
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Setelah urusannya di kantor polisi selesai, March, Neon dan Hannoks pun kembali kerumah sakit. Hannoks ikut lagi kerumah sakit karena motornya masih berada di rumah sakit.
Kini mobil yang Neon kendarai sudah sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya mereka pun turun dari dalam mobil.
"Aku tidak ikut naik, aku langsung pulang!" Pamit Hannoks.
March dan Neon kompak menganggukkan kepalanya lalu berjalan memasuki gedung rumah sakit.
"Pasti Novi ngomel-ngomel karena aku lama kembali." Ucap Neon sambil mereka berjalan menuju lift.
"Aku rasa tidak. Wanita kalau sudah di berikan pin m-banking apalagi sudah di beri kebebasan belanja, mereka akan lupa dengan kita." Balas March.
"Benarkah?" Tanya Neon meragu. Neon lupa kalau pria yang ada disebelahnya adalah senior dalam urusan wanita.
"Kau tidak percaya? Aku sudah dua kali menikah jadi aku tahu apa yang bisa membalikkan mood wanita." Jawab March.
"Ooo.." Neon membulatkan mulutnya.
Ting. Pintu lift terbuka. Lift yang merek naiki sudah sampai di lantai dimana kamar rawat Julya berada.
Ceklek. March membuka pintu kamar rawat Julya dengan sangat perlahan lalu masuk kedalam kamar juga dengan langkah yang sangat perlahan.
Begitu March dan Neon masuk mereka langsung disambut dengan begitu banyaknya papper bag dan bungkus makanan di meja.
__ADS_1
Mata Neon membulat, perasaannya sudah tidak enak.
"Kalian sudah pulang?" Saat March dan Neon sedang hening melihat banyaknya papper bag di atas sofa dan berbagai bungkus makanan, tiba-tiba suara Julya memecah keheningan March dan Neon.
Sontak March dan Neon mengalihkan pandangan mereka ke arah Julya yang ada di ranjang pasien. Bukan hanya Julya yang ada disana, melainkan Novi juga sudah tertidur disana.
"Sayang, belanjaan siapa semua ini?" Tanya March sambil berjalan mendekati Julya.
"Punya Novi. Tapi ada sebagian juga untuk ku, Novi yang belikan." Jawab Julya.
Jelas saja jawaban Julya membuat Neon langsung ketar-ketir.
Cepat-cepat Neon berjalan mendekati Novi.
"Jangan bangunkan! Kasihan dia daritadi bolak-balik aku suruh untuk membeli makanan." Ucap Julya saat melihat Neon ingin membangunkan Novi.
"Tuh.." Julya menunjuk ponsel Neon yang ada nakas samping tempat ranjang.
Neon pun mengambil ponselnya lalu mengecek riwayat m-banking.
Mata Neon membulat melihat jumlah yang Novi keluarkan hanya dalam beberapa jam. Total yang Novi keluarkan tak sampai 5jt rupiah.
"Kenapa sedikit sekali? Tapi barang yang ia beli banyak." Lirih Neon pelan namun masih bisa di dengar March dan Julya.
"Semua barang yang Novi beli barang KW. Padahal aku menyuruhnya untuk langsung membeli barang yang bermerk, tapi dia tidak mau! Katanya dia kasihan dengan mu." Ucap Julya.
__ADS_1
Mendengar itu Neon menjadi terharu.
"Kau memang istri yang baik Novi." Lirih Neon sambil mengusap kepala Novi.
Dan karena sentuhan tangan Neon di kepalanya, Novi pun terbangun.
Mata Novi mengerjap.
"Sayang sudah pulang?" Tanya Novi saat melihat suaminya begitu ia membuka mata.
"Ayo kita pulang." Ajak Neon sambil membantu istrinya yang ingin duduk.
Novi menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya malam ini kita harus mengirim pasukan Mas Perkasa lagi ke pabrik." Ucap Neon. Sengaja Neon mengatakan itu untuk membuat March iri.
"Ish.." geram Novi karena Neon berbicara seperti di depan March dan Julya.
Sedangkan target yang ingin Neon buat iri hanya memutar bola matanya malas.
Bersambung...
\*\*\* **PROMOSI NOVEL BARU** \*\*\*
Kakak-kakak... singgah juga yah ke novel kedua aku. Judulnya Bukan Sekedar Obsesi. Terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1