
Kini March dan Julya sudah berada di gedung apartemen tempat tinggal March dan sedang menunggu pintu lift terbuka.
Ting. Pintu lift pun terbuka.
Dua orang yang ada di dalam lift pun keluar, setelah itu barulah March dan Julya yang masuk.
Karena March tak melihat ada orang lain yang ingin masuk kedalam lift, March pun menekan tombol untuk menutup pintu lift.
Pintu lift pun tertutup sempurna.
Karena di dalam lift hanya ada dirinya dan Julya, March yang sudah tidak sabaran pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu.
March memutar tubuhnya untuk menghadap Julya yang berdiri di belakangnya.
"Mau apa kau?!" Tanya Julya saat menyadari ada yang tidak beres dari tatapan March.
March tidak menjawab, ia malah menghimpit Julya didinding lift lalu mencium bibir Julya dengan sangat rakus.
"Hemph!!!" Ronta Julya sambil memukul lengan March.
Karena Julya meronta, tangan March pun mengambil kedua tangan Julya lalu meletakkannya diatas kepala Julya.
Ting. Tiba-tiba lift terbuka.
Cepat-cepat March melepaskan tautan bibirnya di bibir Julya sebelum pintu lift terbuka lebar. Lalu berpura-pura mengelus kepala Julya saat ada tiga orang yang masuk kedalam lift.
__ADS_1
"Awas kau yah!!!" Geram Julya.
Melihat kegeraman Julya, March hanya tersenyum tipis lalu mengerlingkan sebelah matanya.
Ting. Tak lama pintu lift terbuka lagi. Lift yang membawa mereka sudah sampai di lantai dimana unit apartemen March berada.
March dan Julya pun keluar dari dalam lift.
Melihat koridor yang sepi, lagi dan lagi March menggunakan kesempatan itu untuk membakar gai*rah mereka berdua.
March menarik tangan Julya lalu menghimpitnya ke tembok.
"Jangan gi*la March!!! Lepas!!" Bentak Julya.
"Aku sudah tidak sabar baby." Balas March.
Dengan gampangnya March menggelengkan kepalanya lalu mendaratkan bibirnya di leher Julya.
"March, hentikan!! Nanti ada yang lihat!!"
March tidak memperdulikan Julya, mengeksplor leher Julya dengan bibirnya lebih mengasyikan bagi March dibanding harus mendengar ocehan Julya.
Julya yang kesal karena March tidak mau mendengarkannya terpaksa menarik rambut March.
"Aaaakh.." teriak March kesakitan. Bibir March pun otomatis menjauh dari leher Julya.
__ADS_1
"Makanya dengar kalau aku bicara!!" Geram Julya sambil melepaskan tangannya dari rambut March.
Julya pun melangkahkan kakinya menuju unit apartemen March. Sedangkan March, mau tak mau ia menyusul Julya.
"Galak sekali!! Apa dia tidak pernah menonton film romantis! Kan banyak adegan pasangan yang berciuman panas di koridor apartemen atau hotel sebelum mereka lanjut ke permainan panas di dalam kamar." Dumel March.
Bip Bib Bip. Julya menekan beberapa digit kode password unit apartemen March. Kodenya masih sama seperti saat Julya baru datang, March belum mengganti kode password-nya dengan tanggal pernikahan mereka seperti yang pernah March janjikan.
Ceklek. Pintu pun terbuka.
Julya pun masuk ke dalam.
"Ma..." Seorang wanita menyambut kedatangan Julya. Wanita itu pikir yang membuka pintu adalah March, mantan suaminya.
Ya, wanita itu adalah Mey, mantan istri March.
Tak lama March pun masuk ke dalam unit apartemen.
"Kau i....ni." March yang tadinya ingin melayangkan protesnya pada Julya, mengurungkan niatnya, bahkan suaranya makin merendah saat melihat sosok sang mantan istri.
"Mey." Lirih March.
"Sedang apa kau disini?"
Mendengar nama Mey keluar dari mulut March, Julya pun tahu kalau wanita yang ada di hadapannya sekarang adalah mantan istri March.
__ADS_1
Melihat keberadaan Julya di apartemen March, Mey pun yakin kalau Julya dan March memiliki hubungan spesial. Dan Mey tidak suka itu.
Bersambung...