Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
# 34


__ADS_3

Setelah Julya pergi, Nenek Julya pun mengerlingkan matanya pada March.


"Malam ini kau bisa berduaan sepuasnya dengan Julya. Yakinkan dia untuk secepatnya menggelar pernikahan dengan mu." Bisik Nenek Julya.


"Nenek serius? Nenek setuju kalau aku secepatnya menggelar pernikahan dengan Julya?" Tanya March kaget. Ia tak menyangka kalau Nenek Julya juga antusias dengan pernikahan ini. Hanya bedanya niat saja.


Nenek Julya menganggukkan kepalanya mantap.


"Tenang saja Nek, saya pasti bisa membuat cucu Nenek itu menyetujui agar kami segera menikah." Jawab March.


Lima belas menit kemudian.


Julya pun kembali keruang tamu. Suara tawa March dan Nenek Julya pun terdengar jelas di telinga Julya.


Julya tidak langsung bergabung dengan March dan sang Nenek, ia memilih untuk berdiri di sudut lain ruang tamu sambil memandang keakraban sang Nenek dengan March.


"Siapa dia, kenapa Nenek ku mudah sekali akrab dengannya? Agus saja tidak bisa seakrab itu dengan Nenek, apalagi membuat Nenek tertawa seperti itu." Gumam Julya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Sedang apa kau disitu? Sini!" Panggil Nenek Julya.


Julya pun berjalan mendekati sang Nenek.


"Sudah kau bersihkan?" Tanya Nenek Julya.


Julya menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, kalian lanjutkan lah pembicaraan kalian yang tadi sempat terjeda. Nenek mau tidur dulu." Ucap Nenek Julya lalu pergi dari ruang tamu meninggalkan March dan Julya berduaan.


"Sini." March langsung menarik tangan Julya begitu tubuh Nenek Julya sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


"Hish!! Apa sih!!!" Omel Julya sambil memukul tangan March yang menariknya.


"Ingat apa yang ku katakan tadi pagi?"


"Apa?"


"Begitu kau sudah menandatangani surat perjanjian, kau harus ikut dengan ku ke ibukota."


"Kan aku bilang aku tidak mau!"


"Tapi aku tapi aku tidak menerima penolakan baby!!"


"Pemaksa!!"


"Daripada kau kabur membawa benih ku!" Balas March dengan suara yang sedikit meninggi.


"Ssst!!" Julya menutup mulut March.


March menjauhkan tangan Julya dari mulutnya.


"Jul..." Lirih March dengan wajah yang aneh


"Kenapa kau?" Tanya Julya saat melihat wajah March yang sudah berubah warna.


"Jul, dia bangun." Jawab March sambil menunjuk ke arah bawahnya dengan matanya.


Refleks Julya pun langsung menjauh dari March. Melihat Julya mulai menjauh, cepat-cepat March menangkap tangan Julya.


"Jangan kabur! Tanggung jawab!" Ucap March.

__ADS_1


"Kenapa aku? Kan dia bangun sendiri, aku tidak ada melakukan apa-apa!"


"Tadi si kembar mu itu menempel di lengan ku ini! Itu sama saja memberikan sinyal untuk 'adik kecil' ku ini."


"Tapi aku kan tidak sengaja March!!!"


"Aku tidak peduli, pokoknya kau harus bertanggung jawab!!" March pun berdiri dari tempat duduknya dan menarik tangan Julya, tak lupa ia membawa map yang berisi surat perjanjiannya dengan Julya.


"Lepas!!! Ingat March dengan janji mu!!" Ucap Julya dengan nada sedikit meninggi. Ingin berteriak tapi takut mengganggu sang Nenek.


"Tenang baby, kan ada cara lain untuk menenangkan 'adik kecil' ku." Balas March.


Kini March dan Julya sudah berada dalam kamar Julya. March pun mengunci pintu kamar Julya.


"Jangan gi*la March, nanti Nenek ku datang! Pasti langsung berpikiran yang aneh-aneh tentang kita kalau kau mengunci pintunya!" Bentak Julya.


March tidak meladeni Julya. Ia meletakkan terlebih dulu map-nya diatas tempat tidur. Setelah itu membuka resleting celananya dan menurunkan celana, boxer serta sangkar 'adik kecilnya'.


"Apa yang kau lakukan March?" Tanya Julya kaget dengan apa yang sedang March lakukan.


"Apalagi kalau bukan meminta pertanggung jawaban mu untuk menenangkan 'adik kecil' ku yang sedang tantrum." March pun berjalan mendekati Julya lalu menari tangan Julya mengarah ke 'adik kecilnya'.


"March, kau ingkar janji!!"


"Perjanjian kita kan hanya tidak boleh bercinta sampai kita menikah, tapi untuk memuaskan dengan cara lain kan masih bisa." Balas March.


"Ayo Julya, dia sudah tidak sabar." Kata March lagi. Ia sudah sangat tidak sabar.


Karena Julya tak kunjung mau menyentuh 'adik kecilnya', March pun menarik tengkuk Julya lalu mendaratkan bibirnya ke bibir Julya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2