
Pukul 23.00
Menunggu Mishea bangun, membuat Rai malah tertidur di samping Mishea dengan kepala yang Rai letakkan di atas nakas.
"Eugh..." Lenguh Mishea.
Mishea pun mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke pupil matanya.
Kroook... Fyiuuuh... Kroook... Fyiuuuh...
Suara dengkuran halus Rai.
Mendengar suara dengkuran halus Rai, Mishea pun menoleh ke sebelah kirinya.
"Rai..." Lirih Mishea saat melihat Rai.
Kroook... Fyiuuuh... Kroook... Fyiuuuh..
Mendengar Rai yang mendengkur, Mishea mengulas senyum tipis di bibirnya.
"Aku baru tahu kalau orang ganteng seperti mu bisa juga mendengkur." Lirih Mishea.
Tak tega melihat gaya tidur Rai yang Mishea yakini akan membuat lehernya pegal, Mishea pun mendudukkan dirinya dan hendak membangunkan Rai.
"Rai.." Mishea membangunkan Rai sambil mengelus pipi Rai.
"Eugh..." Rai melenguh sambil mengerjapkan matanya.
Tapi belum juga matanya terbuka sempurna, Rai sudah berteriak.
"Aaakh..." Teriak Rai kaget. Ia kaget melihat Mishea tepat di depan wajahnya. Untung saja Rai tidak sampai terjungkal kebelakang karena kaget.
"Bikin kaget saja!" Protes Rai sambil memegang dadanya yang sudah kembang kempis.
Mishea hanya tersenyum melihat Rai yang kaget.
"Sudah dari tadi kamu bangun?" Tanya Rai.
Mishea menggelengkan kepalanya.
"Baru saja."
"Bagaimana perasaan mu sekarang, apa sudah lebih baik?" Tanya Rai lagi.
Mishea menggelengkan kepalanya sambil menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Sudah jangan khawatir, aku sudah tahu apa yang membuat mu seperti tadi. Aku juga sudah bicara dengan Daddy mu. Tidak ada yang namanya perjodohan. Kamu bebas menentukan laki-laki yang akan menjadi pendamping hidup mu." Ucap Rai.
"Benarkah?" Tanya Mishea dengan wajah yang berbinar.
Rai menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih Rai, terimakasih." Ucap Mishea sambil memeluk Rai.
Deg deg deg deg deg deg..
Detak jantung Rai yang sedang berdetak normal, kembali berdetak dengan tidak normal begitu Mishea memeluknya.
Kriuuuk... Kriuuuk...
Suara perut Mishea.
Mendengar perutnya berbunyi, sontak Mishea melepaskan pelukannya dari Rai dan membalikkan tubuhnya membelakangi Rai karena malu.
Sedangkan Rai, ia langsung menghela nafasnya lega begitu Mishea melepaskan pelukannya. Rai pun mengatur nafasnya untuk mengembalikan ritme jantungnya.
Tapi tak lama Rai sadar kalau Mishea membalikkan tubuhnya karena malu perutnya berbunyi.
"Kamu lapar?" Tanya Rai dari belakang Mishea.
Mishea menganggukkan kepalanya lemah.
"Tunggu disini biar aku panggil pelayan untuk membawakan makanan mu kesini." Ucap Rai lagi.
"Tunggu." Cegah Mishea saat Rai hendak keluar kamar.
"Kenapa?"
"Aku ingin makan diruang makan."
"Ya sudah, ayo kita keruang makan." Balas Rai sambil menjulurkan tangannya ke hadapan Mishea.
Mishea pun menyambut uluran tangan Rai.
Mereka pun berjalan keluar kamar Mishea.
"Apa mau aku gendong ke bawah?" Tanya Rai.
"Tidak usah, aku bisa jalan sendiri."
"Tapi aku mau menggendong mu." Balas Rai lalu menggendong Mishea.
__ADS_1
"Aakh.. Rai, turunkan aku! Kalau Daddy melihat, pasti kamu kena marah!" Ronta Mishea.
"Tidak akan! Daddy mu tidak akan berani memarahi ku." Balas Rai dengan percaya dirinya.
Rai tetap menggendong Mishea sampai diruang makan.
Kini Rai dan Mishea sudah berada diruang makan. Ruang makan sudah gelap.
"Tunggu disini, biar ku nyalakan lampunya." Ucap Rai sambil menurunkan Mishea.
"Dimana saklar lampunya?" Tanya Rai.
"Di samping lemari hias itu." Tunjuk Mishea.
Rai pun berjalan ketempat yang ditunjuk Mishea.
KLAK..
Lampu ruang makan pun menyala.
Mishea pun berjalan menuju meja makan begitu lampu ruang makan menyala.
"Sepertinya pelayan dirumah mu sudah pada tidur." Ucap Rai.
"Sepertinya begitu." Sahut Mishea.
"Apa dirumah ini biasa menyimpan sisa makanan atau langsung membuangnya jika sudah selesai kalian makan?"
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya disimpan kalau ada sisa." Jawab Mishea.
"Dimana biasanya mereka menyimpan makanan sisa-nya?"
"Coba lihat di lemari pendingin."
"Kamu duduk saja disini, biar aku yang melihat ke dapur." Ucap Rai.
Mishea menganggukkan kepalanya lalu duduk di kursi.
Namun saat Rai hendak menuju dapur suara bariton seorang pria menghentikan langkah Rai.
"Sedang apa kalian disini?"
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...