
Dua jam kemudian.
Lauk pun telah habis. Rolling door warung juga sudah Julya tutup setengah, Julya pun hendak membersihkan warung makan sang Nenek.
"Sini, aku bantu." Ucap March saat melihat Julya yang hendak membawa piring kotor yang ada di etalase ke dapur.
"Tidak perlu, kau duduk manis saja disitu!" Jawab Julya.
"Jangan membuat ku terlihat seperti laki-laki tidak berguna!! Sini, biar aku saja!" March pun mengambil paksa piring kotor yang ada di tangan Julya.
Setelah piring-piring kotor sudah March bawa ke dapur, Julya lalu mengambil kain lap dan cairan pembersih kaca untuk membersihkan kaca etalase.
Melihat Julya sedang membersihkan kaca, March tak ingin duduk manis. Ia pun mengambil sapu dan menyapu warung makan Nenek Julya.
Melihat March berinisiatif menyapu, Julya mengulas senyum di bibirnya. Namun tak lama senyum itu berganti dengan wajah ketus Julya.
Bagaimana tidak ketus kalau ternyata saat ini ibu-ibu masih nongkrong di depan warung Nenek Julya. Untuk apalagi kalau bukan untuk melihat March. Dan yang membuat Julya semakin kesal, March yang tau ada ibu-ibu yang sedang memperhatikannya, bukannya buang muka atau bersikap acuh, ini March malah melempar senyum dan tebar pesona di depan ibu-ibu itu.
Hati Julya yang sudah hampir meledak karena cemburu pun langsung menutup semua rolling door dengan kasar.
BRAAANG. Begitulah kira-kira bunyinya.
"Kok di tutup semua?" Tanya March.
"Kenapa? Gak suka aku tutup semua pintunya? Biar bisa kau tebar pesona sama ibu-ibu yang di luar itu?" Jawab Julya seperti penyanyi rapper lalu kembali melanjutkan pekerjaannya membersihkan etalase.
March mengernyitkan keningnya heran dengan Julya yang sedang marah-marah.
__ADS_1
"Kenapa dia? Aku kan hanya berusaha ramah pada ibu-ibu itu. Kenapa dia malah bilang aku tebar pesona?" Gumam March bertanya-tanya dalam hati.
March yang bingung dengan sikap Julya pun menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan lagi menyapu.
*****
Setelah urusan di rumah makan selesai, March, Julya dan Nenek Julya kembali kerumah.
"Cepat kemasi barang mu!!" Perintah March pelan namun masih bisa di dengar oleh Nenek Julya.
"Kalian mau kemana?" Tanya Nenek Julya.
"Astaga, aku belum bilang pada Nenek ternyata." Gumam March dalam hati.
"Nek, saya minta izin membawa cucu Nenek yang cantik ini kembali ke ibukota yah Nek. Kami ingin mengurus pernikahan kami." Ucap March meminta izin. Dan jelas ucapan March itu membuat Julya membulatkan matanya.
"Tidak Nek, dia bohong!! Dia ingin mengajak ku bekerjasama." Sahut Julya sebelum Neneknya makin berpikiran yang aneh-aneh.
"Bekerjasama diatas ranjang maksud mu?" Bisik March di telinga Julya.
"Hish!!!" Geram Julya sambil memberi tatapan tajam pada March.
"Boleh kan Nek?" Tanya March.
"Boleh. Lakukan lah apa yang harusnya kalian lakukan. Kalau kalian ingin mempersiapkan pernikahan, lakukan lah, tapi jangan sampai kalian melupakan Nenek. Dan kalau kalian ingin menyiapkan kerjasama bisnis, lakukan lah dengan profesional." Jawab Nenek Julya.
"Tapi kalau Julya pergi sekarang, siapa yang akan menemani Nenek dan membantu Nenek di warung? Sedangkan tiga gadis tadi hanya pekerja harian yang datang dan pergi." Tanya Julya.
__ADS_1
"Kalau soal warung Nenek, nanti akan ku pekerjakan orang untuk membantu Nenek di warung sekalian nanti kusuruh mereka tidur di rumah ini untuk menemani Nenek." Malah March yang menjawab.
"Nenek tidak keberatan kan kalau orang yang aku pekerjakan tinggal disini?" Tanya March pada Nenek Julya.
"Nenek tidak keberatan, Nenek setuju sekali malah, asal para pekerja mu itu kau yang membayar upahnya." Jawab Nenek Julya.
"Tenang saja Nek, Nenek tidak perlu mengeluarkan uang Nenek untuk membayar mereka. Simpan saja uang Nenek untuk keperluan Nenek sendiri." Balas March.
"Laki-laki atau perempuan yang akan kau pekerjakan nanti?" Tanya Julya.
"Apa maksud pertanyaan mu itu? Apa kau pikir aku akan memperkerjakan laki-laki untuk membantu dan menemani Nenek?" March malah bertanya balik.
"Lagipula kalau pun laki-laki bukan kah itu bagus, nilai penjualan pasti akan naik pesat."
"Enak saja!! Tidak boleh!! Aku tidak setuju kalau laki-laki yang menemani Nenek!!"
"Kenapa? Apa kau takut Nenek di hamili oleh para lelaki itu?" Tanya March.
"Bukan begitu maksud ku bo•doh!! Aku hanya tidak ingin saja tetangga berpikiran yang macam-macam."
"Sudah!! Sudah!! Kenapa jadi kalian berdua yang ribut!!" Lerai Nenek Julya.
"Cepatlah berkemas Julya, jangan membuat calon suami mu ini menunggu lama!!" Perintah Nenek Julya.
"Hish!!" Geram Julya kesal.
Julya pun berjalan ke kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya.
__ADS_1
Bersambung...