Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
S-2 # 19


__ADS_3

Tak sabar ingin mencicipi dua gundukan daging Mishea, Chasen pun melepaskan dengkulnya yang sedang menahan tangan Mishea dan mengganti dengan tangannya, setelah itu barulah Chasen melahap dua gundukan daging itu secara bergantian.


"Aaakh... Lepas! Jangan lakukan itu pada ku Chasen!! Aku mohon!! Aku mohon Chasen, lepaskan aku!" Teriak Mishea sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Chasen.


Tapi semakin Mishea meronta, Chasen semakin kuat mencengkram tangan Mishea.


Bukan hanya tangannya, tapi lahapan-nya pada dua gundukan daging Mishea semakin dalam dan kasar.


"Aaakh..." Teriak Mishea kesakitan karena Chasen menggigit salah satu puncak gundukan dagingnya.


Tak puas hanya melahap dua gundukan daging Mishea, Chasen pun berhenti melahap dua gundukan Mishea lalu menduduki tubuh Mishea dengan tujuan agar Mishea tidak bisa kabur, setelah itu barulah Chasen melepaskan cengkraman-nya pada tangan Mishea lalu melepaskan kemeja yang Chasen pakai.


Dengan kemeja-nya, Chasen pun mengikat tangan Mishea di kepala ranjang.


Setelah mengikat kuat tangan Mishea, Chasen pun melepaskan boxernya. Dan terlihatlah pisang tanduk yang sudah mengeluarkan tanduknya.


Setelah dirinya dalam keadaan polos, gantian, sekarang giliran Chasen melepaskan sisa pakaian yang menempel di tubuh Mishea.


BUGH... Mishea menendang wajah Chasen ketika Chasen sedang berusaha membuka celananya.


"Aaakh...!!! Breng*sek!!" Teriak Chasen kesakitan.


PLAK..


Chasen yang kesal pun langsung membalas dengan menampar wajah Mishea lalu mencengkram rahang Mishea agar Mishea membuka mulutnya.


Tapi Mishea sekuat tenaga menutup mulutnya rapat-rapat.


Chasen pun mere*mas salah satu gundukan dagingnya dengan satu tangannya dengan sangat kencang tujuannya untuk membuat Mishea kesakitan dan membuka mulutnya berteriak.


"Aaakh..." Berhasil. Mishea akhirnya menjerit kesakitan dan membuka mulutnya.


Saat mulut Mishea sudah terbuka, Chasen langsung menahannya dengan satu tangannya yang lain, lalu memasukkan pisang tanduknya ke dalam mulut Mishea dengan paksa.


"Nikmatilah pisang tanduk ku, perempuan munafik!!!" Geram Chasen.


Chasen pun mulai memainkan pinggulnya dan menghentakkan pisang tanduknya di dalam mulut Mishea.


"Hemph... Hemph.." ronta Mishea dengan mulut yang sudah tersumpal pisang tanduk.


"Ssh... Ah... Bagaimana rasa pisang tanduk ku Shea? Nikmat bukan?" Racau Chasen.


Mishea tak bisa berkutik sama sekali, tangannya terikat, mulut juga tersumpal pisang tanduk, hanya kakinya yang bisa menendang-nendang di bawah sana.


Tapi tidak ada artinya kaki-nya bisa menendang karena hanya angin yang ia tendang.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian.


"Aaargh..." Erangan panjang keluar dari mulut Chasen.


Niat hati hanya ingin memberi pelajaran pada Mishea karena sudah menendang wajahnya, tapi Chasen malah terbawa suasana dan malah sampai menyemburkan banana smoothies di mulut Mishea.


Setelah banana smoothies-nya keluar semua, barulah Chasen mengeluarkan pisang tanduknya yang sudah melemas dari dalam mulu Mishea.


"Cuuuuih... Cuuuih..." Mishea membuang banana smoothies yang Chasen keluarkan di mulutnya, ingin rasanya Mishea berlari kekamar mandi untuk membersihkan mulutnya.


Tapi apalah daya tangannya masih terikat dengan sangat kencang.


Untuk beberapa saat, Chasen yang lemas karena baru mengeluarkan banana smoothies yang mengandung banyak sekali nutrisi, memilih untuk berbaring sejenak untuk mengumpulkan tenaganya di samping Mishea.


"Lepaskan aku Chas, aku mohon.." mohon Mishea sambil menangis.


"Diam!!! Belum juga aku merasakan nikmatnya membuka segel mu, sudah kau suruh aku melepaskan mu!!"


"Kenapa kau melakukan ini pada ku Chas? Kenapa?"


