ke sofa.
"Chas!! Apa yang kau lakukan? Aku mau pulang!!" Ucap Mishea dengan nada meninggi.
"Apa? Pulang? Hei, Shea... Kita belum bersenang-senang! Jadi kau belum boleh pulang." Balas Chasen dengan tatapan buasnya sambil duduk di sebelah Mishea.
"Apa maksud mu Chas?"
"Aku tahu saat ini tubuh mu sedang meronta minta sentuhan kan? Sini biar aku bantu dengan sentuhan lembut ku." Bisik Chasen.
Mata Mishea membulat mendengar kata-kata Chasen.
Kini Mishea sadar dengan apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.
"Chas, jangan bilang kau..."
__ADS_1
"Yes Honey. Aku hanya menambahkan sedikit ramuan cinta dalam wine mu, agar kau tidak merasa canggung bercinta dengan ku!" Balas Chasen mengaku.
Mata Mishea semakin membulat mendengar pengakuan Chasen.
"Kau gi*la Chasen!" Teriak Mishea sambil mendorong tubuh Chasen.
Mishea pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan berlari menuju pintu. Tapi belum juga Mishea sampai di pintu, Chasen berhasil menangkap Mishea.
Chasen pun menggendong Mishea seperti karung beras dan membawa Mishea ke dalam kamarnya yang ada di lantai atas.
"Turunkan aku Chasen!! Aku mohon, turunkan aku!" Teriak Mishea sambil memukul-mukul punggung Chasen.
Tapi Chasen tidak memperdulikan teriakan dan rontaan Mishea. Ia tetap saja berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Chasen langsung melempar Mishea ke atas ranjang.
Tak ingin pasrah begitu saja, Mishea pun berusaha kabur begitu Chasen melemparnya diatas ranjang.
Tapi sayangnya belum sempat kakinya menyentuh lantai, Chasen langsung menindihnya dan merobek blouse yang Mishea kenakan.
KRAAAAK. Suara robekan itu terdengar jelas dikamar Chasen.
Kini terpampang jelas dua gundukan daging Mishea yang masih tertutup mangkok kain.
Mishea yang malu langsung berusaha menutupi dua gundukan dagingnya dengan kedua tangannya.
Chasen pun menarik tangan Mishea yang sedang menutupi dua gundukan dagingnya.
Dan menahan kedua tangan itu dengan dengkul kakinya.
"Jangan Chasen, aku mohon, jangan!!" Mohon Mishea sambil menangis.
KRAAAAK..
Sekali lagi Chasen merobek mangkok kain penutup dua gundukan daging Mishea.
Kini dua gundukan daging itu sudah dalam keadaan polos.
"Woaaah..." Lirih Chasen begitu melihat dua gundukan daging yang masih sangat segar dengan puncak daging yang juga masih sangat merah. Tanda kalau dua gundukan daging itu belum terjamah oleh siapapun.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...