
London.
Pukul 09.00
Kini Rai dan Satria sudah berada di bandara Heathrow-London.
Karena tak ada yang menjemput mereka, mereka pun harus menaiki taksi bandara menuju hotel yang sudah di pesan Satria.
"Mau kemana Tuan?" Tanya supir taksi.
"Ke hotel X. Ke alamat ini." Jawab Rai dan Satria bersamaan.
"Yang benar yang mana?" Tanya supir taksi.
"Hotel dulu." Jawab Satria.
"Tidak! Alamat ini dulu!" Balas Rai sambil menyodorkan kertas pada supir taksi.
Supir taksi pun mengambil kertas itu dari tangan Rai.
"Oh, apartemen ini. Apartemen ini dengan hotel X bersebrangan, Tuan." Ucap supir taksi.
"Benarkah?" Balas Rai sedikit malu.
"Kalau begitu tidak usah berkelahi. Anda bisa langsung ke apartemen ini dan Tuan ini bisa langsung ke hotel." Ucap supir taksi.
Supir taksi pun melajukan mobilnya keluar dari bandara menuju alamat tujuan Rai dan Satria.
*
*
*
Tak sampai setengah jam, taksi yang Rai dan Satria naiki pun sampai di depan hotel X.
"Sudah sampai Tuan. Itu apartemen yang Anda maksud." Ucap supir taksi sambil menunjuk ke sebelah kanan-nya.
__ADS_1
"Dan itu hotel yang Anda maksud." Ucap supir itu lagi sambil menunjuk ke sebelah kirinya.
Rai pun membayar ongkos taksi.
Setelah membayar ongkos taksi, Rai dan Satria pun keluar dari dalam taksi.
"Eits, kau mau kemana?" Rai menarik tangan Satria saat Satria hendak berjalan menuju hotel.
"Ya ke hotel lah!"
"Tidak! Kau ikut dengan ku lebih dulu! Kita temui Mishea lebih dulu!"
"Tidak mau! Kau saja sendiri! Tugas ku hanya menemani mu ke London, bukan menemani mu menemui si cupu itu!" Tolak Satria sambil menghempas tangan Rai.
"Ayo lah Sat!" Mohon Rai.
"Tidak mau! Aku lelah, mau tidur!" Balas Satria.
"Ya sudah lah!! Ini bawakan barang ku sekalian!" Balas Rai pasrah sambil memberikan tas-nya pada Satria.
"Aku ke sana dulu!" Pamit Rai lalu pergi menyebrang jalan dan Satria pun berjalan menuju hotel.
Rai berjalan menyusuri lorong sambil memegang kertas yang berisi nomor unit apartemen Mishea untuk menyocok-kan nomor kamar yang Rai lewati.
"Sepertinya ini unit apartemennya." Lirih Rai saat berdiri di depan pintu dengan nomor unit yang sama dengan yang tertulis di kertas.
Rai pun menekan bel.
Ting Tong Ting Tong.
Di dalam unit apartemen
"Itu pasti pesanan ku!" Lirih Mishea sambil memakai bathrobe-nya. Ia baru selesai mandi.
Mishea pun cepat-cepat keluar dari dalam kamar mandi dan berlari kecil menuju pintu.
Tanpa melihat siapa yang memencet bel dari layar monitor terlebih dahulu, Mishea langsung membuka pintu.
__ADS_1
Ceklek.
Mata Rai membulat saat melihat penampilan Mishea yang hanya memakai bathrobe dengan rambut basah yang di biarkan terurai.
Sedangkan Mishea mengernyitkan keningnya saat melihat Rai. Pikirnya, wajah Rai seperti tidak asing baginya.
"Maaf, Anda siapa yah?" Tanya Mishea.
"Hai Shea." Sapa Rai.
"Kau mengenali ku?" Tanya Mishea terkejut.
"Mmm. Memangnya kau tidak ingat siapa aku?"
Mishea mencoba mengingat-ingat sosok laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Kau bukannya laki-laki yang ada di depan lift di tempat resepsi pernikahan anak Tuan Jordhie?" Ucap Mishea.
"Hanya sebatas itu kau mengingatku?"
"Memangnya kau siapa?"
"Sepertinya aku harus menyebut nama ku agar kau ingat siapa aku. Kenalkan, aku Rai, Raiden." Ucap Rai sambil menjulurkan tangannya ke hadapan Mishea.
Deg.
Raiden.
Kakak kelas ku.
Yang pernah aku sukai dulu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...