
"Tidak!! Ini tidak sah!! Kalian membeli rumah ini tanpa sepengetahuan ku!" Tolak Agus.
"Ini sah Tuan! Bahkan anak buah saya sedang mengurus balik nama atas nama Tuan March ke notaris." Jawab pengacara Philips.
"Tidak!! Tidak!! Ini tidak mungkin!! Saya hanya menggadaikan sertifikat rumah ini pada rentenir, saya bukan menjualnya! Ini penipuan namanya!!"
"Lalu apa bedanya dengan yang kau lakukan pada Julya, hah!! Kau membalik nama-kan semua aset Julya atas nama mu, bukankah itu juga penipuan!!" Balas March menggeram.
"Itu urusan ku dengan perempuan bodoh itu!! Apa urusannya dengan mu!!" Bentak Agus tak suka dirinya dibanding-bandingkan dengan rentenir.
"Jelas itu urusan ku, karena Julya sekarang adalah istri ku! Jadi sudah tugas ku untuk mengambil semua hak istri ku yang sudah kau rebut!!" Balas March dengan tatapan membunuh.
Mata Agus membulat mendengar pengakuan March.
"Sekarang kemasi barang-barang mu dan keluar dari rumah ini!! Jangan membawa satu benda apapun dari rumah ini, karena rumah dan benda yang ada di dalam rumah ini sudah menkadi milikku sekarang! Kau dan wanita mu itu hanya boleh membawa pakaian kalian saja!!" Kata March lagi.
"Tidaaak!!! Aku tidak mau!!" Teriak Desi.
__ADS_1
Sejak tadi ia menguping pembicaraan March dan Agus, berharap kalau kedatangan March untuk membicarakan pekerjaan, tapi ternyata Desi salah. Kedatangan March malah untuk mengusir mereka dari rumah itu.
Sontak ketiga pria yang ada diruang tamu itu pun menoleh ke arah Desi.
March memutar bola matanya malas.
"Saya beri waktu sampai jam dua belas siang nanti, kalau kalian belum pergi juga dari rumah ini jangan salahkan saya kalau saya menggunakan cara kasar!" Ancam March. Ia tidak peduli dengan teriakan histeris Desi.
March pun berdiri dari tempat duduknya dan diikuti pengacara Philips. Meninggalkan Agus yang masih ternganga dengan pengakuan March.
Setelah March dan Philips keluar dari dalam rumah, Desi mendekati Agus yang masih ternganga.
"Aaahhh!!" Teriak Agus kesakitan. Ia pun tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kau memukul ku, ha!" Bentak Agus.
"Salah mu! Siapa suruh kau bermain judi!!!" Bentak Desi.
__ADS_1
"Aku ditipu!! Mereka sengaja membuat ku bermain judi agar menguras uang ku dan ujung-ujungnya menggadaikan sertifikat rumah ini!!" Balas Agus membela diri.
"Cih dasar laki-laki tidak berguna!!" Geram Desi. Desi pun meninggalkan Agus dan berjalan menuju kamar mereka.
Setelah sampai di dalam kamar, Desi langsung mengepak pakaiannya ke dalam koper.
Tak lama Agus pun masuk ke dalam kamar.
"Mau kemana kau?" Tanya Agus.
"Mau kemana lagi, yah keluar lah dari rumah ini! Untung saja aku tidak memakai mu sebagai manager ku, kalau tidak, nasib ku akan sama seperti Julya!" Jawab Desi.
"Tidak!! Kau tidak boleh meninggalkan ku!! Demi kau aku meninggalkan Julya dan mengambil semua harta Julya, tapi kenapa sekarang kau meninggalkan ku? Tidak! Aku mohon Des, jangan tinggalkan aku." Mohon Agus sambil memeluk Desi dari belakang.
"Minggir kau!! Dasar laki-laki mokondo!!" Umpat Desi sambil mendorong Agus hingga pelukan Agus terlepas dari tubuhnya.
"Sekarang kau sudah tidak punya apa-apa lagi, kau pikir aku mau hidup dengan laki-laki miskin!!" Ejek Desi lagi.
__ADS_1
Mendengar ejekan yang Desi berikan padanya, rahang Agus mengeras, tangannya mengepal karena emosi.
Bersambung...