
Sesampainya di dalam kamar mandi, Julya langsung memuntahkan air kental Mister Peni di wastafel.
"Kenapa kau berlari seperti itu Julya! Itu sangat berbahaya! Bagaimana kalau kau jatuh dan terpeleset! Apa kau tidak memikirkan anak kita?" Omel March.
"Kenapa kau memarahi ku! Ini kan salah mu juga, kenapa kau memuntahkan air kental Mister Peni di dalam mulut ku!" Balas Julya setelah selesai membersihkan mulutnya.
March pun diam tak berkutik.
"Maaf." Hanya satu kata itu yang bisa March ucapkan pada Julya sambil berjalan mendekati Julya yang masih berdiri di depan wastafel.
"Terimakasih sudah membantu ku menenangkan Mister Peni." Ucap March lagi sambil menyeka air yang ada di bibir Julya. Dan kata kedua ini adalah kata wajib yang harus di ucapkan oleh para suami pada istri mereka sebagai wujud apresiasi para suami atas pelayanan istri mereka. Dalam hal ini bukan hanya pelayanan dalam hal ranjang saja, melainkan juga atas semua pelayanan istri untuk suami.
"Anak kita tidak terguncang kan di dalam sana?" Tanya March sambil mengusap perut Julya.
"Tidak. Dia baik-baik saja." Jawab Julya.
"Jangan lakukan itu lagi, oke! Jantung ku hampir copot melihat mu berlari seperti itu." Kata March lagi.
Julya menganggukkan kepalanya.
March pun mencium bibir Julya dan Julya membalasnya. Ciuman yang tadinya lembut lama kelamaan menjadi ciuman panas. Julya mengalungkan tangannya ke leher March.
__ADS_1
Merasa hasratnya juga perlu dilepaskan, Julya melepaskan tautan bibir mereka.
"March, puaskan aku!" Pinta Julya dengan nafas yang memburu.
"Bagaimana caranya? Kita kan tidak bisa...."
"Seperti yang aku lakukan pada mu tadi March. Aku merindukan lidah mu menari dengan Miss Vigi." Potong Julya.
"Baik lah, seperti yang kau minta Baby." Balas March.
March pun mengangkat Julya dan mendudukkan Julya di wastafel. Lalu membuka tirai berenda penutup rumah Miss Vigi.
March tak langsung mengajak lidahnya menari bersama Miss Vigi, melainkan memberikan sengatan-sengatan kenikmatan di paha kiri dan kanan Julya lalu memainkan lidahnya di depan Miss Vigi.
"Aah.. March." Des*ah Julya.
March tersenyum mendengar des*ahan Julya.
Tahu kalau istrinya ingin segera diantar ke puncak kenikmatan, March pun mulai memasukkan lidahnya ke dalam rumah Miss Vigi dan meliuk-liukkan lidahnya di dalam sana, sambil kedua tangannya memainkan dua gundukan daging milik Julya dan sesekali memilin puncak gundukan daging yang mulai agak membesar sejak Julya hamil.
"Ah.. March.." racau Julya sambil menahan kepala March untuk memperdalam permainannya di bawah sana karena Julya sudah hampir sampai di puncak klimakstation.
__ADS_1
Dan akhirnya...
"Aaargh...." Erangan panjang pun keluar dari mulut Julya. Lidah maut March berhasil mengantarnya sampai ke puncak klimakstation.
*****
Satu bulan kemudian.
Setelah satu bulan Julya menghadapi March yang teramat posesif padanya, akhirnya hari ini March mengizinkannya untuk mulai beraktivitas kembali, yah meski dengan begitu rentetan syarat yang March ajukan.
Tak ingin membiarkan istrinya lelah, March pun memanggil Bik Narsih, pembantunya yang dulu saat ia masih mengarungi biduk rumah tangga dengan Mey.
Setelah bercerai dengan Mey, March langsung menjual rumah itu dan Bik Narsih terpaksa harus kembali ke kampung, meski March tidak lagi memakai jasa Bik Narsih, tapi dengan rutin March mengirim uang bulanan untuk Bik Narsih, karena tahu Bik Narsih masih memiliki dua tanggungan anak yang masih sekolah.
Hari ini adalah hari peresmian WO & EO milik Julya, peresmian yang sangat terlambat dari waktu yang March janjikan pada Julya sebelum Julya mengalami musibah. Tapi tak apa, toh yang penting tetap dilakukan peresmian.
Tak ingin bekerja sendiri, Julya juga mengajak Novi sebagai partnernya untuk mengembangkan WO & EO miliknya.
Rumah Julya yang lama pun sudah March ratakan bersama dengan rumah yang ada di sebelah rumah itu yang sudah March beli. Dengan seizin Julya, March akan membangun ulang rumah itu menjadi rumah untuk keluarga kecilnya.
Bersambung...
__ADS_1