Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
# 32


__ADS_3

Melihat March dan Julya saling memberi tatapan, yang Nenek Julya sangka itu adalah tatapan kemesraan, Nenek Julya pun berinisiatif pergi dari ruang tamu dah meninggalkan March dan Julya.


"Sepertinya kalian membutuhkan waktu berdua. Kalau begitu Nenek tinggal dulu." Ucap Nenek Julya sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Tidak kok Nek, kami tidak perlu waktu berdua." Sanggah Julya.


"Sudah tidak usah malu-malu. Selesaikan lah apa yang harus kalian selesaikan." Ucap sang Nenek lagi. Nenek Julya pun berjalan meninggalkan ruang tamu.


"Apa yang sudah kau katakan pada Nenek ku?" Tanya Julya dengan tatapan mengintimidasi pada March.


"Tidak ada." Jawab March sambil matanya berkeliling menatap tembok-tembok ruang tamu.


"Hish, pasti kau sudah bicara macam-macam pada Nenek ku!!" Geram Julya.


"Aku hanya mengatakan kalau aku sudah melamar mu, tapi kau yang sok-sok jual mahal!" Jawab March.


"Kau!!!" Geram Julya lagi sambil mengepalkan tangannya.


"Tidak usah marah-marah." Ucap March sambil berdiri dari tempat duduknya lalu berpindah tempat duduk disamping Julya.


"Ini." Ucap March sambil memberikan map yang berisi surat perjanjiannya yang sudah Neon buatkan dengannya tadi.


"Apa ini?" Tanya Julya.


"Surat perjanjian yang kau mau." Jawab March.


"Kau datang kesini malam-malam hanya untuk ini? Memangnya tidak bisa menunggu besok?" Geram Julya.

__ADS_1


"Tidak." Jawab March cepat.


"Hish!!!" Geram Julya. Julya pun mengambil kasar map yang ada di tangan March.


Julya pun membuka map itu dan membaca tulisan yang ada di dalam surat perjanjian.


"Bagaimana? Itu saja kan yang kau mau?" Tanya March.


Julya menganggukkan kepalanya.


"Aku ambil pena dulu." Ucap Julya lalu berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamarnya.


Tak lama Julya pun kembali ke ruang tamu. Ia kembali mendudukkan dirinya di sofa lalu mengambil map dan menandatangani surat perjanjian itu.


"Ini. Sudah ku tandatangani. Sekarang keluar lah kau dari sini!" Usir Julya.


"Aku lapar, apa tidak bisa kau menjamu ku makan malam?"


"Astaga. Kan yang mau datang kesini kau sendiri!!!" Geram Julya.


"Kalau aku pingsan setelah keluar dari sini, lalu ada orang jahat menggunakan kesempatan ini untuk merampok lalu membu•nuh ku bagaimana?" Tanya March.


"Bukan kah kau yang rugi. Kau tidak bisa mendapatkan lagi rumah mu dan tidak bisa memiliki wedding organizer?" Kata March lagi.


Julya memutar bola matanya malas mendengar kata-kata March.


"Sudah selesai?" Tiba-tiba saja suara Nenek Julya memecahkan perdebatan Julya dan March.

__ADS_1


Mendengar suara Neneknya, sontak Julya berdiri dari tempat duduknya.


"Sudah Nek, March juga sudah mau pulang." Jawab Julya.


"Kenapa langsung pulang? Apa kau sudah makan?" Tanya Nenek Julya pada March.


"Su.."


"Belum." Cepat-cepat March memotong ucapan Julya.


"Kalau begitu makan lah dulu." Jawab Nenek Julya.


"Julya, antar teman mu itu ke ruang makan, layani teman mu dengan baik." Perintah Nenek Julya.


March tersenyum tipis penuh kemenangan mendengar Nenek Julya mendukungnya.


Sedangkan Julya, tidak perlu di tanya lagi betapa kesalnya dia sekarang.


"Ayo." Ajak Julya sambil menepuk pundak March. Julya pun jalan terlebih dahulu menuju ruang makan.


March pun berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti Julya dari belakang.


"Semangat." Ucap Nenek Julya pelan saat March lewat di hadapannya.


"Makasih Nek." Balas March lalu kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruang makan.


"Mudah-mudahan saja laki-laki itu bisa meluluhkan hati Julya dan menyembuhkan luka hati Julya. Kasihan Julya masih muda, tapi sudah harus menanggung beban mental yang sangat berat karena kegagalan pernikahannya." Gumam Nenek Julya sambil menatap punggung March dari belakang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2