Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
# 55


__ADS_3

Neon tercengang mendengar pengakuan Novi.


"Bahkan sampai sekarang pun, kalau saya pulang lewat dari jam sebelas malam, ibu tiri saya masih melakukan itu." Kata Novi lagi.


"Jadi itu alasannya kenapa kau bersikeras ingin pulang kerumah disaat keadaan mu setengah mabuk?"


Novi menganggukkan kepalanya.


"Sudah berapa kali Ibu tiri mu melakukan tindakan sadis itu?"


"Setelah malam itu baru satu kali." Jawab Novi.


"Kenapa tidak melapor ke polisi?"


"Sudah. Tapi tidak di proses karena tidak ada bukti dan saksi. Kalau mau mendapat bukti, saya harus melakukan visum. Dan saya tidak punya uang untuk visum." Jawab Novi.


Neon menghela nafasnya kasar. Ia tak menyangka jalan hidup yang Novi lalui begitu berat. Seandainya dirinya lebih cepat bertemu dengan Novi. Mungkin saat ini bukan gagang rotan yang menikmati keperawanan Novi.


Neon kembali memeluk tubuh Novi.


"Aku akan pastikan Ibu tiri mu akan membayar semua kejahatannya pada mu." Geram Neon dengan sorot mata emosi.


"Sekarang kamu beristirahatlah. Urusan besok, itu urusan ku." Kata Neon sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Novi.


Novi menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Neon pun turun dari atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin menyalurkan sendiri hasratnya, karena tidak mungkin ia meneruskan kegiatan panas tadi disaat Neon tahu, mood Novi sudah amburadul.


*****


Apartemen March pukul satu dini hari.


Disaat Neon, Nenek Julya dan Novi sedang bersenang-senang di lounge hotel. Ada March dan Julya yang sedang perang dingin karena Julya yang sensi sebelum mandi tadi.


Rencana awal yang sudah disusun pun gagal begitu saja karena Julya yang tak kunjung berhenti sensi. Dan akhirnya mereka hanya tertidur.


"Eugh..." Julya melenguh. Lalu mengerjapkan matanya.


"Haus." Lirih Julya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


Julya melihat nakas yang ada disebelahnya, tak ada gelas disana.


Julya pun menyibakkan selimutnya lalu menurunkan kakinya dan mengubah posisinya menjadi duduk. Setelah itu Julya pun berdiri dan berjalan keluar dari kamar menuju lantai bawah.


Sesampainya dilantai bawah, Julya berjalan menuju dapur. Ia mengambil gelas dan mengisi gelasnya dengan air minum dari dispenser. Julya pun menenggak air minum itu sampai tandas.


Kriyyyuuuk..Bunyi suara perut Julya.


Haus hilang, lapar datang.


"Laper lagi." Lirih Julya sambil memegang perutnya. Julya pun berjalan menuju lemari pendingin.

__ADS_1


Ia membuka lemari pendingin itu dan mencari apa saja yang bisa ia makan untuk mengganjal perutnya. Hanya ada brownies disana, Julya pun mengeluarkan brownies itu dari dalam lemari pendingin.


"Kayaknya masih ada ice-cream deh." Gumam Julya lalu membuka lemari pendingin bagian atas. Dan benar saja, masih ada satu kotak berukuran sedang disana. Julya juga mengeluarkan ice-cream itu.


Dengan brownies dan ice-cream ditangannya, Julya pun berjalan menuju meja makan.


Sesampainya di meja makan, Julya membuka kotak ice-cream dan kotak brownies lalu mengambil cangkir dan sendok yang tersedia di meja makan itu. Ia memotong brownies terlebih dahulu dengan ukuran sedang lalu memasukkannya ke dalam cangkir setelah itu menyendokkan ice-cream dengan ukuran besar lalu memasukkannya kedalam cangkir. Julya pun mengaduk ice-cream dan brownies. Dan setelah tercampur sempurna, barulah Julya menyendokkan perpaduan ice-cream dan brownies itu.


"Mmm.. yummy.." ucap Julya saat perpaduan ice-cream dan brownies itu sampai di lidahnya.


"Lebih yummy lagi kalau lidah aku yang nyendokkin." Ucap March tiba-tiba.


Sontak Julya pun menoleh kearah sumber suara. Tak lama ia memutar bola matanya malas.


"Masih ngambek?" Tanya March sambil berjalan mendekati Julya.


Julya diam tak menjawab. Ia malah asyik menikmati makanannya.


Melihat Julya yang masih ketus, March pun memeluk Julya dari belakang.


"Aku minta maaf kalau aku tadi salah bicara." Bisik March.


"Minggir kau!!!" Balas Julya ketus sambil berusaha melepaskan tangan March yang melingkar di pinggangnya.


Namun March malah makin mengencangkan pelukannya di pinggang Julya.

__ADS_1


"Sudahi ngambek mu baby, mari kita mulai permainan kita." Bisik March lagi.


Bersambung...


__ADS_2