
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka, March pun keluar dari dalam kamar mandi.
Julya yang sedang duduk didepan meja rias pun menoleh kearah pintu.
Melihat March yang baru selesai mandi dengan handuk yang melilit di pinggang dan aroma sabun yang menguar dari tubuh March membuat Julya bergai*rah.
Sama dengan March, penampakan Julya yang sudah memakai lingerie merah yang tembus pandang membuat March yang memang sejak tadi bergai*rah makin bergairah.
March berjalan mendekati Julya lalu memeluk istrinya itu dari belakang.
"Pakai baju mu dulu March!!" Pinta Julya.
"Untuk apa pakai baju kalau nanti ujung-ujungnya di lepas lagi." Balas March sambil menciumi ceruk leher Julya.
Julya memejamkan matanya menikmati sentuhan bibir March di ceruknya.
"Kalau begitu keringkan dulu rambut mu." Kata Julya lagi.
"Tidak perlu Baby, nanti juga basah lagi karena keringat." Jawab March.
Perlahan tangannya menurunkan tali lingerie yang ada disisi kanan dan kiri. Begitu tali lingerie diturunkan, otomatis lingerie pun terbuka sampai sebatas pinggang Julya hingga menampilkan dua gundukan daging milik Julya yang sudah tidak tertutupi penghalang.
Dengan tidak sabarannya, tangan March pun bermain dengan kedua gundukan daging itu.
"Aah...." des*ah Julya.
__ADS_1
Mendengar suara des*ahan Julya, March pun membalikkan tubuh Julya agar mereka bisa berhadapan. March mendudukkan Julya di meja rias.
Julya pun melingkarkan tangannya di leher March, lalu mencium bibir suaminya dengan sangat rakus. Tak perlu ditanya lagi, March pun membalas ciuman Julya dan mereka pun berciuman panas.
Sambil bibir mereka bertaut, March membuka lilitan handuknya dan membuat dirinya kini dalam keadaan polos.
March mengambil tangan Julya dan mengarahkan tangan Julya untuk memegang Mister Peni. Setelah Julya memegang Mister Peni dan memberi pijatan lembut pada Mister Peni, March pun membalas dengan memainkan jari jemarinya di depan pintu rumah Miss Vigi.
"Ssh...ah." des*ah Julya.
"Sebut nama ku Julya." Ucap March.
"Owh.. March.." des*ah Julya lagi dengan menyebut nama March.
"Owh.. Julya." Balas March.
Julya pun mengarahkan Mister Peni menuju rumah Miss Vigi.
"Tunggu." Ucap March. Padahal Mister Peni sudah mencium pintu rumah Miss Vigi.
"Kenapa?" Tanya Julya dengan raut wajah kesal.
"Mister Peni harus pakai pengaman sekarang." Jawab March.
"Tapi March aku sudah tidak tahan!" Protes Julya.
__ADS_1
"Sabar, sebentar." Ucap March sambil menjauhkan diri dari Julya dan mencari pakaian yang tadi ia pakai.
"Apa yang kau cari?!" Tanya Julya saat melihat March hanya berputar-putar.
"Mana pakaian ku tadi?" Tanya March.
"Di keranjang pakaian kotor." Jawab Julya.
March pun berjalan mendekati keranjang pakaian kotor yang ada di dekat kamar mandi. Untungnya pakaian kotornya tadi ada di paling atas, jadi March tidak perlu mengobrak-abrik pakaian kotor yang ada di dalamnya.
March merogoh saku celananya dan mengambil satu kotak pengaman yang tadi ia beli saat di minimarket.
"Kapan kau beli itu?" Tanya Julya saat melihat March mengeluarkan satu kotak pengaman.
"Tadi waktu di minimarket." Jawab March sambil membuka kotak itu dan mengeluarkan satu bungkus pengaman dari dalam lalu membuka bungkus itu dan mengeluarkan sarung karet untuk Mister Peni-nya.
Selagi March menyarungkan Mister Peni-nya, Julya turun dari atas meja rias dan berjalan mendekati March.
"Ayo." Julya menarik tangan March menuju sofa saat melihat March sudah selesai menyarungkan Mister Peni-nya.
Julya mendudukkan March di sofa lalu naik keatas pangkuan March. Karena gai*rah Julya yang sudah menggebu-gebu, Julya pun langsung mempertemukan Mister Peni dan Miss Vigi.
"Aaah..." Des*ah keduanya saat Mister Peni bertemu dengan Miss Vigi.
Bersambung...
__ADS_1
*** Maaf yah kakak-kakak, aku up-nya satu-satu dulu, lagi gak enak badan soalnya 🙏🙏 ***