
King Winston Night Club.
Kini Rai dan Satria sudah berada di klub malam terbesar di kota London.
Suara dentuman musik DJ yang sangat besar langsung menyambut kedatangan mereka.
Rai dan Satria pun duduk di bar dan memesan minuman mereka.
"Satu botol whisky." Pesan Rai pada bartender.
Bartender pun mengambil satu botol whisky, dua gelas kosong dan satu bowl es batu lalu meletakkan di hadapan Rai dan Satria.
Rai pun menuangkan whisky ke dalam gelasnya lalu memasukkan dua bongkah es batu berukuran kecil ke dalam gelasnya.
Setelah Rai selesai menuangkan whisky kedalam gelasnya, Satria pun mengambil botol whisky itu.
PLAK. Rai langsung memukul tangan Satria begitu tangan Satria memegang botol whisky-nya.
"Satu botol ini buat ku!! Kau pesan sendiri!!" Ucap Rai.
"Haish, kenapa kau jadi pelit sekali sih!!" Cebik Satria.
Mau tak mau Satria pun memesan satu botol whisky lagi untuknya.
Setengah jam mereka menikmati minuman mereka tanpa saling mengobrol tapi mata mereka sedang mencari target untuk mereka ajak naik keatas ranjang. Lebih tepatnya hanya Satria saja yang serius mencari target, karena sekarang di otak Rai sedang berputar memori Mishea yang tersenyum dengan laki-laki lain meski matanya terlihat seperti sedang berkeliling.
"Apa kau sudah menemukan wanita yang kau inginkan Rai!" Tanya Satria.
Rai menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku juga belum. Sepertinya kita harus turun ke lantai dansa." Ucap Satria lagi.
Satria pun beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo, apa kau tidak mau ikut?" Tanya Satria karena Rai tak kunjung berdiri dari tempat duduknya.
Rai pun berdiri dari tempat duduknya.
"Bro, jangan di bereskan dulu minuman kami!" Ucap Satria pada bartender.
"Baik Tuan." Jawab bartender itu.
Rai dan Satria pun meninggalkan area bar dan berjalan menuju lantai dansa.
Saat sudah sampai di lantai dansa, mata Rai langsung tertuju pada seseorang yang sedang di berdansa erotis mengikuti alunan musik bersama seorang wanita.
"Sepertinya aku pernah melihat orang itu, tapi dimana yah?!" Gumam Rai dalam hati.
Satria menarik tangan Rai sampai di tengah-tengah lantai dansa.
Mereka pun membaur dan berdansa mengikuti alunan musik DJ bersama pengunjung klub yang lain.
Meski ikut berdansa mengikuti alunan musik DJ, tapi mata Rai terus melihat ke arah laki-lakinya yang sedang berdansa dengan erotisnya dengan seorang wanita sambil otaknya terus mengingat-ingat dimana dan siapa sosok laki-laki itu.
Tak lama Rai membulatkan matanya kala ia telah mengingat sosok laki-laki itu.
"Bukan kah dia laki-laki yang bersama Mishea tadi?" Gumam Rai.
"Tapi kenapa penampilannya sekarang berbeda? Yang tadi memakai kacamata dan berpenampilan culun, tapi kenapa yang sekarang seperti seorang bastard?!" Gumam Rai dalam hatinya lagi.
__ADS_1
Tak ingin rasa penasaran menghantui dirinya, Rai pun mendekati laki-laki yang menurutnya adalah laki-laki yang sama dengan yang ia lihat bersama Mishea tadi.
Setibanya di dekat laki-laki itu, Rai pun pura-pura berjoget.
"Hai Bro." Sapa Rai.
"Hai." Balas laki-laki itu.
"Apa ini wanita mu?" Tanya Rai.
"Bukan. Kami baru saja berkenalan."
"Oh.." Rai membulatkan mulutnya.
"Kalau begitu apa aku bisa meminta wanita ini menemani ku malam ini?"
"Hei bro, begitu banyak wanita di klub malam ini, kenapa harus wanita ini? Aku saja belum memakainya!!"
"Ya kau benar, tapi entah kenapa aku tergoda dengan wanita ini. Sepertinya dia sangat lihai memainkan pinggulnya." Balas Rai.
"Dan juga mulutnya." Timpal laki-laki itu.
"Ya kau benar." Balas Rai.
Merasa laki-laki itu sudah bisa menerima keberadaan Rai, Rai pun mulai memastikan tentang feelingnya.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...