
Sesampainya di dalam kamar, Rai langsung menggiring Mishea ke sofa.
"Kamu gak pa-pa Sayang?" Tanya Rai seraya berlutut di hadapan Mishea sambil memperhatikan wajah Mishea yang semakin pucat.
Mishea tidak menjawab, malah matanya melirik ke kanan dan kiri seperti sedang mencari sesuatu.
"Tenang Sayang, disini aman. Apalagi kamu bersama ku." Ucap Rai yang tahu arti lirikan mata Mishea.
"Tapi aku takut Rai." Lirih Mishea seraya menggenggam erat tangan Rai."
"Tidak ada yang perlu ditakuti, kan ada aku disini." Balas Rai.
Rai pun berdiri dari posisi berlutut-nya.
"Mau kemana?"
"Aku ambil minum untuk mu dulu." Jawab Rai lalu berjalan menuju meja kecil dimana sudah ada air mineral kemasan di meja itu.
Dengan satu botol air mineral kemasan di tangannya, Rai pun kembali berjalan menghampiri Mishea.
KRAAK. Dengan sekali putaran Rai membuka tutup botol air mineral kemasan itu.
"Ini minum lah dulu biar lebih tenang." Ucap Rai seraya memberikan botol air mineral itu pada Mishea yang sekarang telah resmi menjadi istrinya.
Mishea pun menerima botol air kemasan itu kemudian menenggak isinya.
"Bagaimana, sudah lebih tenang?" Tanya Rai setelah Mishea selesai menenggak seperempat air mineral yang ada di dalamnya. Mishea pun menganggukkan kepalanya seraya mengembalikan botol itu pada Rai.
Setelah meletakkan botol di nakas, Rai pun duduk disebelah Mishea lalu menarik Mishea dalam pelukannya.
"Kamu harus bisa melawan rasa trauma mu itu Sayang, jangan biarkan memori kelam itu menguasai jalan pikiran mu. Sekarang tanam lah dalam hati dan pikiran mu tentang diri ku saja. Oke." Ucap Rai seraya mengelus kepala Mishea.
Mishea menganggukkan kepalanya kecil merespon kata-kata Rai.
"Apa kamu mau aku bantu menanam memori tentang ku di hati dan pikiran mu?" Tanya Rai.
"Bagaimana cara-nya?" Tanya Mishea seraya mendongakkan wajahnya untuk melihat Rai.
"Ayo sini." Rai mengajak Mishea berdiri dari sofa dan menggiring Mishea untuk duduk di ranjang.
__ADS_1
"Tarik nafas mu dalam-dalam, lalu buang perlahan." Pinta Rai setelah mereka duduk di tepi ranjang. Mishea pun menurut dan melakukan apa yang Rai minta.
"Sekarang pejamkan matamu." Pinta Rai lagi dan kembali Mishea menurut.
"Sekarang bayangkan kamu sedang berada dalam taman yang indah dengan berbagai macam bunga di dalam taman itu." Rai mulai memberi sugesti pada Mishea.
Mishea pun mulai membayangkan seperti yang Rai katakan.
"Apa yang kamu lihat setelah membayangkan taman itu?"
"Indah. Taman yang begitu indah." Jawab Mishea.
"Bagus. Sekarang bayangkan aku juga berada dalam taman itu dan berjalan mendekati mu dari arah belakang mu. Lalu kamu membalikkan tubuhmu karena sadar akan kedatangan ku." Rai kembali memberi sugesti pada Mishea.
"Apa yang kamu lihat dan kamu rasakan begitu melihat diri ku juga ada di taman itu?"
"Aku melihat kamu begitu tampan dan aku merasakan jantung ku berdebar dengan sangat kencang saat kamu berjalan makin dekat ke arah ku."
"Apa jantung mu berdebar karena kamu sedang jatuh cinta padaku?"
Mishea menganggukkan kepalanya.
Melihat wajah Mishea yang tenang, nyaman dan terlihat begitu menikmati sentuhan-nya Rai tersenyum senang karena itu tandanya Mishea telah terbawa dalam sugesti yang ia berikan.
"Terus lah menikmati sentuhan-sentuhan yang ku berikan." Ucap Rai seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Mishea lalu..
Cup. Perlahan tapi pasti Rai menempelkan bibirnya ke bibir Mishea untuk beberapa detik.
