
Kini March sudah bersiap berangkat kerja.
Cup. March mencium kening Julya.
Cup. Gantian, March mencium perut Julya.
"Aku pergi dulu." Pamit March.
Julya menganggukkan kepalanya dan March pun keluar dari dalam unit apartemennya.
March masuk kedalam lift yang akan membawanya kelantai dasar.
Sesampainya di lantai dasar, March mengeluarkan ponselnya dan menghubungi pengacara Philips.
Tuut.. Tuut.. Suara nada sambung panggilan ke ponsel pengacara Philips.
"Halo Tuan March." Jawab pengacara Philips diseberang telepon.
"Sudah dimana?" Tanya March tanpa basa-basi.
"Sudah dikantor." Jawab pengacara Philips.
"Baiklah, saya akan menjemput Anda disana." Balas March.
March pun melangkahkan kakinya keluar dari lobi menuju tempat parkir dan berjalan menuju mobilnya. Masuk kedalam mobil, menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobilnya keluar dari area apartemen tempat tinggalnya.
__ADS_1
Tujuannya bukan kantor-nya melainkan kantor pengacara Philips.
FLASHBACK ON.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam.
Hanoks, orang yang March minta mencari tahu tentang mantan suami Julya kini sudah berada di kasino tempat Agus, mantan suami Julya berada. Agus sedang menghambur-hamburkan uang Julya untuk bermain judi.
Sudah banyak aset Julya yang Agus jual untuk bermain judi dan membiayai gaya hidup Desi, wanita yang dulu menjadi selingkuhan Agus namun sekarang sudah menjadi teman hidup Agus. Ingat, hanya sekedar teman hidup, mereka belum terikat dengan pernikahan.
Profesi Desi juga sama dengan Julya, penyanyi kafe dan juga singer wedding. Hanya saja, saat Julya sedang dalam puncak kejayaan, tak ada satu pun WO atau EO yang mengenal nama Desi. Namun setelah Agus berhasil menyebar fitnah tentang Julya dan Agus menaikkan nama Desi, baru lah saat itu WO dan EO banyak memakai jasa Desi. Nama Desi melambung dan nama Julya tenggelam bahkan terkubur dari dunia hiburan.
Meski Agus berhasil menaikkan nama Desi, tapi bukan Agus yang menjadi manager Desi. Karena sebelum bersama Agus, Desi memang sudah punya manejemen sendiri. Agus tidak mempermasalahkan hal itu, karena dirinya juga banyak memegang harta Julya.
Dan malam ini adalah hari kesialan bagi Agus karena malam ini uang hasil menggadai rumah Julya juga ludes.
Karena uang sudah tidak ada, Agus pun keluar dari kasino entah kemana.
Setelah Agus pergi, Hanoks mendekati rentenir yang memegang sertifikat rumah Julya.
Hanoks pun melakukan negosiasi dengan rentenir agar sertifikat rumah Julya bisa berpindah ketangannya.
Negosiasi pun antara Hanoks dan rentenir itu pun disepakati, Hanoks pun menghubungi March untuk memberitahu hasil kesepakatannya dengan si rentenir. Tanpa pikir panjang, March pun menyetujui apapun hasil kesepakatan Hanoks dengan rentenir itu.
Hasil kesepakatan itu adalah March harus membayar 3x lipat dari uang yang di pinjam Agus pada si rentenir.
__ADS_1
March pun mentransfer sejumlah uang yang di minta si rentenir. Bagi March tidak masalah mengeluarkan uang berapa pun yang penting sertifikat rumah Julya bisa berpindah ketangannya.
Keesokan paginya, setelah mendapat laporan dari Hanoks, March pun menghubungi pengacara Philips untuk bertemu dengan Hanoks dan mengambil sertifikat rumah Julya.
FLASHBACK OFF
*****
Setelah kurang lebih dua puluh menit membelah jalanan, akhirnya mobil yang March kendarai tiba juga di depan gedung kantor pengacara Philips. March pun menghubungi pengacara Philips agar keluar dari dalam gedung.
Lima menit kemudian.
BRAAK. Pengacara Philips masuk kedalam mobil March.
"Selamat pagi Tuan March, maaf membuat mu lama menunggu." Ucap pengacara Philips.
"Tidak masalah. Harusnya aku yang minta maaf karena sudah menyita waktu mu yang berharga hanya untuk mengurus masalah dengan tikus-tikus kecil." Balas March.
"Santai saja Tuan March, ini sudah tugas saya." Balas March.
March pun melajukan mobilnya pergi dari depan gedung kantor pengacara Philips.
Tujuan mereka sekarang adalah rumah lama Julya yang kini ditempati mantan suami Julya.
Bersambung...
__ADS_1