
Agus yang sudah dikuasai emosi langsung menarik rambut Desi dan melempar Desi ke lantai. Begitu Desi tersungkur, Agus pun menginjak wajah Desi.
"Apa kau bilang tadi? Aku mokondo! Aku miskin! Dan kau mau meninggalkan ku dalam keadaan ku yang seperti ini?!" Geram Agus.
Agus menekan pijakan kakinya di wajah Desi.
"Aaaah..." Teriak Desi kesakitan.
"Dasar ja*lang tidak tahu diri!!! Harus-nya kau berterimakasih padaku karena aku telah memungut mu!! Kalau bukan karena aku, kau tidak akan menjadi seperti sekarang ini!! Tidak akan ada orang yang mengenal diri mu!" Bentak Agus.
"Sa-kit Gus! To-long le-pas kan aku! Aku mohon!" Mohon Desi.
"Apa masih mau kau bicara seperti itu pada ku, hah!!" Teriak Agus.
"Ti-tidak. Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi pada mu."
"Apa kau masih mau meninggalkan ku?!"
"Ti-tidak Gus, aku tidak akan meninggalkan mu!"
Agus pun melepaskan kakinya dari wajah Desi. Desi pun cepat-cepat berdiri.
"A-aku permisi ambil minum dulu." Ucap Desi.
"Mmm.." balas Agus sambil mengatur nafasnya.
Desi pun cepat-cepat keluar dari dalam kamar lalu turun kelantai bawah. Tujuannya bukan kedapur, melainkan kabur dari rumah itu.
Lima menit kemudian.
"Des.. Desi!!" Teriak Agus.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Desi.
"Kemana dia! Apa jangan-jangan...." Agus pun keluar dari dalam kamar, ia curiga kalau Desi sudah kabur.
Dengan setengah berlari, Agus menuruni anak tangga dan setelah sampai di lantai bawah, Agus langsung kedapur.
Kosong. Tidak ada Desi di dapur.
"Des!!! Desi!!" Teriak Agus lagi sambil mengelilingi lantai bawah untuk mencari Desi.
Kosong.
"Sial!!! Pasti ja*lang itu sudah kabur!!" Geram Agus.
Dengan nafas yang memburu, Agus pun kembali naik keatas. Ia mengepakkan pakaiannya dan mencari perhiasan milik Desi yang tidak sempat Desi bawa.
Kotak perhiasan pun Agus dapatkan. Agus mengambil perhiasan itu dari dalam kotak dan memasukkannya ke dalam kantong. Ia berniat menjual perhiasan itu untuk menyambung hidupnya karena sekarang ia sudah tidak memiliki uang sepeser pun.
Apartemen Neon.
Pagi ini, disaat March sedang sibuk memperjuangkan rumah Julya. Neon dan Novi masih asik bergelung dibawah selimut.
Maklum saja, pengantin baru. Neon habis-habisan menggempur Novi semalaman.
"Eugh..." Lenguh Novi sambil mengerjapkan matanya.
"Selamat pagi sayang." Sapa Neon saat melihat istrinya membuka mata.
Neon sudah bangun setengah jam yang lalu dan selama setengah jam itu juga Neon tak henti-hentinya memandangi wajah Novi, sambil bertanya-tanya dalam hatinya, apa sebenarnya yang membuat jantungnya bisa berdebat saat bersama Novi. Bahkan saat memandangi Novi saja, jantung Neon kembali berdebar sangat kencang.
"Kau sudah bangun." Balas Novi.
__ADS_1
"Jam berapa ini?" Tanya Novi.
"Yang pasti sudah sangat terlambat untuk sarapan." Balas Neon.
"Oh... Astaga!! Maaf, aku terlambat bangun." Novi merasa bersalah.
"Hey, kenapa minta maaf? Kau terlambat bangun juga karena ulah ku." Balas Neon.
"Kalau begitu, aku siapkan makanan dulu." Ucap Novi sambil berusaha mengubah posisinya menjadi duduk.
"Tidak perlu Sayang. Kita makan diluar saja. Apa kau lupa kalau hari ini kita harus mendaftar pernikahan kita ke catatan sipil?! Jadi lebih baik sekarang kita mandi dan bersiap-siap." Balas Neon.
"Mmm... Sayang.." lirih Novi.
"Apa?"
"Bagaimana ini, aku tidak punya pakaian untuk pergi ke catatan sipil." Jawab Novi.
"Astaga!!" Neon menepuk jidatnya.
"Kita beli di aplikasi belanja online saja dulu satu pasang, nanti pulang dari catatan sipil, baru kita belanja semua keperluan mu. Bagaimana?"
Novi menganggukkan kepalanya menyetujui ide Neon.
Neon pun mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi belanja online dan memesan satu pasang pakaian formal dan tak lupa sepasang pakaian dalam untuk Novi.
Pembelian pun berhasil dan satu jam lagi pesanan Neon pun tiba.
Sambil menunggu kurir datang, mereka pun memilih untuk mandi. Dan yang pasti bukan hanya sekedar mandi.
Bersambung...
__ADS_1