
Setengah jam kemudian.
"Aaargh..." Erangan panjang keluar dari mulut March setelah dirinya sampai di puncak kenikmatan, menyusul Julya yang sudah sampai terlebih dahulu disana.
March pun ambruk seketika di atas tubuh Julya begitu semua cairannya keluar semua.
"Minggir." Julya mendorong tubuh March hingga tubuh nya dan tubuh March tidak lagi bergem*petan. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Julya pun menurunkan kakinya ke lantai dan berjalan mencari celana March untuk mengambil kunci kamarnya dari dalam celana itu.
Setelah kunci di tangannya, Julya pun membuka pintu kamarnya. Lalu memungut pakaiannya dan pakaian March.
"Pakai pakaian mu dan cepat keluar dari sini!" Usir Julya sambil melempar pakaian March.
Julya pun hendak berjalan keluar dari kamarnya, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat merasakan ada cairan hangat keluar dari dalam Miss Vigi.
Julya meraba memasukkan tangannya ke balik selimut untuk menyeka cairan apa itu.
"Astaga....!!! Kau tidak memakai pengaman?!" Tanya Julya dengan nada meninggi.
March menggelengkan kepalanya sambil memakai boxernya.
"Breng sek kau!!! Kalau aku hamil bagaimana?!" Bentak Julya.
"Aku tanggung jawab!" Jawab March santai.
__ADS_1
"Gi la kau!! Aku tidak mengenal mu, lalu harus menikah dengan mu hanya karena kesalahan satu malam!! Jangan mimpi! Aku akan meminum pil kontrasepsi agar tidak hamil anak mu!!" Balas Julya.
"Enak saja! Kalau kau hamil, itu anak pertama ku, jadi jangan coba-coba kau meminum pil kontrasepsi." Ancam March.
"Kau pikir ini anak kedua ku!! Kau tidak berhak mengatur ku, kau bukan siapa-siapa ku apalagi suami ku!! Sekarang cepat kau keluar! Dan aku harap ini yang terakhir kalinya kita bertemu dan melakukan hal menjijikkan ini!"
"Apa kau bilang? Menjijikkan? Menjijikkan tapi kau menikmatinya kan? Jangan munafik Julya, aku tau kau juga merindukan kehangatan ranjang sama seperti ku." Balas March dengan raut wajah tidak suka.
"Terserah kau mau bilang apa!! Cepat keluar!!"
March pun beranjak dari atas ranjang, lalu keluar dari dalam kamar Julya hanya mengenakan boxer.
"Hei, pakai baju mu!!" Teriak Julya sambil mengikuti March dari belakang.
"Aku mau minum!!!" Jawab March.
"Aku suruh kau keluar dari rumah ini!!" Geram Julya.
"Apa begini cara mu menyambut tamu? Sudah ku puaskan, tapi minum pun tidak kau suguhkan. Aku haus Julya, tolong berikan aku minum." Ucap March.
"Haish!!!" Geram Julya sambil mengepalkan tinjunya ke udara yang ada di hadapan March.
"Tunggu disitu, biar ku ambilkan kau minum." Jawab Julya.
Dengan selimut yang masih melilit di tubuhnya, Julya pun berjalan ke dapur dan mengambil minum untuk March.
__ADS_1
Tak lama Julya pun kembali ke ruang tengah dengan segelas air putih di tangannya.
"Ini." Julya menyodorkan segelas air putih ke hadapan March yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah.
"Terimakasih." Balas March sambil mengambil gelas dari tangan Julya dan mengerlingkan sebelah matanya pada Julya.
"Cih.." decih Julya sambil membuang wajahnya ke arah lain.
Glek. Glek. Glek. Dengan satu tarikan nafas, March menghabiskan satu gelas air putih yang Julya berikan, lalu meletakkan gelas kosong itu di meja yang ada di hadapannya.
"Sekarang kau keluar dari rumah ini." Usir Julya lagi.
"Kenapa kau buru-buru sekali? Apa kau tidak ingin ada ronde kedua, ketiga, atau keempat bahkan kelima?" Tanya March.
"Gi la kau!!" Balas Julya.
"Cepat keluar!!" Teriak Julya.
"Ssst.. jangan berteriak Julya. Kau hanya perlu berteriak disaat kita diatas ranjang." Balas March sambil mengerlingkan matanya genit.
"Kau!!!!!" Julya yang geram pun hendak memukul March. Tapi baru juga tangan Julya di udara, March sudah menangkap tangan mungil itu lalu menarik Julya hingga Julya jatuh di pangkuannya.
"Lepas.. lepas!!!" Ronta Julya.
"Baik lah aku akan melepaskannya." Jawab March dengan senyum licik.
__ADS_1
Bukan tangan Julya yang ia lepaskan, melainkan selimut yang melilit di tubuh Julya lah yang March lepaskan.
Bersambung...