
"Mishea!!!" Teriak teman wanita itu.
Sontak wanita itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh kearah teman yang memanggilnya.
Melihat temannya memanggilnya, Mishea pun mengurungkan niatnya menghampiri Rai. Ia pun langsung menyusul teman yang memanggilnya tadi.
Sepeninggal Mishea, Rai mengernyitkan keningnya. Ia seperti sangat familiar dengan nama Mishea.
"Mishea? Sepertinya nama itu sangat tidak asing di telinga ku!" Gumam Rai.
Rai terus mengajak otaknya berpikir untuk mengingat-ingat nama Mishea. Bahkan sangking seriusnya berpikir, Rai sampai tidak sadar kalau Elisa kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Ekhem." Elisa berdehem.
Dan deheman Elisa berhasil membuyarkan pikiran Rai.
"Hai. Maaf lama menunggu. Aku harus pamit dengan teman-teman ku dulu." Ucap Elisa.
"Tidak pa-pa, tidak masalah." Balas Rai sambil tersenyum kecut.
Entah kenapa hasratnya tadi yang menggebu-gebu ingin berkuda diatas ranjang dengan Elisa drop seketika. Tapi ia juga tidak mau membatalkan acara berkuda dengan Elisa malam ini.
"Ayo." Rai pun menarik pinggang Elisa dan mereka pun berjalan memasuki lift.
Begitu pintu lift tertutup, Rai langsung mendorong Elisa kedinding dan mencium Elisa dengan sangat rakus untuk membangunkan kembali gairahnya.
Elisa pun membalas tak kalah rakusnya dari Rai, bahkan Elisa sampai menaikkan satu kakinya ke pinggang Rai, agar Rai bisa menggesek-gesekkan bagian bawahnya ke bagian bawah-nya.
Namun bukannya hasrat makin membara, justru wajah Mishea yang tadi baru keluar dari dalam lift makin jelas di ingatan Rai.
Sontak Rai pun menghentikan sepihak ciuman panas mereka.
"Tahan Babe ada cctv." Ucap Rai berkilah.
Rai pun menyeka percampuran salivanya dengan saliva Elisa di bibirnya, lalu berdiri tegak menghadap pintu.
__ADS_1
Sama dengan Rai, Elisa pun menyeka sisa saliva yang berseliweran di bibirnya serta membenahi rambut dan rok-nya yang sudah sedikit terangkat.
Ting. Pintu lift terbuka.
Mereka pun keluar dari dalam lift.
"Kemana kau akan membawa ku?" Tanya Elisa sambil mereka melangkah keluar dari gedung hotel.
"Tidak jauh. Ke gedung sebelah." Jawab Rai.
Marrion Hotel memiliki tiga gedung dan gedung yang di tempati Rai tinggal selama di Paris tepat berada di gedung sebelah gedung acara resepsi saat ini.
Sesampainya di teras lobi, Rai meminta petugas parkiran hotel untuk mengambil mobilnya.
Dan tak sampai sepuluh menit, petugas parkir pun datang membawa mobil Rai.
Rai dan Elisa pun masuk kedalam mobil Rai.
Rai pun melajukan mobilnya menuju gedung sebelah.
"Tidak!"
"Lalu kenapa kau bisa menyetir di Paris?"
"Karena aku punya SIM internasional."
"Lalu mobil siapa yang kau pakai ini?"
"Ini mobil fasilitas yang di berikan Tuan Jordhie agar aku bisa leluasa berjalan-jalan di Paris." Jawab Rai.
"Woah..! Memangnya apa hubungan mu dengan Tuan Jordhie sampai-sampai kau diberi fasilitas mobil mewah.
"Tuan Jordhie adalah rekan bisnis Daddy ku." Jawab Rai.
"Oh." Elisa membulatkan mulutnya.
__ADS_1
Tak sampai sepuluh menit, mobil yang Rai kendarai pun sampai di gedung sebelah.
Mereka pun keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki gedung.
*
*
*
Kini Rai dan Elisa sudah berada di dalam unit kamar hotel tempat Rai menginap.
Kamar bertipe suite room tempat Rai menginap ini juga fasilitas yang Tuan Jordhie berikan untuk Rai.
Rai tidak sekamar dengan Satria, karena Satri menginap di kamar sebelah kamarnya.
"Apa kau mau sampanye?" Tawar Rai.
"Boleh." Jawab Elisa.
Rai pun menuangkan sampanye ke dalam gelas untuknya dan untuk Elisa. Dengan dua gelas sampanye ditangannya Rai berjalan mendekati Elisa yang saat ini sedang berdiri dekat jendela sambil menikmati kerlap-kerlip lampu kota Paris.
"Ini." Rai memberikan gelas sampanye pada Elisa.
"Terimakasih." Balas Elisa sambil mengambil gelas itu dari tangan Rai.
Mereka pun menyesap sampanye itu sambil menatap keluar jendela. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Rai, otaknya masih saja memikirkan pemilik nama Mishea itu.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1