
"Rai!!" Lirih Satria pelan namun tegas dengan sorot mata yang tajam seolah ingin memberi peringatan pada Rai untuk tidak membahas masalah itu saat ini.
"Itu semua salah ku, aku yang menyuruh Kak Shea untuk pura-pura tidak mengenal mu karena aku tidak mau Kak Shea kembali sakit hati seperti dulu." Jawab Mishella.
Rai pun membuka mulutnya hendak membalas kata-kata Mishella, tapi Satria kembali memberi tatapan tajam pada Rai untuk berhenti membahas masalah itu.
Melihat tatapan tajam Satria, Rai pun menghela nafasnya kasar dan memilih untuk menuruti kata-kata Satria.
"Sudah lah tidak usah di bahas lagi. Mau kita bahas pun tidak akan mengembalikan keadaan. Aku sudah memaafkan kalian." Ucap Rai.
"Jadi Mishea sekarang ada di dalam?"
Mishella menganggukkan kepalanya.
"Dengan siapa?"
"Sendiri."
"Kenapa kau tidak menemaninya?"
"Aku tidak tega melihat keadaannya. Kak Shea enggan bersuara, dia selalu meringkuk disofa dengan selimutnya. Makanya aku memilih keluar."
"Apa boleh aku masuk dan menemaninya?"
"Benarkah? Silahkan saja, manatau setelah melihat mu Kak Shea jadi mau membuka suaranya dan di terapi."
"Ayo, biar aku bicara dengan dokternya." Ucap Mishella.
Mereka bertiga pun berjalan menuju ruangan dokter.
Ceklek. Mishella membuka pintu ruangan dokter lalu masuk keruangan dokter diikuti Rai dan Satria.
Melihat Mishella masuk, dokter yang sedang duduk di sofa tak jauh dari Mishea yang sedang meringkuk ketakutan pun berdiri dan berjalan menghampiri Mishella.
"Dokter ini Rai, teman saya. Bisakah kita memberi ruang untuk Rai dan kembaran saya berdua, karena Rai ini adalah orang yang sangat ingin ditemui kembaran saya setelah kejadian. Manatau saja setelah melihat Rai, kembaran saya jadi mau membuka suaranya dan mau terapi." Ucap Mishella.
"Rai? Apa Anda Tuan Rai yang juga membuat janji konsultasi dengan saya sore ini?"
Mishella menoleh ke arah Rai.
__ADS_1
"Kau juga mau konsultasi?" Tanya Mishella kaget. Sejak tadi ia lupa bertanya ada urusan apa Rai dan Satria ada di klinik praktek dokter Jagapati.
"Iya dok, tapi sekarang masalah saya tidak penting. Kita sembuhkan saja Mishea dulu." Jawab Rai.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan memberikan waktu kalian berdua, kami akan menunggu di luar. Panggil kalau Saudari Mishea mau membuka suaranya." Balas dokter.
Rai menganggukkan kepalanya.
Dokter, Mishella, Satria dan satu orang perawat asisten dokter Jagapati pun keluar dari dalam ruangan itu meninggalkan Rai dan Mishea.
*
*
*
Setelah semua orang keluar, Rai menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kasar terlebih dahulu sebelum berjalan mendekati Mishea.
"Ekhem... Shea." Panggil Rai sambil berjalan mendekati Mishea yang sedang meringkuk dan tertutup selimut.
Belum ada respon dari Mishea.
Rai terus berjalan menghampiri Mishea, sampai akhirnya kini Rai sudah berjongkok tepat di depan Mishea.
Mendengar itu, perlahan Mishea membuka selimutnya untuk melihat apa benar orang yang ada di dekatnya sekarang adalah Rai.
Rai langsung tersenyum lebar begitu Mishea membuka selimutnya.
"Rai.." lirih Mishea.
"Iya ini aku Rai." Balas Rai.
Mishea langsung memeluk Rai.
"Rai... Aku takut Rai.. aku takut." Ucap Mishea dengan suara dan tubuh yang bergetar hebat dan Rai bisa merasakan getaran itu.
"Tenang Shea, tenang. Ada aku disini." Balas Rai sambil mengelus kepala sampai punggung Mishea untuk menenangkan Mishea.
Lima menit Rai berusaha menenangkan Mishea, akhirnya Mishea pun kembali tenang.
__ADS_1
"Sekarang lepas selimutnya yah." Bujuk Rai.
Mendengar itu, Mishea langsung kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Shea, ayo buka selimutnya, bagaimana aku bisa melihatmu kalau kau bersembunyi di balik selimut? Ayo buka Shea."
"Tidak, aku tidak mau!! Ada kamera tersembunyi dimana-mana, aku tidak mau!!"
"Tidak ada Shea! Percayalah pada ku, aku sudah memeriksa seluruh ruangan ini, tidak ada kamera tersembunyi disini. Ayo sekarang buka selimut mu."
"Benarkah?" Tanya Mishea sambil menyembulkan kepalanya dari balik selimut.
Rai pun menganggukkan kepalanya.
"Percaya padaku. Sekarang, buka selimut mu yah." Bujuk Rai sekali lagi.
Mishea pun membuka selimut yang menutupinya dan dibantu oleh Rai.
"Shea, di luar ada dokter yang akan membantu mu melupakan si breng*sek itu, apa kau mau bertemu dengan dokter itu?"
Mishea menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Dokter itu baik dan tujuannya juga baik, ingin membantu mu melupakan si breng*sek itu, kenapa kau tidak mau? Atau kau ingin terus mengingat si breng*sek itu?"
"Tidak!!! Aku tidak sudi mengingat laki-laki breng*sek itu!"
"Kalau begitu, kau mau yah menjalani terapi? Aku akan disini bersama mu." Bujuk Rai.
Mishea diam sejenak sambil menatap dalam-dalam mata Rai lalu tak lama Mishea pun menganggukkan kepalanya setuju.
Melihat Mishea menganggukkan kepalanya, Rai pun memanggil dokter Jagapati yang sedang menunggu di luar.
Dan dengan pendampingan dari Rai, Mishea pun mendapat terapi eksposur, dimana dalam terapi ini dokter membuat Mishea dalam keadaan sangat tenang, lalu meminta Mishea mengingat kembali kejadian yang membuat Mishea trauma dan meminta Mishea mengendalikan emosinya sendiri dengan arahan yang dokter berikan.
Dalam terapi ini, Mishea memang tidak bisa langsung melupakan traumanya tapi setidaknya dalam waktu lebih dari satu jam terapi, Mishea sudah bisa sedikit mengontrol ketakutannya di banding saat pertama kali Mishea di bawa terapi.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...