
"Apa aku sudah boleh melihat isi papper bag itu?" Tanya Mishea.
Kini mereka sudah berada di ruang televisi di lantai atas.
Rai menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Apa itu bukan buat ku?" Tanya Mishea sedikit kecewa.
"Ini untuk mu, tapi..." Rai menggantung kalimatnya dan itu berhasil membuat Mishea penasaran.
"Tapi apa?"
"Sebelum aku memberikan papper bag ini, ada hal serius yang ingin aku tanyakan pada mu."
"Apa? Tanya kan saja!"
"Apa kamu mau menjawab jujur?"
Mishea menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana perasaan mu terhadap ku? Apa perasaan mu masih sama seperti waktu SD dulu?"
Mishea menggelengkan kepalanya.
Melihat Mishea menggelengkan kepalanya, Rai menghela nafasnya kecewa.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?"
"Karena aku..." Rai sedikit ragu mengungkapkan perasaannya pada Mishea, Rai takut Mishea menolaknya.
"Kenapa?" Mishea makin penasaran.
"Karena sepertinya aku telah jatuh cinta padamu." Akhirnya Rai mengakui perasaannya pada Mishea meski agak sedikit malu-malu karena ini pertama kalinya Rai menyatakan perasaannya pada seorang wanita.
Mendengar pengakuan Rai jelas saja Mishea senang bukan main, hatinya sudah seperti taman bunga yang di tumbuhi bermacam-macam jenis bunga.
__ADS_1
Tapi Mishea tidak ingin langsung menunjukkan rasa senangnya itu, ia ingin mengetes Rai terlebih dulu.
"Benarkah? Mulai kapan?" Tanya Mishea.
"Aku juga tidak tahu kapan pastinya. Tapi yang jelas aku baru menyadarinya tadi malam. Tadinya aku mencoba menyangkal diri ku, tapi semakin aku menyangkal, dada ini rasanya sesak sekali. Dan setelah aku mengakui perasaan ku ini kalau aku sudah jatuh cinta padamu, rasanya lega sekali." Jawab Rai seraya memegang dada-nya.
"Lalu sekarang setelah kamu mengungkapkan perasaan mu pada ku, apa dada mu semakin lega?"
Rai menggelengkan kepalanya.
"Aku jadi takut."
"Takut kenapa?"
"Takut kamu menolak ku."
"Apa menurut mu aku akan menolak mu?"
"Entah lah aku tidak tahu. Kan kamu bilang kalau perasaan mu pada ku tidak seperti dulu saat masih SD."
Mendengar itu Rai semakin menunjukkan ekspresi kecewa-nya.
"Karena waktu SD perasaan ku pada mu bisa di bilang hanya cinta monyet. Tapi kalau perasaan ku pada mu sekarang adalah perasaan cinta yang sesungguhnya, perasaan cinta orang dewasa." Jawab Mishea.
Rai yang sempat mengalihkan pandangannya dari Mishea karena kecewa, spontan kembali melihat Mishea.
"Coba kamu ulang kata-kata mu yang tadi." Pinta Rai. Bukan karena Rai tidak mendengar tapi karena Rai ingin memastikan apa yang baru saja ia dengar.
"Yang mana? Cinta monyet?"
"Bukan, setelah itu."
"Cinta orang dewasa?"
"Sebelumnya."
__ADS_1
"Yang mana? Aku lupa?" Seloroh Mishea.
"Haish!! Ya sudah lah. Kalau begitu aku anggap kamu menolak ku." Ucap Rai pura-pura kesal padahal ia ingin membalas candaan Mishea.
"Aku pulang saja kalau begitu." Kata Rai lagi seraya mengangkat bokongnya dari sofa.
"Ekh...!!!" Mishea menarik tangan Rai agar duduk lagi di sofa.
"Gitu aja ngambek." Ejek Mishea.
"Jujur, perasaan ku padamu.." belum selesai Mishea menyelesaikan kalimatnya, Rai sudah menempelkan jari telunjuknya di bibir Rai.
"Kali ini, izinkan aku mengungkapkannya dengan benar." Ucap Rai lalu berlutut di hadapan Mishea sambil mengeluarkan boneka beruang Be Mine-nya dari dalam papper bag.
Mata Mishea membulat melihat aksi Rai.
"Shea.."
"Hemh.."
"Mau kah kamu menjadi istri ku?" Tanya Rai.
Mendengar itu mata Mishea semakin membulat karena Rai langsung memintanya untuk menjadi istri bukan kekasih.
Sedangkan di ujung tangga teratas, Satria dan Mishella yang sedang mengintip merespon berbeda-beda aksi Rai itu. Jika Mishella merespon aksi Rai itu sangat gentle dan romantis tapi tidak dengan Satria yang menganggap Rai terlalu lebay.
"Cih.. lebay!! Harusnya meminta menjadi kekasih dulu baru menjadi istri!!" Gerutu Satria pelan.
"Hush, bisa diam tidak?! Nanti mereka menyadari kita ada disini!!" Tegur Mishella.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...