Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
# 57


__ADS_3

Lima belas menit kemudian.


"Aaargh.." erangan panjang keluar dari mulut March dan Julya. Mereka sudah sampai pada puncak kenikmatan.


Tanpa memakai pengaman karena memang March ingin memiliki anak dari Julya, March membuang benihnya di dalam rahim Julya.


Setelah merasa puas membuang benihnya, March pun ambruk seketika diatas punggung Julya.


"Terimakasih baby." Ucap March dengan suara terengah-engah.


Setelah merasa Mister Peni sudah kembali tertidur, barulah March mengeluarkan 'adik kecilnya' itu dari dalam rumah Miss Vigi.


March menaikkan kembali celananya. Julya pun juga sama, ia memakai kembali segitiga berenda penutup rumah Miss Vigi nya.


Setelah memakai segitiga berendanya, Julya melihat ice-cream yang ia ambil sudah meleleh, begitupun campuran brownies dan ice-cream yang ia blend didalam cangkir.


"Haish, sudah meleleh." Keluh Julya.


"Besok kita beli lagi baby." Ucap March yang mendengar keluhan Julya.


"Tapi aku belum puas memakan ini March." Omel Julya.


"Kalau kau belum puas memakan ice-cream itu, kau bisa sepuasnya memakan ice-cream ku, ice-cream ku tidak akan pernah meleleh." Balas March menggoda.


"Haish kau!!" Kesal Julya karena mengerti apa yang March maksud.


"Jangan marah-marah, nanti kau terserang stroke. Ingat, kau harus memberikan anak yang banyak untuk ku!!" Balas March.

__ADS_1


"Ayo kembali ke kamar." Kata March lagi sambil menarik tangan Julya.


"Tunggu. Aku ambil minum dulu." Ucap Julya.


"Tidak perlu baby, ada stok air mineral kemasan di kamar."


"Benarkah, dimana?"


"Di dalam nakas."


"Kenapa kau tidak bilang!!"


"Kau tidak bertanya!"


"Ish kau!"


"Sudah ayo kita kembali ke kamar." Dan tanpa meminta izin pada Julya, March langsung menggendong tubuh Julya ala bridal style.


*****


Keesokan paginya.


Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Di lantai bawah Mey sudah bangun lebih dulu dari pengantin baru yang ada di kamar atas.


Mey berjalan menuju dapur.

__ADS_1


Sesampainya di dapur Mey melihat meja makan yang berantakan dan ada tetesan benih March yang sudah mengering diatas meja. Mey pun mengingat lagi akan percintaan panas Julya dan March di meja itu semalam.


"Sial!!! Kenapa disaat kita sudah bercerai, 'adik kecil' mu itu baru bangun!!" Geram Mey.


"Sssh.. ah.. uh.." samar-samar Mey mendengar suara desauan dari lantai atas.


Kamar March yang tidak ditutup itu membuat suara desauan dan racauan dari mulut March dan Julya pun terdengar sampai ke lantai bawah.


Mengapa pintu kamar tidak ditutup? Bukan sengaja, tapi karena memang March lupa menutup pintu kamar. Hasrat March yang kembali berkobar membuat ia ingin segera melempar Julya diatas ranjang dan kembali melanjutkan ritual panas sesi kedua.


Dan setelah sesi kedua ritual panas mereka selesai, mereka pun langsung tertidur tanpa mereka sadari kalau pintu kamar belum tertutup. Dan pagi ini, saat March terbangun, Mister Peni juga ikut terbangun saat melihat penampakan dua gundukan daging milik Julya yang menantang karena selimut Julya yang melorot. March pun kembali melakukan ritual ranjang goyang dengan Julya.


Merasa penasaran. Mey pun berjalan menuju tangga dan menapaki anak tangga.


Sesampainya di lantai atas, suara desauan dari mulut Julya dan March itu makin terdengar jelas di telinga Mey. Suara yang sangat menyakitkan telinga dan hati Mey.


Namun meski sakit, Mey tetap saja mendekati kamar March.


Karena pintu kamar terbuka, membuat Mey mudah untuk mengintip.


Mata Mey membulat saat melihat apa yang sedang March dan Julya lakukan. Jika semalam ia melihat March memompa Julya dari belakang, sekarang ia melihat Julya lah yang memompa March diatas sofa.


Tubuh March dan Julya yang sama-sama polos terlihat jelas oleh Mey.


Lagi dan lagi, keberadaan Mey bisa terdeteksi oleh Julya tersenyum licik.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2