
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
Dua jam sebelumnya, March sudah mendapatkan informasi dari orang suruhannya kalau Agus sudah meninggalkan rumah itu.
March pun langsung menghubungi Julya tapi tidak mengatakan kalau rumah Julya sudah berhasil March rebut dari tangan Agus. March hanya mengatakan ingin menjemput Julya saat jam makan siang.
Dan disini lah March sekarang, di lobi apartemennya.
Tiin.. Tiin.. March membunyikan klakson mobilnya agar Julya yang sedang berdiri di pintu lobi melihat dirinya.
Julya pun menoleh dan berjalan menuju mobil March. Membuka pintu depan mobil lalu masuk kedalam mobil.
"Sudah lama menunggu?" Tanya March sambil membantu Julya memasang seatbelt.
"Baru lima menit." Jawab Julya.
"Kita mau makan dimana?" Tanya Julya.
"Kau mau makan apa?" March malah bertanya balik.
__ADS_1
"Mmm..." Julya nampak berpikir.
"Aku ingin makan ayam geprek." Jawab Julya.
"Oke." Balas March.
March pun melajukan mobilnya menuju restoran ayam geprek yang tak jauh dari rumah Julya. Sengaja March membawa kesana, karena setelah makan March ingin langsung mengajak Julya kerumah lamanya.
Julya mengernyitkan keningnya melihat March membawanya ke daerah tempat rumah lamanya berada.
"Ini kan arah mau kerumah lama ku." Lirih Julya pelan namun masih bisa didengar March.
"Oh." Julya membulatkan mulutnya. Masuk akal alasan yang March berikan karena memang didaerah itu ada restoran ayam geprek yang sangat enak dan terkenal.
Tak sampai dua puluh menit mereka pun sampai di restoran itu.
Setelah mobil terparkir mulus, Julya dan March pun turun dari dalam mobil dan berjalan memasuki restoran.
"Duduk saja, biar aku yang pesan." Ucap March.
__ADS_1
Julya pun mencari tempat duduk sedangkan March pergi memesan makanan untuk mereka.
Setelah memesan makanan, March pun menyusul Julya yang sudah duduk manis ditempatnya.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, March dan Julya asyik mengobrol. Sesekali March mengelus rambut Julya dan mengusap perut Julya. Mereka terlihat sangat mesra. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang memandang mereka dengan tatapan penuh dendam.
Pemilik sepasang mata itu tak lain tak bukan adalah Agus.
Agus yang lebih dulu ada di tempat itu untuk mengisi perut, langsung memakai topi-nya begitu melihat Julya dan March masuk ke dalam restoran.
Tempat duduk Agus yang berada di pojokan membuat Julya dan March tidak menyadari kalau sedari tadi Agus sedang memperhatikan gerak-gerik mereka.
Melihat March begitu perhatian dengan Julya dan Julya yang juga nampak bahagia dengan March, membuat Agus emosi. Agus tak terima jika kehidupan Julya malah jadi lebih baik setelah apa yang telah Agus lakukan pada Julya, mulai dari mengambil semua aset milik Julya sampai memfitnah Julya agar Julya tidak memiliki job manggung.
Emosi Agus makin menjadi-jadi saat pesanan datang ke meja March dan Julya. Dengan mata kepala Agus sendiri, Agus melihat betapa March memanjakan Julya dengan menyuapi mantan istrinya itu. Hal yang tak pernah Agus lakukan pada Julya saat Julya menjadi istrinya.
"Breng*sek!!! Kenapa sekarang dia jadi lebih bahagia!! Harusnya dia menderita! Dan sekarang malah aku yang jadi menderita! Lihat saja Julya, kalau aku menderita, kau juga tidak boleh bahagia!" Geram Agus.
Bersambung...
__ADS_1