
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Julya sudah tertidur dengan lelapnya, tapi tidak dengan March.
Dia terus berguling kesana-kemari karena tidak bisa tidur. Sangking tidak bisa tidur, March sampai bolak-balik ke meja kerja-sofa-ranjang, dan terus seperti itu sampai beberapa kali.
Ia tidak bisa tidur karena Mister Peni merindukan soulmatenya, Miss Vigi. Tapi March sadar kalau Miss Vigi sedang dalam masa karantina empat belas hari.
March pun membujuk Mister Peni untuk bersabar sampai Miss Vigi selesai karantina. Tapi sepertinya Mister Peni tidak peduli, pokoknya air kental yang ada dalam tabung penampungannya harus segera di keluarkan. Seandainya Mister Peni bisa bicara, pasti Mister Peni akan bilang : "kan bisa pake cara lain, dodolipet!"
Tapi March tidak melakukan itu, karena tidak tega melihat Julya yang sangat nyenyak tidurnya.
"Huh sudah lah, aku kerjakan sendiri saja, dari pada aku tidak bisa tidur!" Lirih March.
March pun beranjak dari atas ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, March langsung membuka celana-nya lalu memijat-mijat lembut Mister Peni-nya. Bukannya air kental keluar, yang ada malah Mister Peni merajuk dan menciut.
"Astaga ayolah Pen, bekerja samalah dengan baik!" Kata March pada Mister Peni. March pun memejamkan matanya sambil membayangkan dirinya dan Julya yang sedang bercinta. Tapi hasilnya nihil, Mister Peni tetap merajuk.
Di ruang tidur.
__ADS_1
Meninggalkan March yang sedang berusaha membujuk Mister Peni. Diruang tidur ada Julya yang terbangun karena tidak mendapati suaminya di sebelahnya.
"March.." lirih Julya memanggil March. Tak ada jawaban dari March tapi Julya mendengar ada suara dari dalam kamar mandi.
Perlahan Julya pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Ceklek. Julya membuka pintu kamar mandi yang tidak March kunci.
Sontak March yang sedang membujuk Mister Peni pun menoleh ke arah pintu.
Mata mereka berdua sama-sama membelalak. March kaget karena Julya melihat-nya sedang dalam keadaan membujuk 'adik kecilnya' sedangkan Julya kaget karena melihat March sedang mencekik 'adik kecilnya'.
Cepat-cepat March menaikkan kembali celana-nya.
"Apa Mister Peni bangun?" Tanya Julya.
"Tadi iya, tapi aku sudah menenangkannya sendiri." Jawab March.
"Kenapa tidak membangunkan ku?"
"Aku tidak tega melihatmu yang sangat nyenyak sayang." Jawab March.
__ADS_1
"Sudah ayo, kita tidur lagi." Ajak March sambil memutar tubuh Julya.
March pun menggiring Julya kembali ke ranjang dan mereka pun naik ke atas ranjang.
Cup. March mengecup kening Julya.
"Tidur lah." Ucap March lalu membalikkan tubuhnya memunggungi Julya. March melakukan itu karena saat ini Mister Peni-nya kembali meronta minta di nina-bobokkan oleh Julya.
Melihat suaminya memunggungi dirinya, Julya yakin kalau saat ini pasti March sedang berusaha menahan hasratnya.
Julya pun memeluk suaminya dari belakang lalu mengecupi tengkuk suaminya.
"Jangan menahannya sendiri March, katakan lah kalau kau ingin aku menenangkan 'adik kecil' mu." Bisik Julya.
Jelas saja aksi Julya itu makin membuat March tidak bisa menahan gejolak amarah Mister Peni.
March pun membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Julya.
"Aku tidak ingin membuat mu lelah Baby." Ucap March.
"Tidak ada kata lelah untuk melayani mu March." Jawab Julya.
__ADS_1
Julya pun mulai mendaratkan bibirnya di bibir March, tak perlu ditanyakan lagi bagaimana respon March, ia langsung menyambut bibir Julya dengan senang hati, ciuman panas pun tak terelakkan.
Bersambung...