
Pagi harinya.
"Eugh.." Julya melenguh sambil merentangkan kedua tangannya lalu mengerjapkan matanya.
Ia pun menoleh ke sebelahnya, ternyata masih ada March di sebelahnya.
Semalam March tidak pulang dan malah menginap di rumah Nenek Julya dan tidur seranjang dengan Julya. Maklum saja, setelah ronde ketiga pertempuran ranjang mereka, Julya dan March pun sama-sama terkapar karena kelelahan.
Julya memandangi wajah March yang sedang tidur.
"Matanya, hidungnya, bibirnya, kenapa semua sangat sempurna?" Gumam Julya dalam hati.
Mata Julya pun makin turun ke dada March.
Julya menggigit bibir bawahnya saat melihat dada bidang dengan bulu-bulu halus di dada March. Fantasi liar mulai menguasai isi kepalanya.
"Ku rasa otak ku sudah mulai terkontaminasi kelakuan mesumnya." Gumam Julya lagi dalam hati.
Mata Julya pun semakin turun ke bagian bawah March tempat Mister Peni yang sedang tertutupi selimut.
"Astaga. Bahaya ini! Aku harus segara keluar dari kamar ini!!" Lirih Julya saat melihat Mister Peni yang sedang mengacung.
Julya pun cepat-cepat menarik selimut yang juga March pakai sampai menunjukkan jelas bentuk Mister Peni, lalu melilitkan selimut itu ketubuhnya lalu menurunkan kakinya.
Namun saat Julya hendak berdiri, tiba-tiba tangan March menarik selimut Julya hingga Julya kembali terjerembab di atas ranjang. March pun memeluk tubuh Julya dengan sangat erat.
"Mau kemana baby?" Tanya March dengan suara serak khas orang baru bangun tidurnya.
"Minggir kau! Aku ingin membersihkan tubuh ku." Jawab Julya sambil mendorong tubuh March.
March tidak menahan Julya dan membiarkan Julya turun dari atas ranjang.
"Apa kau ingin membiarkan ku seperti ini?" Tanya March karena sekarang ia sedang tidak memakai apa-apa.
__ADS_1
"Kau pakai lah pakaian mu. Lalu pergi dari sini." Usir Julya.
"Cih.. habis manis sepah di buang!"
"Bukan kah kau bilang ingin membuat surat perjanjiannya? Ya sudah sana cepat pulang!"
"Apa kau sekarang sudah tidak sabar ingin menikah dengan ku?" Goda March.
"Cih. Ya sudah kalau tidak mau! Kesepakatan kita batal kalau begitu!" Balas Julya.
Bukannya takut, March malah tertawa terbahak-bahak.
"Kau menggemaskan jika sedang marah seperti itu." Ucap March ditengah-tengah tawanya.
"Baik lah, aku pergi. Tapi buatkan aku sarapan dulu." Ucap March sambil mendudukkan dirinya lalu menurunkan kakinya dari atas ranjang.
"Enak saja! Kau pikir aku pelayan mu!"
"Kau memang bukan pelayan ku baby, tapi kau calon istri ku." Jawab March.
"Cih.. pintar sekali kau memutar fakta!" Decih Julya.
"Aku mandi dulu kalau begitu!" Ucap Julya.
"Apa kau tidak mau mengajak ku mandi bersama?"
"Tidak! Ingat kata-kata mu semalam!" Jawab Julya ketus lalu berjalan keluar dari dalam kamar. Sedangkan March ia terkekeh kecil melihat tingkah Julya.
"Sabar sebentar lagi yah." Ucap March pada 'adik kecilnya' yang masih mengacung itu sambil memberikan elusan pelan.
******
Setelah Julya membersihkan tubuhnya, lalu berganti dengan March yang membersihkan tubuhnya. Maklum kamar mandi di rumah Nenek Julya hanya satu. Selagi March mandi, Julya menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian.
Dengan pakaian yang ia pakai semalam, March masuk ke ruang makan.
"Ini kau yang masak?" Tanya March saat melihat sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya.
"Apa kau melihat ada penjual nasi goreng disekitar sini?" Julya malah bertanya balik.
"Aku kan hanya bertanya. Aku pikir kau tidak bisa masak. Atau bisa masak, tapi hanya bisa masak air dan mie instan." Balas March sambil menarik kursi meja makan.
"Kalau masak seperti ini aku bisa, tapi kalau masak-masakan yang menggunakan banyak bumbu, aku sedang belajar dari Nenek ku." Jawab Julya.
"Oh.. iya Nenek mu mana?"
"Nenek ku sedang pergi ke pulau sebrang."
"Oh. Apa kau bekerja di resort Nexus?" Tanya March.
Julya menggeleng.
"Tuan Nexus memberi kepercayaan pada warung Nenek ku untuk menyediakan makanan khas pulau ini. Jadi setelah semua menu sudah jadi, Nenek ku baru pergi ke pulau sebrang."
"Oh.." respon March.
"Makan lah. Kalau rasanya tidak sesuai lidah mu, paksa saja untuk menelannya. Awas saja kalau kau buang!" Ancam Julya.
"Kalau kau sengaja memberi banyak garam, masa iya aku paksa makan!"
"Ish.. tau begitu aku masukkan banyak garam tadi ke nasi goreng mu!!" Gerutu Julya.
"Cepat makan! Otak ku tidak sepicik otak mu!" Ucap Julya lagi.
"Cih... Galak sekali!" Decih March.
__ADS_1
Bersambung...