
"Gak Shell, aku akan tetap tanggung jawab, aku akan ngomong sama orangtua kamu tentang apa yang sudah kita lakukan tadi malam. Aku akan nikahin kamu."
"Gak usah Sat, kamu gak perlu repot-repot melakukan itu. Aku tahu kamu masih belum mau terikat pernikahan dan aku juga tahu kalau aku bukan lah wanita yang bisa membuat jantung mu berdebar. Jadi aku tidak mau mengikat mu dalam ikatan pernikahan."
"Kok kamu ngomongnya sesantai itu sih Shell? Kesucian kamu udah aku ambil loh Shell, kalau kamu gak mau aku nikahin, aku sebagai laki-laki yang ngerasa jadi pecundang karena gak bertanggung jawab karena sudah merenggut kesucian kamu."
"Kamu gak merenggut Sat, kan aku yang memberikannya dengan sukarela. Lagi pula aku ini bule, cinta satu malam bagi kami itu biasa. Dan kebetulan laki-laki yang Daddy mau jodohkan dengan aku juga bule, jadi aku yakin dia tidak akan mempermasalahkan tentang keperawanan aku. Jadi kamu santai saja."
Rahang Satria mengeras, entah kenapa dia sangat emosi mendengar kalau Mishella sudah di jodohkan dengan laki-laki lain.
"Lalu bagaimana kalau kamu hamil? Di ronde ke tiga aku lupa mengeluarkannya dari dalam rahim mu."
"Nanti pulang dari sini aku akan minum pil kb." Jawab Mishella santai.
Mendengar itu makin emosi saja Satria.
Satria langsung menarik tubuh Mishella dan membaringkannya di ranjang lalu menindih tubuh Mishella.
"Tidak akan aku biarkan kamu menggagalkan tumbuh kembang benih-benih ku di dalam rahim mu. Aku akan terus menyirami-nya setiap hari, seperti makan obat, sehari tiga kali." Ucap Satria lalu mencium rakus bibir Mishella.
Mishella meronta, tapi itu hanya sebentar saja. Karena tangan dan bibir Satria yang sangat profesional mampu membuat tubuh Mishella dengan mudahnya terbuai dengan sengatan-sengatan yang ia berikan.
Dan pagi itu mereka mengulang kegiatan panas mereka semalam dengan. Pagi yang sangat bergairah untuk pasangan yang belum menikah.
__ADS_1
*
*
*
Vila.
Pukul 11.00
Mishella dan Satria baru kembali ke vila.
"Darimana kalian?" Tanya Rai yang sejak tadi sudah menunggu Satria dan Mishella di ruang tamu. Suaranya sudah meninggi karena marah. Ia marah karena baru tahu kalau ternyata Satria dan Mishella tidak pulang ke vila semalam.
"Dari mencari tempat untuk meresmikan hubungan kami." Jawab Satria seraya menggenggam tangan Mishella.
"Apa setelah menikah kau menjadi tuli, hah?!" Ejek Satria.
"Bukan tuli, tapi suara erangan istri ku yang berkali-kali masih sangat terngiang-ngiang di otak ku, makanya aku tidak bisa mendengar omong kosong mu itu!!" Balas Rai tak mau kalah.
"Cih!!! Kau pikir kau saja yang masih terngiang-ngiang dengan suara erangan!!" Decih Satria pelan namun masih bisa di dengar Rai.
"Apa kau bilang barusan?!" Tanya Rai semakin curiga.
__ADS_1
"Sudah lah, tidak ada artinya bicara dengan mu! Intinya aku dan Mishella akan segera menikah. Dan aku tidak perlu persetujuan dari mu!" Jawab Satria.
Mata Rai membulat mendengar kata-kata Satria.
"Siapa yang segera menikah?" Tiba-tiba suara Mommy Alea dari arah pintu.
Keluarga Wilson dan Keluarga Alfian kembali datang ke vila itu.
Sontak Mishella, Satria dan Rai menoleh ke arah pintu.
"Mommy..." Lirih Mishella lalu berjalan menghampiri sang Mommy.
"Tadi Mommy dengar ada yang akan segera menikah. Siapa yang akan segera menikah?" Tanya Mommy Alea sekali lagi.
"Mmm... Itu..." Mishella ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Mommy Alea.
"Bibi, saya akan menikahi Mishella, bisakah Bibi memanggil pemuka agama lagi kesini sekarang?" Ucap Satria dengan gentle.
Mata Mommy Alea membulat, mulutnya juga menganga lebar.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...