"Karena aku sangat tergiur dengan tubuh mu." Jawab Chasen.


"Kau ingat Shea saat aku masuk rumah sakit karena di pukuli oleh laki-laki yang mengaku mengenal mu? Laki-laki itu benar, aku memang memasang kamera tersembunyi dalam kamar mandi dan kamar mu." Lanjut Chasen.


"Bukan hanya tubuh polos mu yang aku lihat, tapi tubuh polos Shella juga sudah aku lihat. Melihat mu menyabuni dua gundukan daging ini dengan begitu lembut, membuat aku tidak bisa tidur nyenyak." Lanjut Chasen kali ini jarinya sambil memilin salah satu puncak gundukan daging.


Mishea menggerakkan tubuhnya saat Chasen memilin salah satu gundukan dagingnya. Bukan karena geli atau nikmat melainkan karena merasa jijik.


Cuuuuih..


Mishea meludahi wajah Chasen.


"Kau!!" Pekik Chasen emosi karena Mishea meludahinya.


Sangking emosinya, Chasen pun kembali mere*mas salah satu gundukan daging itu dengan sangat kuat.


Dan re*masan itu membuat Mishea kembali menjerit kesakitan.


"Kenapa sakit? Kalau kau tidak mau aku berbuat kasar pada mu, jadilah wanita penurut seperti kucing kecil! Kau paham!" Geram Chasen.


Mendengar kata-kata Chasen, Mishea pun jadi berpikir. Semakin ia berontak dan bersikap kasar, semakin Chasen menyiksanya dan membuat Mishea tidak punya kesempatan untuk menyerang Chasen.


"Kalau kau mau aku menjadi wanita penurut seperti kucing kecil, lepaskan ikatan ini!" Balas Mishea.


"Kau pikir aku bodoh, hah!! Kalau aku lepaskan, lalu kau kabur kan?"

__ADS_1


"Apa aku bisa kabur dengan keadaan ku yang seperti ini Chasen?" Mishea membalikkan pertanyaan pada Chasen.


"Kalau aku boleh jujur, tubuh ku juga sudah tidak tahan ingin bercinta dengan mu, tapi tangan ku kesakitan karena ikatan ini. Itu yang membuat ku meronta. Jadi aku mohon lepaskan ikatan ini, setelah itu aku akan menjadi wanita yang penurut seperti kucing kecil."


Chasen memicingkan matanya melihat Mishea, mencoba mencari kebohongan dalam diri Mishea. Tapi matanya tidak menemukan kebohongan dalam diri Mishea.


Chasen pun melepaskan ikatan pada tangan Mishea.


Begitu ikatannya terlepas, Mishea langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan mengambil bantal untuk menutupi dua gundukan dagingnya.


"Tidak perlu di tutupi!!" Ucap Chasen sambil menarik bantal itu.


"Bukan kah kau bilang ingin menjadi wanita yang penurut? Sekarang lepas celana mu sendiri!!" Perintah Chasen.


Mishea menelan salivanya susah payah, lalu menurunkan kaki-nya ke lantai.


Ia melirik sekilas lampu tidur yang ada di nakas kemudian kembali melihat Chasen yang sudah menatapnya dengan tatapan buas.


Mishea pun membuka kancing celananya lalu menurunkannya celananya perlahan.


"Apa kau bisa menutup mata Chas, aku malu jika kau melihat ku seperti itu!" Ucap Mishea saat celananya baru turun sekitar setengah jengkal dari pinggangnya.


"Jangan banyak alasan! Cepat lah buka!"


"Kalau kau tidak mau menutup matamu, setidaknya palingkan pandangan mu dari ku!"


Chasen menghela nafasnya kasar. Kali ini ia menuruti permintaan Mishea. Chasen pun mengalihkan pandangannya dari Mishea.


Dan saat Chasen memalingkan pandangannya, disaat itu juga lah Mishea langsung mengambil lampu nakas dan memukul kepala Chasen dengan lampu nakas sekuat-kuatnya hingga darah segar pun mengalir dari kepala bagian belakang Chasen.


"Aaakh..." Jerit Chasen kesakitan sambil memegang kepalanya.


Dan disaat Chasen sedang kesakitan, disaat itu jugalah, Mishea kabur.


Dengan sekuat tenaga Mishea berlari dari lantai atas ke lantai bawah. Tubuhnya yang sedang dalam pengaruh obat perang*sang membuat dirinya tak bisa berlari dengan gesit.


Namun meski tak bisa gesit, setidaknya dia berhasil sampai di lantai bawah.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2