
Tidak perlu ditanya lagi bagaimana perasaan March begitu tahu Julya tengah mengandung anaknya. Hal yang sama sekali March tidak pernah bayangkan setelah dirinya di vonis impoten karena kecelakaan. Dan ternyata bersama Julya, selain 'adik kecilnya' yang sudah bisa bangun, March mendapat bonus anak dari Julya.
Sama dengan March, Nenek Julya juga sangat bahagia karena sebentar lagi dirinya memiliki cicit. Hal yang sudah sangat lama Nenek Julya impi-impikan saat Julya menikah dengan mantan suaminya.
Sangking senangnya, sampai-sampai March dan Nenek Julya berebutan memegang foto hasil usg. Dan daripada mereka berebutan seperti anak kecil, Julya pun meminta dokter untuk mencetak tiga hasil usg, agar mereka bisa memegang satu-satu.
Setelah kurang lebih dua puluh menit berada di ruangan dokter kandungan, March, Julya dan Nenek Julya kini sudah berada di apotik rumah sakit untuk menebus vitamin untuk Julya.
Julya berkali-kali menghela nafasnya karena baik March dan Nenek Julya tak ada yang menggubrisnya disaat Julya mengajak bicara.
Bagaimana mau menggubris kalau yang diajak bicara sedang asyik senyam-senyum sendiri sambil menatap foto usg.
"Nyonya Julya Alfian." Panggil apoteker agar Julya mengambil vitaminnya.
Julya menengok ke arah March, sepertinya March tidak mendengar panggilan apoteker.
"Nyonya Julya Alfian." Panggil apoteker sekali lagi.
"Haish!!" Geram Julya karena di panggilan kedua pun March juga berhenti memandang foto calon bayi mereka.
Kesal karena perhatian March sekarang beralih pada selembar foto, Julya pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat pengambilan vitamin untuk nya. Setelah vitamin berada ditangannya, Julya tak lagi kembali ketempat duduknya, melainkan ia langsung pergi keluar dari rumah sakit.
"Pandangi saja foto itu sampai juling mata kalian!!" Dumel Julya.
Tak lama Nenek Julya pun sadar kalau Julya sudah tidak ada lagi di tempat duduknya.
"March, mana Julya?" Tanya Nenek Julya.
"Tadi dia disini." Jawab March. March pun melihat ke sekelilingnya, tapi netranya tak melihat keberadaan Julya.
__ADS_1
"Mungkin dia ke toilet Nek." Ucap March dengan santainya.
Nenek Julya mengangguk-anggukkan kepala tanda ia sependapat dengan kata-kata March.
"Tapi ngomong-ngomong kenapa lama sekali nama Julya dipanggil? Padahal antriannya tidak panjang." Kata Nenek Julya.
"Iya juga yah." Balas March.
"Sebentar ku tanya dulu." Kata March lagi. March pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju loket pengambilan obat.
"Apa vitamin untuk istri saya sudah bisa diambil?" Tanya March pada apoteker yang berjaga di loket.
"Siapa nama istrinya Tuan?"
"Julya. Julya Alfian." Jawab March.
"Yang benar saja. Saya dari tadi tidak mendengar nama istri saya di panggil."
"Nyonya Julya sendiri yang mengambilnya Tuan."
"Oh. Terimakasih."
March pun berjalan mendekati Nenek Julya dengan wajah panik.
"Ada apa March?"
"Julya sudah dari tadi mengambil vitaminnya Nek."
"Lalu kemana dia sekarang?"
__ADS_1
"Entah. Aku telepon dulu." March pun mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Julya.
Namun baru saja ia ingin melakukan panggilan ke nomor Julya, Julya sudah lebih dulu menghubunginya.
Cepat-cepat March menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Ha.."
"Apa kalian mau sampai malam disitu sambil memandang foto usg?" Belum juga March mengatakan kata 'halo', Julya langsung mengomel.
"Dimana kau?" Tanya March.
"Aku sudah ada di parkiran! Cepat lah kesini, aku sudah kepanasan disini!" Jawab Julya.
Tanpa menunggu jawaban dari March, Julya langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
"Dimana Julya?" Tanya Nenek Julya.
"Di parkiran. Sepertinya dia marah karena kita memandangi foto ini terus." Ucap March.
"Cih dasar anak itu!! Sifat pencemburunya tidak hilang-hilang." Decih Nenek Julya.
"Ayo Nek kita susul Julya, jangan sampai kemarahannya lebih besar lagi." Ajak March.
Nenek Julya menganggukkan kepalanya lalu berdiri dari tempat duduknya.
Dengan langkah tergesa-gesa, mereka pun keluar dari dalam gedung rumah sakit menuju parkiran.
Bersambung...
__ADS_1