Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
# 43


__ADS_3

Julya ambruk seketika dalam pelukan March.


"Sepertinya kau mengeluarkan semua ga*irah mu yang tertahan Julya. Bagaimana, lebih puas kan?" Ucap March.


"Bukan aku saja. Kau juga March!!!" Balas Julya.


Julya pun berdiri dari pangkuan March dan memungut kembali handuknya lalu melilitkannya di tubuhnya.


"Kau ingin mandi lagi?" Tanya March saat melihat Julya berjalan menuju kamar mandi.


Julya menganggukkan kepalanya. Melihat Julya mengangguk, cepat-cepat March berdiri dari tempat duduknya dan dengan langkah panjang menghampiri Julya.


"Kita mandi sama." Ucap March.


"Tidak!! Kau mandi sana di kamar mu!!" Tolak Julya mentah-mentah.


Tapi bukan March namanya kalau menerima penolakan Julya. Tanpa banyak kata, March langsung menggendong tubuh Julya dan membawanya menuju kamar mandi.


Tak perlu di tanya lagi apa yang mereka lakukan di dalam kamar mandi, yang pasti bukan hanya sekedar mandi.


*****


Satu jam kemudian.


Kini mereka sudah berada di meja makan.


"Kenapa wajah mu cemberut begitu?" Tanya March tanpa rasa bersalahnya.

__ADS_1


Julya tak menjawab, ia hanya memutar bola matanya malas sambil menyendokkan makanan ke piringnya.


"Sendokkan aku juga." Pinta March sambil menyodorkan piringnya ke arah Julya.


"Sendok sendiri!" Jawab Julya ketus sambil meletakkan sendok di piring March.


"Calon istri macam apa kau, masa tidak mau menyendokkan makanan di piring calon suaminya." Sindir March.


Julya menghela nafasnya kasar, ia pun mengambil kembali sendok yang tadi ia letakkan di piring March dan menyendokkan makanan ke piring March.


"Makasih calon istri ku." Ucap March.


Julya tidak menjawab atau pun mengeluarkan ekspresi apapun dan fokus pada makanannya.


"Cepat lah makan, setelah ini kita pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan." Ucap March.


"Apa aku harus ikut?"


"Hemh, baiklah." Jawab Julya masih dengan wajah ketus.


"Hei, jangan ketus begitu Julya. Tadi sewaktu di kamar mandi kau menikmatinya." Sindir March. Ia tahu penyebab Julya ketus padanya, itu semua karena March mengeksplor banyak gaya di dalam kamar mandi dan gaya-gaya yang March eksplor membuat pinggang Julya encok.


Julya membulatkan matanya geram.


"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf. Aku hanya ingin mencoba banyak gaya dengan mu. Kalau itu membuat kau tidak nyaman, aku minta maaf." Ucap March mengalah.


"Sebagai bentuk permohonan maaf ku, nanti kau boleh berbelanja sepuas mu. Beli lah semua kebutuhan mu. Pakaian, tas, sepatu, skincare, make-up, pokoknya semua kebutuhan mu. Bagaimana?" Kata March lagi. Entah ini yang dinamakan membujuk atau menyogok.

__ADS_1


Tapi memang dasarnya wanita sangat senang berbelanja apalagi kalau ada yang mentraktir, jelas saja wajah Julya yang ketus tadi sirna entah kemana dan berganti dengan wajah bahagia dan antusias.


"Apa ucapan mu itu bisa ku percaya?" Tanya Julya untuk meyakinkan March.


"Pastinya. Kalau kau tidak percaya, kau saja nanti yang pegang kartu ku." Jawab March.


Makin sumringah saja wajah Julya. Ia pun cepat-cepat menghabiskan makanannya.


Setelah makanan yang di piring mereka habis, Julya dan March pun pergi ke kamar mereka masing-masing untuk mengganti pakaian mereka.


Setelah kurang dari lima belas menit mereka pun keluar dari dalam kamar mereka.


"Mana?" Todong Julya sambil menengadahkan tangannya.


Tau maksud todongan Julya, March pun merogoh saku celana belakangnya dan mengeluarkan dompetnya. Ia membuka dompetnya dan mengeluarkan kartu hitam dari dalam dompetnya itu.


"Wah.. kau punya kartu hitam?" Ucap Julya terpukau saat melihat kartu hitam March.


"Apa baru kali ini kau melihat kartu hitam?" Tanya March balik.


"Tidak sih. Tapi aku tidak menyangka saja kalau kau punya kartu hitam." Jawab Julya.


"Ambil lah, belanja lah sesuka mu nanti." Ucap March.


Dengan gerakan cepat, Julya langsung menyambar kartu hitam dari tangan March.


"Let's go baby!!!" Teriak Julya kesenangan. Ia pun berjalan terlebih dulu dari March.

__ADS_1


Melihat tingkah Julya itu, March tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Tapi otaknya tidak berpikir kalau Julya adalah perempuan matrealistis. Karena menyukai uang itu adalah hal yang realistis.


Bersambung...


__ADS_2