"Apa kamu juga bisa merasakan lembutnya kecupan yang aku berikan?" Tanya Rai dan di balas anggukan kepala oleh Mishea.
"Sekarang bayangkan kita berciuman dengan sangat lembut dan penuh cinta." Rai mulai masuk pada sugesti modus yang sesungguhnya.
Mendengar itu Mishea membuka matanya.
"Rai..." Lirih Mishea dengan sorot mata ragu. Ia ragu apakah ia bisa membayangkan itu di alam bawah sadarnya.
"Percaya padaku. Lakukan saja apa yang aku arahkan pada mu." Ucap Rai meyakinkan Mishea.
Mishea pun kembali memejamkan matanya dan mulai membayangkan Rai mencium lembut bibirnya dengan penuh cinta.
__ADS_1
Setelah Mishea memejamkan matanya, Rai pun kembali mengecup bibir Mishea dengan sangat lembut untuk beberapa detik.
Setelah beberapa detik bibir Rai hanya mengecup, perlahan Rai mulai melu*mat tipis-tipis bibir itu manis itu.
Tak ada lagi rasa takut yang Rai rasakan dalam diri Mishea saat dirinya mulai melu*mat tipis bibir manis istrinya itu malah yang ada Rai merasakan kalau Mishea sudah mulai menikmati luma*tan-luma*tan yang bibir Rai berikan.
Merasakan Mishea yang sudah menikmati sentuhan bibirnya, Rai pun mulai menurunkan sentuhan bibirnya ke leher jenjang Mishea.
"Eugh..." Lenguhan manja pun keluar dari bibir Mishea saat bibir Rai memberikan sentuhan lembut di lehernya.
Dan suara lenguhan Mishea berhasil membangkitkan gairah hasrat kelaki-lakian Rai.
"Tetap pejamkan matamu dan cukup merasakan sentuhan-sentuhan yang aku berikan." Kembali Rai memberi sugesti pada Mishea karena ia ingin memperdalam sentuhannya pada tubuh Mishea dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Mishea.
Rai pun kembali melu*mat bibir Mishea tapi kali ini tangannya sudah tidak tinggal diam. Tangan Rai mengelus punggung Mishea dan perlahan menurunkan resleting dress putih yang saat ini Mishea kenakan.
Setelah berhasil menurunkan resleting itu, dengan perlahan Rai menurunkan dress itu hingga sebatas pinggang.
Kemudian dengan bibi-nya yang masih memberikan luma*tan lembut di bibir Mishea, Rai membaringkan tubuh Mishea di ranjang. Mishea yang sudah terbawa arus sugesti yang Rai berikan hanya memasrahkan dirinya atas apa yang sedang Rai lakukan sekarang.
Setelah tubuh Mishea berbaring diranjang, Rai pun menindih tubuh Mishea dan kembali menurunkan bibirnya ke leher Mishea sambil tangannya kembali mengelus punggung Mishea untuk membuka pengait yang menutupi dua gunung susu Mishea.
Tidak perlu waktu lama bagi Rai untuk membuka pengait itu, tangannya sudah teramat profesional untuk melakukan hal se-remeh itu.
Setelah pengait terbuka, Rai pun menarik penutup gunung susu dan membuangnya ke sembarang arah.
Kini dua gunung susu itu sudah dalam keadaan polos. Rai berhenti sejenak dari aktifitasnya yang sedang memberi sentuhan di leher Mishea untuk melihat keindahan gunung susu Mishea yang kini sudah resmi menjadi miliknya.
Rai menelan salivanya susah payah saat melihat gunung susu yang begitu bulat dan padat serta puncak gunung yang masih berwarna merah muda. Benar-benar fenomena alam yang sangat menggoda jiwa kelaki-lakian Rai. Apalagi baru ini Rai melihat gunung susu yang masih bulat dengan puncak gunung yang masih merah muda, karena sebelum-sebelumnya ia hanya menikmati gunung susu yang sudah kendor dengan puncak gunung yang sudah kecoklatan.
Rai tidak peduli kalau dirinya bukanlah laki-laki pertama yang menikmati keindahan gunung susu itu, toh laki-laki yang pernah menikmati keindahan gunung susu Mishea menikmatinya dengan cara yang ilegal. Sedangkan dirinya dengan cara yang legal dan pastinya rasanya akan jauh berbeda.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1