
Setelah selesai makan, Mishella pun membersihkan meja, membuang semua wadah makanan ke dalam tempat sampah. Tanpa Mishella sadari, kalau kartu nama Rai yang Mishea asal letak tadi juga ikut Mishella masukkan kedalam tempat sampah.
*
*
*
Hotel.
Pukul 22.00
Rai terus menatap layar ponselnya, berharap ada telepon dari Mishea.
"Apa mata mu tidak bosan dari tadi hanya melihat layar ponsel mu?" Ejek Satria.
"Aaaargh!!! Kenapa dia belum menelpon ku!! Apa dia benar-benar tidak ingat dengan ku?" Geram Rai.
"Sudah gi*la kau!!" Cebik Satria.
"Apa aku temui lagi saja dia?" Monolog Rai lagi. Rai pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Satria.
"Ayo temani aku menemui Mishea." Ajak Rai sambil menarik tangan Satria dan langsung disentak Satria.
"Tidak mau!! Kau saja!!" Jawab Satria.
"Ayolah Sat, apa kau mau melihat ku mati penasaran?!"
__ADS_1
"Kalau dia tidak menghubungi mu, itu berarti dia tidak mengingat mu atau mungkin dia bukan Mishea yang kau kenal." Ucap Satria.
"Apa begitu?!" Lirih Rai.
"Kau kenapa sih, kenapa tiba-tiba sangat penasaran dengan si culun kembar itu? Apa kau sudah jatuh cinta padanya?"
"Enak saja!! Aku penasaran bukan karena aku jatuh cinta, aku hanya ingin membuktikan feeling ku saja."
"Cih!!" Decih Satria sambil memutar bola matanya malas.
"Dari pada kau galau tidak jelas, lebih baik kita ke klub malam untuk menghilangkan kejenuhan, masa kita di London hanya mengurung diri dalam kamar hotel." Ajak Satria sambil berdiri dari tempat duduknya.
Rai diam sambil menimbang-nimbang usul Satria.
"Ayolah kalau begitu." Jawab Rai. Ia menyetujui ide Satria untuk bersenang-senang di klub malam.
Karena mereka tidak memiliki kendaraan, mau tak mau mereka pun menunggu taksi yang lewat di depan gedung hotel.
Mata Rai terus mengarah ke arah gedung apartemen yang ada diseberang jalan, sambil berharap Mishea keluar dari gedung.
Dan apa yang Rai harapkan pun kejadian, ia melihat Mishea di depan gedung apartemen, namun bukan baru keluar dari gedung apartemen melainkan baru turun dari dalam mobil. Mishea tidak sendiri, ia bersama seorang pria bule yang kalau di lihat sekilas terlihat sangat culun karena memakai kacamata dan model rambut seperti superman.
"Apa yang kau lihat?" Tiba-tiba saja Satria bertanya karena tak sengaja melihat tatapan tajam mata Rai.
Rai tidak menjawab, malah sekarang bukan hanya matanya saja yang menatap tajam, tapi rahangnya juga terlihat mengeras menahan emosi.
Entah kenapa Rai sangat emosi melihat Mishea tersenyum dengan laki-laki lain yang menurutnya kegantengannya tidak sebanding dengan dirinya.
__ADS_1
Penasaran dengan apa yang Rai lihat, Satria pun mencoba mengikuti arah pandang Rai, namun baru saja Satria ingin mengikuti arah pandang mata Rai, tiba-tiba taksi berhenti di depan mereka dan seorang wanita turun dari dalam taksi.
Melihat taksi itu sudah kosong, Satria pun buru-buru menarik tangan Rai dan mendorong Rai masuk ke dalam taksi, setelah Rai masuk ke dalam taksi, barulah Satria masuk ke dalam taksi.
"Kemana Tuan?" Tanya supir taksi.
"Klub malam." Jawab Satria.
"Ada banyak klub malam disini, kalian mau ke klub mana yang dimana?" Tanya supir taksi lagi.
"Ke klub malam yang paling besar dan terkenal di kota ini dengan wanita yang sangat menggoda di dalamnya." Kali ini Rai yang menjawab. Ia ingin melampiaskan rasa emosinya yang tidak jelas pada Mishea ke wanita-wanita yang bisa ia ajak naik ke atas ranjang.
"Baik Tuan." Jawab supir taksi.
Supir taksi pun menjalankan mobilnya menuju klub malam yang Rai maksud.
Sedangkan di depan gedung apartemen, tak lama setelah taksi yang membawa Rai dan Satria pergi, Mishea pun memasuki gedung apartemen dan laki-laki yang bersama Mishea itu pun pergi dari depan gedung apartemen tempat tinggal Mishea dengan mobil sportnya.
"Kau harus jadi milikku Shea." Gumam si laki-laki itu setelah berada dalam mobilnya.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1