Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
# 30


__ADS_3

"Kenapa tiba-tiba sekali? Apa kalian..." Neon memberi tatapan penuh kecurigaan pada March.


"Iya. Kami mengulanginya lagi semalam. Dan aku tidak memakai pengaman. Jadi ada kemungkinan dia akan hamil anak ku."


"Cih. Apa tidak sebaiknya kau menunggu dia sampai hamil saja baru kau bertanggung jawab?"


"Sampai kapan? Apa tidak kasihan pada ku yang uring-uringan karena Julya?"


"Apa kau sudah jatuh cinta padanya?"


"Mungkin hati ku belum. Tapi tubuhku sepertinya sudah jatuh cinta padanya." Jawab March.


"Sudah, cepat buatkan saja yang aku minta. Agar aku bisa langsung kembali ke pulau X dan membawa pulang Julya kesini." Ucap March.


"Segitu tidak sabarannya kau?"


"Bukan tidak sabaran. Aku hanya tidak ingin dia kabur lagi. Bisa gi*la Mister Peni kalau dia kabur lagi." Jawab March.


"Oh iya satu lagi. Tolong kau urus pernikahan ku dengan Julya. Aku ingin segera menikah dengannya dalam minggu-minggu ini." Kata March lagi.


"Whaaaat???" Teriak Neon makin terkaget-kaget.


"Lakukan saja! Aku tunggu di ruang kerja ku!" Ucap March. Setelah mengatakan itu, March pun keluar dari ruang kerja Neon dan berjalan keruang kerjanya.


"Kesurupan apa otaknya? Kenapa tiba-tiba sekali? Bukan kah kemarin-kemarin dia mengatakan tidak ingin menikah lagi. Tapi kenapa setelah dirinya sudah sembuh, jadi ingin cepat-cepat menikah? Apa karena 'adik kecilnya'? Kalau iya, kan bisa saja dia menyewa wanita pemuas ranjang." Lirih Neon.


KRIIIING. Tiba-tiba saja bunyi telepon di meja kerja Neon berbunyi.

__ADS_1


Neon pun mengangkat gagang teleponnya.


"Cepat kerjakan apa yang ku minta!!!" Teriak March dari seberang telepon.


Sangking kencangnya suara teriakan March, Neon sampai-sampai menjauhkan telinganya dari gagang telepon.


"Iya March! Kau tidak sabaran sekali." Jawab Neon. Neon pun cepat-cepat menutup teleponnya.


Tak ingin March menerornya lagi, Neon pun langsung mengerjakan apa yang March minta.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Setelah sedikit drama di kantor yang harus March lewati, kini March sudah berada kembali di pulau X dengan membawa surat perjanjian yang Julya inginkan.


Tak perlu ditanya lagi kemana tujuan March kalau bukan ke rumah Nenek Julya.


Ceklek. Tak lama pintu pun terbuka.


"Hai ba- - - - by.." Sapa March. Suara yang diawal sangat bersemangat makin lama makin melemah saat melihat sosok wanita tua yang ada di hadapannya.


"Baby? Tidak ada yang namanya Baby disini!" Ucap Nenek Julya.


"Maaf Nek, sebenarnya saya..."


"Siapa Nek?" Tanya Julya dari arah belakang sang Nenek.

__ADS_1


Tak lama mata Julya membulat melihat March ada di depan pintu rumah Neneknya.


"Mau apalagi dia kesini?" Geram Julya dalam hati.


"Hai sayang." Sapa March sambil melambaikan tangannya pada Julya yang masih berdiri di belakang sang Nenek.


"Sayang? Apa kau sedang memanggil ku?" Malah Nenek Julya yang merespon.


Mendengar itu Julya tertawa kecil.


"Bu-bukan Nek, maksud saya. Saya berbicara dengan cucu Nenek." Jawab March salah tingkah.


"Oh." Respon Nenek Julya.


"Kau mengenalnya Julya?" Kini sang Nenek bertanya pada Julya.


Dengan cepat Julya menggelengkan kepalanya.


Melihat Julya menggeleng, jelas saja March memberi pelototan tajam pada Julya. Sedangkan Julya menjulurkan lidahnya sedikit untuk mengejek March.


"Kau dengar, cucu ku saja tidak mengenal mu!"


"Cucu anda yang berbohong Nek." Jawab March.


"Julya sayang, jangan membuat Nenek mu berpikir yang macam-macam tentang ku. Apa kau lupa kalau se..."


"Iya Nek. Aku mengenalnya, dia teman ku." Cepat-cepat Julya memotong ucapan March sebelum March bicara sembarangan tentang apa yang mereka lakukan kemaren malam.

__ADS_1


March pun tersenyum penuh kemenangan melihat Julya yang ketar-ketir.


Bersambung...


__ADS_2