
Pukul 20.00
Setelah selesai makan malam bersama dengan dua keluarga inti, para keluarga pun memutuskan untuk pulang kerumah mereka masing-masing agar Rai dan Mishea bisa bebas berduaan.
Awalnya ide itu di tentang keras oleh Daddy Bratt. Ia masih tidak rela anaknya berduaan dengan Rai, padahal Rai sudah sah menjadi suami Mishea sekarang. Tapi karena Mommy Alea mengancam akan menggembok rumah Eneng Tembem kalau Daddy Bratt tidak mau pulang, mau tak mau Daddy Bratt pun ikut pulang.
Meski para orangtua semua pulang, tapi Mommy Alea dan Mommy Julya menyuruh Mishella dan Satria untuk tinggal disana menemani pasangan pengantin baru itu, siapa tahu saja pasangan pengantin baru itu membutuhkan sesuatu, jadi Mishella dan Satria bisa di suruh-suruh. Karena Mommy Alea dan Mommy Julya menyuruh penjaga vila untuk tidak tinggal di vila itu selagi pasangan pengantin baru itu ada vila.
*
*
*
"Kami ke kamar dulu." Pamit Rai pada Mishella dan Satria.
"Haish, buru-buru sekali!! Ini masih jam delapan brother!!" Sindir Satria.
"Memangnya kenapa kalau masih jam delapan? Kalau sudah suami-istri mah bebas boss mau jam berapa aja!! Beda sama yang jomblo gak perjaka, harus nunggu tengah malam dulu." Balas Rai menyindir balik Satria.
"Cih.." decih Satria. Ia mati kutu tak bisa membalas sindiran Rai.
"Ayo Sayang kita ke kamar. Nanti jangan terlalu keras yang teriaknya. Kamar kita kan tidak ada peredam suaranya. Kasihan yang jomblo." Ucap Rai kembali menyindir Satria seraya merangkul Mishea.
Satria tidak tahu saja kalau semua yang Rai katakan hanyalah bualan semata. Karena Mishea yang masih trauma di sentuh.
"Cih!!" Lagi dan lagi Satria hanya mampu berdecih seraya memutar bola matanya malas karena sindiran Rai.
__ADS_1
Rai dan Mishea pun berlalu dari hadapan Mishella dan Satria.
Setelah pasangan pengantin baru itu pergi, Satria dan Mishella pun berjalan ke halaman belakang vila yang langsung tersambung dengan pantai.
Mereka mendudukkan bokong mereka di sofa dan menikmati hembusan angin malam pantai.
"Enak yah disini." Ucap Mishella membuka percakapan dengan Satria.
"Enak apanya! Lebih enak lagi di night klub, disana kita hanya mendengar suara dentuman musik yang keras dan sorak-sorai pengunjung. Kalau disini.." Satria menggantung kata-katanya.
"Bisa mendengar deru ombak." Mishella malah yang menyambung.
"Itu sekarang. Coba saja lima belas menit atau setengah jam lagi, pasti ada suara-suara yang membuat gendang telinga pecah." Balas Satria.
Mishella mengernyitkan keningnya, mencoba memikirkan apa maksud kata-kata Satria.
Namun tiba-tiba...
Gadis itu adalah Hansara.
Hansara berlari menghampiri Satria.
"Kak Satria gak ada acara kan? Yuk, ikut party sama temen-temen aku." Ajak Hansara seraya menarik tangan Satria.
"Males ah.." tolak Satria. Ia malas bergabung dengan Hansara dan teman-temannya karena kalau ia bergabung, pasti dia lah yang paling tua disana dan itu membuat Satria kurang nyaman.
"Iih.. ayolah Kak..." Rengek Hansara manja sambil menggoyang-goyangkan lengan Satria.
__ADS_1
Melihat itu, Mishella yang ada disamping Satria menggeram, ia agak sedikit jijik dengan gaya gadis yang sedang merayu Satria.
Mishella masih belum tahu kalau gadis yang sedang merengek pada Satria itu adalah sepupu Satria.
Satria menghela nafasnya kasar.
"Ya udah, ya udah, ayo." Ucap Satria pasrah.
"Yeah..." Hansara bersorak kegirangan.
Satria pun berdiri dari duduknya dan Hansara pun langsung menggandeng tangan Satria.
"Tunggu." Cegah Mishella kala Satria dan Hansara hendak melangkah.
"Kenapa?" Tanya Satria.
"Aku ikut!!!" Jawab Mishella.
"Ya udah ayo." Balas Satria.
Mishella pun berdiri dari duduknya.
Mereka bertiga pun berjalan menuju vila tempat Hansara dan teman-teman kampusnya mengadakan party.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...