
Vila.
Saat Satria dan Mishella sedang menikmati malam panjang mereka dengan berbagi peluh. Di vila tepatnya di kamar pasangan pengantin baru, ada Rai yang sedang memutar otaknya untuk membuat Mishea melupakan kejadian buruk yang menimpanya waktu itu.
"Ingin sekali aku bertemu laki-laki sialan itu!! Gara-gara dia, aku jadi menderita seperti ini!!!" Geram Rai kala mengingat sosok Chasen.
"Rai, kamu tidak tidur?" Tanya Mishea dari arah belakang Rai. Karena saat ini Rai sedang duduk di balkon kamar yang langsung menghadap ke pantai.
Bagaimana Rai bisa tidur tenang kalau ia harus tidur dengan Mishea diranjang yang sama. Jadi dari pada ia harus selingkuh dengan Tante Scarla lagi di tengah malam, maka dari itu Rai memutuskan untuk tetap terjaga dan menjadi satpam vila.
"Kamu tidur lah duluan, nanti aku menyusul." Jawab Rai.
Mishella pun berjalan mendekati Rai lalu duduk di sebelah Rai.
"Kamu kenapa? Apa kamu mencemaskan Satria?" Tanya Mishea.
"Cih.. buat apa juga aku mencemaskan bocah itu!" Decih Rai pelan namun masih bisa di dengar oleh Mishea.
"Lalu kenapa wajah mu muram begitu?"
"Aku baik-baik saja Sayang. Aku juga sedang tidak memikirkan apa-apa." Jawab Rai sambil tersenyum. Ia tidak ingin membuat istrinya itu khawatir.
"Bohong. Pasti ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan. Ceritalah pada ku Rai, aku ini kan istri mu sekarang. Bukan kah suami-istri itu harus saling berbagi keluh kesah, berbagi suka-duka?"
Rai diam sambil terus memandang wajah Mishea.
Ingin sekali rasanya Rai jujur pada Mishea kalau dirinya ingin meminta hak-nya sebagai suami. Tapi itu tidak mungkin, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak ingin memaksakan kehendaknya pada Mishea kalau memang Mishea belum siap. Karena Rai tahu tidak mudah bagi Mishea melupakan kejadian kelam itu.
__ADS_1
"Kok diam?"
"Aku gak pa-pa Sayang. Ya udah yuk, kita tidur kalau gitu." Ucap Rai seraya menarik tangan Mishea dan menggiring Mishea kembali ke ruang tidur.
Mereka pun naik ke atas ranjang lalu menyelimuti diri mereka dengan selimut yang sama.
Rai pun memeluk Mishea sambil mengelus rambut Mishea dan memberikan kecupan bertubi-tubi di kening Mishea.
Satu menit, dua menit, tiga menit tubuh Rai masih aman.
Namun tidak di menit keempat.
Kelamaan memeluk Mishea ditambah lagi mencium aroma rambut Mishea, membuat gairah kelaki-lakian Rai pun mulai bangkit.
Di menit kelima, wajah Rai mulai memerah karena merasakan bagian bawahnya menegang.
Mishea yang ada dalam pelukan Rai jelas merasakan nafas Rai yang sudah mulai tidak teratur itu.
"Kamu kenapa Sayang?" Tanya Mishea.
"Tidak pa-pa, cepat tidur lah." Ucap Rai lalu memeluk Mishea dengan sangat erat, bahkan kaki Rai menimpa pinggang Mishea.
Sungguh gerakan refleks yang sangat salah.
Karena dengan posisi itu yang ada hasrat kelaki-lakian Rai makin membara dan Mishea juga bisa merasakan tendangan maut si Abang jago.
Dugh.. Abang jago yang berada tepat di perut Mishea memberikan tendangan sebagai tanda ingin meminta segera di keluarkan dari jeruji kain-nya.
__ADS_1
Mata Mishea membulat saat merasakan tendangan Abang jago itu.
"Rai...." Lirih Mishea.
"Ssst... Tidur lah!!" Potong Rai.
Dugh.. sekali lagi, Abang jago menendang perut Mishea.
Mata Mishea yang masih membulat kini mengerjap-ngerjap, ia juga menelan salivanya kasar.
"Rai..."
"Ayolah Shea, jangan bersuara lagi. Aku mohon tidur lah." Potong Rai.
Dugh.. untuk yang ketiga kali-nya Mishea merasakan tendangan maut si Abang jago di perutnya.
Tak tahan dengan tendangan si Abang jago yang membuat jantungnya berdegup kencang, Mishea pun menjauhkan tubuh Rai dari tubuhnya.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau ini terus nendang-nendang." Ucap Mishea. Dan tanpa sadar Mishea malah memegang batang sakti milik Rai.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1