
"Maaf Tuan, Anda tunggu disini dulu, biar kami periksa istri Anda." Ucap perawat saat March ingin ikut masuk ke dalam ruang darurat.
"Istri saya sedang hamil Sus, tolong selamatkan keduanya. Saya tidak memilih salah satu, mereka berdua harus selamat." Balas March dengan tingkat kepanikan yang tinggi.
"Berdoa saja semoga semua baik-baik saja." Balas perawat.
Perawat pun masuk ke dalam ruang darurat.
Mau tak mau March pun hanya bisa menunggu di depan pintu ruang rawat.
Tak lama setelah perawat masuk, ada dokter lain yang juga masuk ke dalam ruangan itu. Makin takut saja March. Pikiran buruk terus berputar-putar mengisi pikirannya.
"Maafkan aku Julya, maaf atas kata-kata ku. Aku mencintai mu Julya, aku mencintai anak kita, aku mencintai kalian berdua. Aku mohon jangan tinggalkan aku." Ucap March sambil mondar-mandir gelisah menunggu pintu ruang darurat terbuka.
March menyesal telah mengatakan hal yang sangat menyakitkan bagi Julya. Seandainya March tahu kalau Julya juga sudah mencintainya, mungkin kata-kata itu tidak akan keluar dari mulut March. Rasa gengsi March terlalu tinggi untuk mengakui cintanya pada Julya.
Tiga puluh menit kemudian.
Ceklek. Pintu ruang darurat pun terbuka dan dokter yang menangani Julya pun keluar dari dalam ruangan itu.
Melihat dokter keluar, March pun berjalan menghampiri sang dokter.
"Bagaimana istri dan anak saya dok?" Tanya March.
__ADS_1
"Semuanya baik-baik saja Pak. Istri Bapak dan kandungannya baik-baik saja. Ya meski tulang tangannya agak bergeser sedikit karena sepertinya digunakan untuk menahan perutnya dari benturan. Tapi selain itu semua baik-baik saja. Saya juga sudah meminta dokter kandungan untuk memberikan suntikan penguat kandungan." Jawab dokter.
March pun bernafas lega mendengar jawaban dokter.
"Apa saya sudah boleh masuk dok?"
"Sebentar yah Pak, biar perawat membersihkan luka-luka ringan istri Bapak dulu."
"Baik dok."
Setelah memberikan penjelasan tentang kondisi Julya, dokter pun pergi dari hadapan March. Tak lama setelah dokter itu pergi, tiba-tiba pintu ruang darurat kembali terbuka.
"Silahkan masuk Tuan." Ucap perawat yang membuka pintu.
"Syukurlah kau baik-baik saja Sayang." Ucap March.
Julya hanya menganggukkan kepalanya.
"Dokter bilang anak kita juga baik-baik saja." Kata March lagi.
Dan Julya kembali hanya merespon dengan anggukkan kepala.
"Permisi Tuan, kita pindahkan dulu pasien ke kamar rawat. Tuan silahkan mengurus administrasinya." Ucap perawat tiba-tiba.
__ADS_1
March pun mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang gerak bagi tim medis yang ingin mengevakuasi Julya.
*****
Kini Julya sudah di pindahkan ke kamar rawat VIP dan March juga sudah mengurus administrasinya.
"Apa kau masih marah padaku?" Tanya March sambil menggenggam erat tangan Julya dan sesekali menciumi punggung tangan istrinya itu.
Julya menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa sejak tadi kau tidak ingin melihat ku?"
"Aku hanya malu pada mu."
"Malu kenapa?"
"Malu karena sudah mencintai mu. Harusnya aku tidak menggunakan perasaan ku atas hubungan kita. Maaf, aku tidak tahu diri." Jawab Julya dengan suara yang bergetar seperti sedang menahan tangis.
"Hey.. kenapa harus malu Sayang. Malah aku senang karena kau mencintai ku. Justru aku lah yang harusnya minta maaf padamu karena sudah membiarkan mu menyatakan cinta lebih dulu. Harusnya kan aku yang mengatakan itu lebih dulu, tapi karena rasa gengsi ku yang tinggi, aku jadi menyimpan perasaan itu dan ujung-ujungnya malah mengeluarkan kata-kata yang malah menyakiti mu." Balas March.
"Ma-maksud mu?"
Bersambung...
__ADS_1