
Setelah selesai mengisi perut mereka, March dan Julya pun melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah lama Julya.
Dan kini mereka sudah sampai di depan rumah Julya.
"Untuk apa kita kesini?" Tanya Julya.
"Untuk apalagi kalau bukan untuk melihat rumah mu." Jawab March.
"Aku tidak mau menginjak rumah itu kalau mantan suami ku dan ja*langnya masih ada di sana." Balas Julya.
"Mereka sudah tidak ada." Balas March. March mengambil map yang berisi sertifikat rumah Julya yang sudah March balik nama menjadi nama Julya dari dalam kantong tempat duduk.
"Ini." Lalu menyerahkan map itu pada Julya.
"Apa ini?" Tanya Julya.
"Buka saja." Balas March.
Julya pun membuka map itu, tak lama matanya membulat sempurna.
"March.. ini.." lirih Julya terharu.
March menganggukkan kepalanya.
"Rumah itu kembali menjadi milik mu sekarang. Dan mantan suami mu serta wanitanya sudah tidak ada lagi dirumah itu." Balas March.
"Oh.. March.." Julya langsung memeluk March dan menangis haru dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
"Apa kau senang sekarang?" Tanya March sambil mengelus rambut Julya.
Julya hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia tak tahu harus bicara apalagi untuk mengungkapkan rasa senangnya.
Rumah yang ia beli dari hasil keringatnya manggung sana-sani sebelum menikah dengan Agus, akhirnya bisa Julya dapatkan kembali.
"Ayo kita masuk." Ajak March sambil menjauhkan tubuh Julya dari tubuhnya.
Julya menganggukkan kepalanya.
March dan Julya pun turun dari dalam mobil dan mereka pun berjalan bersama memasuki rumah.
"Rumah ku.." lirih Julya.
"Apa kau masih berniat ingin menjual rumah ini?" Tanya March.
Julya menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kalau tidak usah dijual. Kita ratakan rumah ini. Aku dengar rumah yang disebelah mau di jual. Kita beli saja sekalian dan kita bangun ulang." Usul March.
Julya diam memikirkan usulan March.
"Ayolah jangan terlalu lama berpikir. Pikirkan anak-anak kita kelak. Tidak mungkin mereka besar di apartemen. Kita buat halaman yang luas untuk anak-anak kita bermain." Kata March lagi.
"Apa kita akan berumah tangga selamanya?" Julya malah menanyakan sesuatu yang jauh dari usulan March.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
__ADS_1
"Bukan kah pernikahan kita hanya simbiosis mutualisme. Aku memberikan mu keturunan dan aku mendapatkan rumah dan usaha wedding organizer. Dan setelah itu semua terwujud, bukankah kita harus berpisah?"
"Memangnya ada dalam perjanjian aku menyebut perpisahan?" March bertanya balik.
"Tidak kan?" Kata March lagi.
"Karena aku tidak ingin merasakan perpisahan lagi. Aku ingin hidup selamanya dengan mu Julya, bersama anak-anak kita." Lanjut March.
"Tanpa cinta?" Tanya Julya.
Sebenarnya Julya ingin tahu bagaimana perasaan March padanya sekarang. Karena sejujurnya Julya sudah merasakan benih-benih cinta tumbuh dalam hatinya. Tapi ia masih takut untuk membiarkan benih cinta itu tumbuh, karena takut March tidak memiliki perasaan yang sama padanya.
"Banyak orang yang mempertahankan rumah tangga mereka tanpa cinta dan bertahan hanya demi anak. Jadi aku rasa kita juga perlu membahas soal cinta dalam rumah tangga kita." Balas March.
March tidak sadar kalau ucapannya itu sangat menyakitkan untuk Julya yang sudah mulai tumbuh benih cinta untuknya.
"Kalau begitu jual saja rumah ini!!" Balas Julya. Julya pun keluar dari dalam rumah itu dengan perasaan kesal.
"Hey... Kau yakin ingin menjual rumah ini?" Tanya March sambil mengejar Julya.
Julya tak menjawab.
March menarik tangan Julya dan memutar tubuh Julya agar berhadapan dengannya. Terlihatlah wajah Julya yang sudah di basahi dengan airmata.
"Kau kenapa?" Tanya March tidak peka.
"Tidak kenapa-kenapa! Jual lah rumah ini! Kita akan bercerai setelah anak ini lahir!" Ucap Julya.
__ADS_1
Nyes. Mendengar kata cerai terucap dari mulut Julya, hati March rasanya sakit sekali.
Bersambung...