Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
S-2 # 43


__ADS_3

"Hush, bisa diam tidak?! Nanti mereka menyadari kita ada disini!!" Tegur Mishella.


Merasa bodoh karena harus mengintip Rai yang sedang menyatakan cinta pada Mishea, Satria yang sudah malas mengikuti ajakan Mishella mengintip langsung berdiri dari persembunyiannya kemudian meneriaki Rai.


"Dasar bodoh!! Harusnya kau tanyakan dulu apa Shea mau menjadi kekasih mu atau tidak, bukan langsung meminta Mishea menjadi istri mu!!" Teriak Satria.


Setelah membuat Rai dan Mishea menyadari keberadaannya dan Mishella yang sedang mengintip, Satria pun turun ke lantai bawah. Begitu pun dengan Mishella, Mishella yang sudah malu karena ketahuan mengintip Kakak-nya ikut turun ke bawah menyusul Satria.


"Kau yang bodoh!! Aku meminta Shea langsung menjadi istri karena aku ingin serius, bukan main-main!! Perjaka tua seperti mu mana tahu apa itu artinya serius!!" Balas Rai tak kalah berteriak.


"Eh.. tapi si bodoh itu kan sudah tidak perjaka lagi yah?!" Lirih Rai pelan dan untungnya Mishea tidak mendengar lirihan-nya, kalau sampai Mishea mendengar itu sama saja ia membuka aib sahabatnya sendiri.


Mishea senyum-senyum mendengar teriakan Rai untuk Satria yang mengatakan Rai ingin serius dengan dirinya makanya Rai langsung meminta dirinya menjadi istri Rai.


"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Rai saat melihat Mishea senyum-senyum sendiri.


"Apa yang kamu katakan barusan benar?"


"Yang meminta mu menjadi istri ku?"


Mishea menganggukkan kepalanya.


"Kamu pikir aku sedang bercanda sekarang? Aku serius Shea, aku ingin langsung menjadikan mu istri ku."


"Tapi kenapa? Bukan kah kita harus saling mengenal dulu lewat tahap pacaran? Bagaimana setelah menikah kamu menyesal karena tahu sifat asli ku?"

__ADS_1


"Dengar yah, di dunia ini tidak ada manusia yang memiliki sifat yang sama. Bahkan anak kembar identik pun mereka memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda. Aku gak bisa maksa kamu untuk menyamakan visi misi aku, dan kamu juga gak akan bisa memaksakan visi misi kamu ke aku. Yang bisa kita lakukan saling menerima, menghargai dan saling mendukung visi misi pasangan kita." Rai menjeda kata-katanya untuk menghela nafasnya sebentar.


"Bagi aku, pacaran itu bukan jenjang pengenalan tapi jenjang untuk mendapatkan keuntungan masing-masing. Si laki-laki bisa mendapatkan tubuh si wanita secara gratis dengan dalil pembuktian rasa cinta dan si perempuan bisa mendapat nafkah gratis dari si pria dengan minta ini-itu, kesana-kesitu dan kalau tidak dituruti si wanita akan ngambek. Lalu apa ada jaminan kalau mereka akan naik ke jenjang berikutnya? Tidak kan?" Lanjut Rai.


"Mungkin sebagian ada, tapi banyak juga yang hubungannya kandas karena si wanita-nya hamil dan si prianya tidak mau mengakui bahwa dia yang telah menghamili si wanita, atau si wanitanya menemukan laki-laki yang melebihi si pria itu." Kata Rai lagi.


"Makanya aku tidak mau menjadikan mu kekasih ku, karena aku tidak ingin menjadi laki-laki yang seperti itu dan dengan meminta mu langsung menjadi istri ku, itu berarti perasaan ku pada mu sangat lah serius." Lanjut Rai.


"Apa kamu mau menjadi istri ku?" Tanya Rai sekali lagi.


Tanpa perlu pikir panjang, Mishea pun menganggukkan kepalanya.


Melihat Mishea menganggukkan kepalanya, Rai pun langsung membawa Mishea kedalam pelukannya.


Setelah beberapa detik berpelukan, Rai pun menjauhkan tubuh Mishea dari pelukannya.


"Bersiaplah, aku akan membawa mu kerumah orang tua ku dan akan mengenalkan mu pada mereka." Ucap Rai.


"Sekarang?"


Rai menganggukkan kepalanya.


"Kenapa buru-buru sekali?"


Jelas saja Rai ingin buru-buru karena waktu yang diberikan Daddy-nya tidak lah banyak.

__ADS_1


"Kenapa? Bukan kah kamu sudah setuju ingin menjadi istri ku?"


"Iya memang, tapi aku tidak percaya diri menemui keluarga mu sekarang dengan kondisi ku yang masih seperti ini."


"Trauma mu?"


Mishea menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak yakin orangtua mu akan menerima ku jika mereka tahu kalau aku sedang sakit."


"Percaya lah pada ku, mereka akan menerima mu. Kalau mereka tidak mau menerima mu, akan aku buat mereka menerima mu."


"Rai..." Lirih Mishea terharu. Segitu besarnya keinginan Rai menginginkan dirinya.


"Sekarang bersiaplah. Aku tunggu disini."


Mishea menganggukkan kepalanya kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang televisi itu.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2