
Keesokan paginya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Julya dan March masih terbuai dengan mimpi-mimpi mereka. Maklum saja, semalam Mister Peni tiga kali mendatangi Miss Vigi.
Kriiing.. Kriiing.. Nada dering panggilan masuk diponsel March mampu membangunkan March dari mimpinya.
March pun meraba nakas yang ada disebelahnya dan mengambil ponsel yang semalam ia letakkan disana.
Tanpa melihat siapa yang menelpon, March menggeser tombol hijau.
"Halo." Jawab March dengan suara seraknya.
"Selamat pagi Tuan March, ini saya. Yang Anda minta semalam sudah saya kirim lewat email Anda." Ucap laki-laki yang ada diseberang telepon.
Mata Match yang tadi setengah terbuka kini terbuka sepenuhnya. March pun menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat layar ponselnya untuk melihat siapa yang sedang berbicara padanya.
Ternyata orang yang ia suruh untuk mencari tahu tentang mantan suami Julya dan wanita yang saat ini hidup bersama dengan mantan suami Julya.
March pun menempelkan ponselnya lagi ketelinga-nya.
"Baik lah, terimakasih." Balas March.
"Sama-sama Tuan." Balas laki-laki itu. Laki-laki itu adalah orang yang sama yang sering Neon pakai untuk mencari tahu tentang seseorang. Dan semalam saat March sedang rehat setelah ronde kedua-nya dengan Julya, March menghubungi Neon untuk meminta nomor laki-laki itu.
Panggilan pun berakhir.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya Julya yang sejak tadi memperhatikan March yang sedang menelpon.
"Orang kantor." Jawab March.
"Kenapa bangun? Tidurlah lagi." Kata March lagi.
"Bagaimana aku tidak bangun kalau suara ponsel mu tadi sangat kencang sekali." Balas Julya.
"Kalau begitu tidur lah lagi." Ucap March. March pun turun dari atas ranjang.
"Apa kau mau berangkat kerja?" Tanya Julya.
March menganggukkan kepalanya sambil mengambil handuk yang ada diatas lantai lalu melilitkan di pinggangnya.
"Aku buatkan sarapan dulu kalau begitu." Ucap Julya sambil mengubah posisinya menjadi duduk.
Mendengar larangan March, Julya pun tidak jadi menurunkan kakinya kelantai dan kembali membaringkan tubuhnya. Sedangkan March, ia keluar dari dalam kamar dan turun kelantai bawah.
Lima belas menit kemudian.
March pun kembali masuk ke kamarnya dengan nampan yang berisi dua sandwich dan satu gelas susu ibu hamil untuk Julya.
Melihat March masuk ke kamar, Julya pun mengubah posisinya menjadi duduk lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
"Apa yang kau buat?" Tanya Julya.
__ADS_1
"Hanya sandwich." Jawab March.
"Ini makan lah, lalu minum susu-nya." Kata March lagi.
"Ambilkan dulu pakaian ku." Pinta Julya. Karena saat ini dirinya hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
March pun memungut lingerie Julya lalu membantu memakaikannya.
Setelah lingerie menutupi tubuhnya, barulah Julya menyantap sandwich yang March buatkan untuknya.
"Apa kau suka?" Tanya March saat melihat Julya sangat lahap menyantap sandwichnya.
"Suka. Enak sekali." Jawab Julya dengan mulut yang penuh sandwich.
March tersenyum. Dipikiran March, anak yang ada dalam kandungan Julya juga menyukai sandwich yang ia buatkan.
"Kalau begitu makanlah juga bagian ku ini." Ucap March.
"Lalu untuk mu apa?" Tanya Julya.
"Nanti aku sarapan sereal saja. Kau lebih membutuhkannya karena anak ku pasti juga menyukainya." Jawab March.
"Aku mandi dulu yah." Kata March lagi sambil mengelus rambut Julya.
Julya hanya merespon dengan anggukan kepala.
__ADS_1
March pun berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Julya yang sedang menikmati sarapannya.
Bersambung...