Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
# 86


__ADS_3

Dua jam kemudian.


Setelah urusan mendaftarkan pernikahannya dengan Novi di kantor catatan sipil selesai, Neon dan Novi pun menyusul ke rumah sakit. Tak lupa mereka membeli buah tangan untuk Julya.


Kini mobil yang Neon kendarai akhirnya sampai juga di rumah sakit tempat Julya dirawat.


Neon dan Novi pun keluar dari dalam mobil dan jalan beriringan memasuki gedung rumah sakit.


"Apa kau tidak ingin memeriksakan kandungan mu? Manatau saja hasil kerja keras ku semalam sudah jadi." Goda Neon. Ia juga tahu kalau muntahan Mas Perkasa tidak akan langsung jadi embrio hanya dalam satu malam.


"Hish.. apa sih!!" Desis Novi sambil memukul lengan suaminya itu. Wajah Novi juga ikut memerah mendengar pertanyaan Neon.


"Menggemaskan." Kata Neon sambil mencubit pipi Novi gemas.


Mereka pun menaiki lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana kamar rawat Julya berada.


Ting. Pintu lift terbuka. Mereka pun sampai di lantai yang mereka tuju.


Neon dan Novi pun keluar dari dalam lift.


"Hannoks." Gumam Neon saat melihat sosok Hannoks yang sedang berbincang dengan March di depan kamar rawat Julya.

__ADS_1


Mereka pun terus berjalan mendekati March dan Hannoks.


Mendengar suara langkah sepatu mendekat ke arah mereka, sontak March dan Hannoks menjeda obrolan mereka dan menoleh kearah suara langkah sepatu.


"Ku kira kau lupa kesini dan ingin langsung berbulan madu!" Sindir March.


"Tadinya. Tapi kalau bukan karena yang sakit itu Julya, Kakak Ipar ku, aku juga malas kesini, mending bulan madu! Iya kan Sayang?!" Balas Neon.


"Uweeek!!" March mengeluarkan ekspresi ingin muntah mendengar Neon memanggil Novi dengan panggilan Sayang.


Novi menggeleng-gelengkan kepala merespon kata-kata Neon.


"Kak Julya mana?" Tanya Novi pada Neon.


"Apa Nenek sudah diberitahu?" Tanya Novi.


March menggelengkan kepalanya.


"Istri ku tercinta tidak ingin Nenek mertuaku sampai tahu kalau dirinya terkena musibah. Istri ku tercinta tidak ingin membuat Nenek mertuaku khawatir, takutnya nanti Nenek mertuaku..." Kata-kata March terpotong karena Neon langsung menutup mulutnya dengan tangannya.


"Sst!! Kau terlalu berisik!! Istri ku tercinta lah, Nenek mertua ku lah!!" Protes Neon.

__ADS_1


"Novi Sayang, masuklah kedalam, temui Kakak Iparku." Perintah Neon pada istrinya.


Sekali lagi Novi hanya bisa menghela nafasnya panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar rawat Julya.


Setelah Novi masuk, barulah Neon melepaskan tangannya dari mulut March.


"Dasar kurang ajar kau! Aku ini boss mu sekaligus suami dari wanita yang sejak tadi kau panggil Kakak Ipar, berani-nya kau menutup mulut ku seperti itu!" Omel March.


"Cih.. siapa suruh kau berisik! Lagian ini bukan kantor dan aku masih dalam masa cuti, jadi tak ada boss-boss'an disini!" Balas Neon.


Neon pun melirik ke arah Hannoks yang sejak tadi duduk sambil memperhatikan mereka sambil menggelembungkan pipinya menahan tawa melihat tingkah Kakak sepupunya dan boss-nya yang seperti anak kecil.


"Kalau mau tertawa, tertawa saja tidak usah ditahan!! Nanti udara yang kau tahan dalam pipi mu keluar dari bawah!" Dumel Neon.


Sontak Hannoks mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar.


"Sepertinya keakraban kalian bukan hanya sekedar partner kerja." Selidik March.


"Apa aku belum bilang kalau Hannoks adalah Adik sepupu ku?" Balas Neon.


March pun menggelengkan kepalanya karena memang Neon tidak pernah memberitahu dirinya.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kan sudah ku beritahu. Hannoks ini adalah adik sepupu ku. Dia ini sebenarnya seorang hacker tapi bisa juga kita suruh-suruh untuk mencari seseorang." Kata Neon lagi.


Bersambung...


__ADS_2