Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
S-2 # 61


__ADS_3

"Bagaimana aku bisa tidur kalau ini terus nendang-nendang." Ucap Mishea. Dan tanpa sadar Mishea malah memegang batang sakti milik Rai.


"Aaargh..." Teriak Mishea seraya melepaskan tangannya dari batang sakti yang masih tertutupi celana, ia baru sadar kalau dirinya telah memegang batang sakti Rai yang sudah mengeras.


Sedangkan Rai hanya bisa menangis dalam hati saat ketidaksengajaan itu terjadi.


"Bolehkah aku menuntut tanggung jawab mu sekarang Mishea!!!" Jerit Rai dalam hatinya.


"Ma-maaf Sayang, aku tidak sengaja." Ucap Mishea merasa bersalah karena memegang batang sakti Rai. Apalagi wajah Rai terlihat seperti sedang meringis. Mishea pikir saat ini Rai sedang kesakitan karena batang saktinya ia pegang.


"Jangan khawatir, ini bukan masalah besar." Balas Rai sok tegar.


"Sudah lah jangan pikirkan, ayo kita tidur lagi " ajak Rai sambil mendekatkan tubuh Mishea lagi padanya tapi kali ini Rai tidak memeluk Mishea karena sangat berbahaya, ada menara sutet yang tegangannya sedang tinggi-tinggi'nya.


"Aku mohon pada mu Pedro, agar kau tidur juga!!" Sugesti Rai dalam hati pada Abang jago-nya.


Tapi apalah daya, Abang jago adalah makhluk nokturnal yang biasa mencari makan di malam hari. Jadi sekeras apapun usaha Rai memberi sugesti pada Abang jago, tetap Abang jago tidak mau tidur.


Rai pun mengubah posisinya menjadi telungkup sambil mengoyang-goyangkan kakinya. Setidaknya dengan cara seperti ini secara tidak langsung ia juga menggoyang-goyangkan Abang jago-nya.


Dengan cara itu pun Abang jago masih tidak mau tidur. Rai pun mengubah posisinya lagi dan terus mengubah posisinya lagi sampai ia benar-benar menemukan posisi yang bisa membuat Abang jagonya kembali tidur tanpa harus ia pergi ke kamar mandi dan menemui Tante Scarla.


Mishea yang ada disamping Rai pun bisa merasakan kegelisahan Rai walaupun ia tidak tahu apa yang sebenarnya membuat Rai gelisah.


"Sayang...." Panggil Mishea seraya memeluk Rai dari belakang karena sekarang posisi Rai sedang membelakangi Mishea.

__ADS_1


Rai menggigit bibir bawahnya menahan tangis karena aksi Mishea yang memeluknya dari belakang. Mishea tidak sadar kalau sekarang dua gundukan dagingnya menempel di punggung Rai dan Rai bisa merasakan benda kenyal itu.


"Sayang, kamu kenapa sih? Bilang kalau memang ada yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Mishea.


"Shiiiit!!! Aku sudah tidak tahan lagi!!!" Ucap Rai dalam hatinya.


Rai pun membalikkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Mishea.


"Sayang..." Nafas Rai sudah sangat memburu.


"Iya Sayang."


"Kalau aku mengatakan yang sebenarnya pada mu, apa kamu mau membantu ku menghilangkan kegelisahan ku?"


"Kalau aku bisa bantu, pasti aku bantu. Tapi kalau tidak, kita akan membantu mencari solusinya."


"Hanya aku? Memangnya apa?"


"Sayang... Maafkan aku, tapi malam ini aku sangat ingin meminta hak ku sebagai suami mu."


"Rai..." Lirih Mishea. Ia tidak bodoh, ia tahu apa yang suaminya itu maksud.


"Aku mohon Shea, aku sudah tidak bisa menahannya lagi."


"Aku juga mau memberikannya Rai, tapi aku takut... Aku takut kejadian menjijikkan malam itu masuk lagi di kepala ku."

__ADS_1


"Kuncinya hanya satu agar ingatan tentang malam itu keluar dari ingatan mu."


"Apa?"


"Nikmatilah sentuhan ku, agar sentuhan-sentuhan ku bisa mengeluarkan ingatan kelam malam itu dari kepala mu dan menggantinya dengan ingatan indah malam ini." Jawab Rai.


"Tapi-" Mishea nampak ragu. Bukan meragukan kata-kata Rai, melainkan meragukan dirinya sendiri apa dia bisa menikmati sentuhan Rai.


"Aku mohon, percayakan semuanya padaku."


Melihat tatapan mata Rai yang sangat sendu, Mishea pun menjadi tidak tega untuk tidak memberikan hak Rai.


Mishea menarik nafasnya dalam-dalam, seiring ia menarik nafas dalam-dalam ia juga mengumpulkan keberaniannya untuk memberikan apa yang seharusnya menjadi milik Rai.


Lalu membuang nafasnya kasar, seiring membuang nafasnya kasar, Mishea juga membuang semua rasa takut yang ada dalam hati dan pikirannya.


Mishea pun menelentangkan tubuhnya.


"Aku siap Rai. Jadikan lah aku milik mu seutuhnya dan ambil lah yang ada dalam diri ku yang memang menjadi hak mu." Ucap Mishea pasrah.


Tak perlu pikir panjang lagi, Rai pun langsung menindih tubuh Mishea dan memberikan sengatan-sengatan kenikmatan di tubuh Mishea terlebih dahulu sebelum ia memulai permainan inti-nya.


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2