Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
# 78


__ADS_3

Lima belas menit kemudian.


Mobil yang March kendarai sudah terparkir mulus di depan rumah lama Julya.


March dan pengacara Philips pun turun dari dalam mobil dan berjalan menuju rumah.


Tok.. Tok.. Tok. March mengetuk pintu rumah itu.


Ceklek. Tak lama pintu terbuka.


Desi, wanita yang dulu menjadi selingkuhan Agus membuka pintu rumah.


"Selamat pagi Nona." Sapa pengacara Philips.


"Iya selamat pagi. Cari siapa?" Tanya Desi sambil matanya melihat March dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Apa Tuan Agus ada?" Tanya pengacara Philips.


"Ada dia masih tidur. Ada apa yah?"


"Bangunkan dia!" Sela March dengan suara tegasnya. March tidak ingin bertele-tele.


Mendengar suara March ditambah raut wajah March yang dingin, Desi pun menciut.


"Ba-baik. Silahkan masuk." Ucap Desi dengan suara bergetar.


Desi pun berjalan menuju lantai atas dimana kamarnya dengan Agus berada. Sedangkan March dan pengacara Philips masuk keruang tamu dan duduk disofa ruang tamu.


Ceklek. Desi membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Hey.. Agus, bangun!! Ada yang mencari mu!" Desi membangunkan Agus dengan kasar.


"Mmm.." respon Agus.


"Hish!!" Geram Desi.


"Bangun!! Ada dua pria mencari mu!!" Bentak Desi.


Mendengar ada dua pria yang mencarinya, sontak Agus membuka matanya lebar. Dipikiran Agus, dua orang itu adalah anak buah rentenir yang ia pinjam uangnya.


"Siapa?" Tanya Agus.


"Mana aku tahu! Cepat bangun, temui mereka!"


"Bagaimana penampilan mereka? Apa bertubuh besar, berwajah sangar?" Tanya Agus.


"Tidak. Yang satu berwajah blesteran, tampan tapi sedikit sangar dan mereka berpakaian rapih, seperti orang kantoran. Sepertinya mereka ingin membicarakan pekerjaan dengan mu."


"Kok bengong?! Cepat bangun dan temui mereka!" Ucap Desi lagi. Ia berharap dua orang itu sedang mencari penyanyi untuk acara mereka dan kalau benar begitu, pastinya Agus akan merekomendasikan dirinya untuk mengisi acara.


Agus pun turun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat giginya.


Sepuluh menit kemudian.


Agus turun kelantai bawah. Sebelum masuk keruang tamu, Agus mengintip terlebih dulu siapa tamu yang mencarinya.


Agus mengernyitkan keningnya saat melihat sosok March.


"Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana yah?" Gumam Agus.

__ADS_1


Agus pun mencoba mengingat-ingat.


"Ah.. iya, aku ingat sekarang! Pria itu pernah datang kesini untuk mencari Julya." Gumam Agus lagi saat mengingat sosok March.


"Tapi untuk apalagi dia datang kesini? Apa dia mau mencari Julya lagi? Tapi aku rasa tidak." Monolog Agus.


Agus pun keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju ruang tamu.


"Ekhem." Agus berdehem.


Sontak March dan pengacara Philips yang sedang berbincang menoleh kearah sumber suara.


"Ada apa kalian mencari ku?" Tanya Agus dengan nada angkuh merasa sok dibutuhkan.


Agus pun duduk di sofa yang ada di hadapan March dan pengacara Philips.


"Kedatangan..." Pengacara Philips menggantung kalimatnya, karena March memberi kode pada pengacara Philips agar biar dirinya saja yang berbicara.


Pengacara Philips pun menganggukkan kepalanya mengizinkan March untuk berbicara.


"Langsung saja saya tidak ingin berbasa-basi." Ucap March. March pun mengambil bukti pembelian rumah Julya yang March beli dari rentenir.


"Ini." March menyodorkan bukti pembelian itu.


"Apa ini?" Tanya Agus.


"Itu adalah bukti pembelian rumah ini." Jawab March.


Mata Agus membulat lalu mengambil kertas bukti pembelian rumah yang March sodorkan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2