
Blush. Mendengar ucapan March, wajah Julya memerah seketika. Apalagi March mengucapkannya dengan wajah yang sangat serius dan tatapan mata yang sangat dalam untuknya.
"Julya, mungkin sekarang aku belum memiliki perasaan apapun pada mu. Tapi percayalah, aku bukan laki-laki seperti yang ada di dalam pikiran mu. Laki-laki yang menginginkan mu hanya karena urusan ranjang. Kalau aku seperti itu, untuk apa aku meminta mu menikah dengan ku. Bisa saja kan aku membayar mu untuk urusan itu dan membayar mu untuk mengandung anak ku, tanpa perlu kita menikah?" Ucap March.
"Kita sama-sama pernah gagal dalam berumah tangga, aku yakin kau juga mengalami trauma yang sama dengan ku, karena rumah tangga kita dulu gagal karena pasangan kita yang berselingkuh. Aku tidak menutup kemungkinan untuk jatuh cinta pada mu, tapi untuk saat ini aku belum bisa membuka hati ku untuk wanita lain. Dan aku yakin, kau juga sama dengan ku. Jadi jangan lagi berpikir kalau aku menikahi mu hanya untuk urusan ranjang dan keturunan saja. Aku menikahi mu adalah bentuk tanggung jawab ku sebagai laki-laki yang sudah meniduri dan menanam benih di rahim mu. Yah, walaupun kita tidak tahu apa benih itu tumbuh subur atau tidak." Ucap March lagi.
Julya tidak menjawab, ia malah menundukkan wajahnya. Melihat sorot mata March degup jantung Julya semakin tidak karuan.
March kembali menarik dagu Julya dan mendongakkan wajah Julya lalu mendaratkan bibirnya di bibir Julya. March melu*mat lembut bibir Julya dan Julya membalas luma*tan yang March berikan. Mereka pun saling bertukar saliva dan saling membelit lidah dengan penuh hasrat.
Merasa hasratnya sudah tak bisa tertahankan lagi dan menginginkan lebih, March pun melepaskan tautan bibir mereka secara sepihak.
"Jul, aku menginginkannya." Ucap March dengan wajah sendunya.
Ternyata bukan hanya March yang menginginkan hal lebih dari sekedar ciuman panas, Julya pun juga ingin merasakan pergulatan tubuh yang panas dan melampiaskan hasratnya.
"Aku juga menginginkannya March." Jawab Julya tak ingin munafik.
"Ayo kita lakukan Jul, lupakan perjanjian bodoh itu!!" Balas March.
__ADS_1
Julya pun menganggukkan kepalanya.
Melihat Julya mengangguk, March pun kembali mendaratkan bibirnya di bibir Julya dan mereka pun kembali berciuman panas.
Masih dalam keadaan bibir yang saling bertaut dan lidah yang sedang membelit, March menggendong tubuh Julya seperti anak koala. March pun berjalan menuju sofa yang ada di kamar itu lalu perlahan menduduki sofa.
Tangan March membuka lilitan handuk yang Julya pakai, lalu membuang handuk itu kesembarang arah. Julya pun sudah dalam keadaan polos. Tangan March pun langsung menyambar dua gundukan daging yang ada di tubuh Julya itu dengan sangat lembut dan sesekali memilin puncak dua gundukan daging.
"Ssh.. ah.." Des*ah Julya saat merasakan aliran kenikmatan yang dihasilkan dari permainan kesepuluh jari March.
"Kau suka baby?" Tanya March saat tautan bibir mereka terlepas namun tangannya belum berhenti bermain dengan dua gundukan daging.
"Lepaskan pakaian ku Julya, ayo kita masuk ke permainan yang sesungguhnya." Bisik March menggoda.
Julya pun membuka matanya, dengan tidak sabarannya Julya langsung melepaskan kaos lekbong dan celana boxer yang menempel di tubuh March.
Mister Peni pun langsung keluar begitu Julya menurunkan boxer March, karena March tidak memakai penutup kain untuk Mister Peni.
Kini mereka sudah dalam keadaan sama-sama polos. Julya kembali naik keatas pangkuan March dan mulai mengarahkan Mister Peni ke dalam rumah Miss Vigi.
__ADS_1
"Ssh.. ah.." Des*ah keduanya saat Mister Peni terbenam sempurna di dalam rumah Miss Vigie.
March menarik tengkuk Julya dan mereka pun berciuman panas. Sambil mereka berciuman panas, Julya mulai menggerakkan pinggulnya pelan.
Lima belas menit kemudian.
Gerakan pinggul Julya yang tadinya pelan dan lembut semakin lama semakin cepat, kasar dan tak beraturan.
"Oh.. ah.. faster baby.." racau March.
Dengan bantuan March, Julya pun mempercepat gerakan pinggulnya.
"Oh.. March aku..." Racau Julya saat merasakan dirinya sudah hampir sampai di puncak kenikmatan.
"Sama-sama baby." Balas March yang juga merasakan dirinya hampir sampai di puncak kenikmatan.
"Aaargh..." Erangan panjang pun keluar dari mulut mereka berdua.
Bersambung...
__ADS_1